BERBAGI ILMU DAN POTENSI LEWAT GAGASAN BERSINERGI!

The Power of G-Spot

By Lusius Sinurat - 19.5.12 No Comments
Abstrak


Melalui penelusuran “the power of G-Spot” kita digiiring pada kesadaran akan dimensi holistik dari tubuh manusia, yang serentak tampil megah sebagai realitas otonom dan keberadaaannya selalu terkati erat dengan pikiran, subyek, dan dunia. Dengan kesadaran ini kita dimampukan untuk memperlakukan tubuh kita secara kreatif dan artistik. 


*****


Intermesso


Pada saat seminar “the Power of G-Spot” ini pertama kali di-sounding, para sahabat, teman, dan rekan kerja tertawa dan sedikit mesum. Mereka rada terangsang dengan tema ini. Tentu saja karena mereka sudah berusia di atas 18 tahun loh hehehe. Enggak mengherankan juga sih, soalnya terlalu lama kita mereduksi terminologi “G-Spot”melulu sebagai titik rangsang yang ujung-unjungnya akan menggiring seseorang pada kepuasan seksual. Menakjubkan juga reaksi teman-teman di FB yang jauh lebih tertarik dengan desain “erotis” di brosur seminar ini yang dipajang mulai di Fesbuk CFDC Misericordia, FB personal dari semua panitia, atau poster yang ditempel di papan pengumuman kampus, atau di tempat lain yang sempat disatroni panitia seminar ini kepada orang-orang yang lalulalang di seputar mal dan toko buku. Para calon peserta menantang pembicara agar seminar ini juga “bersedia” menampilkan “praktikum” sebagaimana biasanya tercatut dalam program-program “Sex education”. Menarik! Ya, sungguh menarik mengamati reaksi dari teman-teman tentang tema ini. Benar bahwa tema “the power of G-Spot memang menarik untuk dibicarakan dan didiskusikan. Tapi sori, Gan, selain karena saya bukan seksolog kondang sekaliber dr. Boyke atau dr. L. Naek Tobing, juga sejak awal saya telah jujur mengatakan bahwa yang kita lakukan dalam seminar ini bukan pelajaran seks, pun bukan tentang teknik bercinta teranyar a la Kamasutra yang mashyur itu. Yang akan saya tampilkan dalam seminar ini tak lain adalah refleksi atas nilai filosofis dari gerak-gerik dari tubuh manusia yang sejak awal diciptakan su-ci alias suka-(ber)cinta. Sok atuh, monggo diikuti dengan serius ya....hehehe....


1. G-SPOT SEBAGAI LINGKAR PROMOSI DIRI

G-Spot adalah titik sensitif di bagian organ intim. Kenikmatan puncak saat bercinta dapat dirasakan ketika Anda dan pasangan menemukan titik ini. Terminologi G-Spot sendiri dipopulerkan oleh dr Ernest Grafenberg pada tahun 1950. Tak heran bila istilah yang digunakan adalah G-Spot alias Titik Grafenberg. Menurut Grafenberg G-Spot adalah daerah berbentuk kacang di dinding vagina yang akan menjamin orgasme perempuan segera setelah dirangsang. Ukuran dan pengembangan dari spons uretra dapat bervariasi, maka tidak ada dua wanita akan menanggapi rangsangan G-Spot yang persis sama. G-Spot sekali dirangsang memberikan kenikmatan seorang wanita luar biasa dan merupakan titik pusat dari gairah seksual. 

1.1. Keberadaan G-Spot dan Lokasinya
Keberadaan G-Spot serta lokasinya, telah banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi. Grafenberg sendiri menunjuk daerah sensitif ini sebagai titik di mana uretra (saluran yang menyalurkan air seni dari kantung kemih) berada paling dekat dengan puncak dinding vagina.[1] Menurut Dr. Ernest Grafenberg orgasme yang dihasilkan oleh G-Spot menimbulkan efek yang jauh lebih dahsyat ketimbang orgasme hasil stimulasi pada klitoris. Kalau pada orgasme biasa (klitoral) saja mampu membuat perempuan menggeliat-geliat dan hilang kesadaran, orgasme yang dihasilkan G-Spot jauh lebih dahsyat. Konon orgasme akibat terstimulasinya titik G membuat perasaan seperti "melayang ke awan atau terbang ke langit".[2]

1.2. Menemukan G-Spot di dalam Tubuh
Untuk mencari G-Spot baik Anda dapat melakukannya sendiri atau mengambil bantuan dari pasangan Anda. Lokasi G-Spot bersama tidak hanya bersenang-senang dengan hal itu akan membantu Anda mencapai puncak kepuasan seksual. Anda harus dapat membimbing pasangan Anda dan harus terbuka untuk apa yang dirasa baik dan bagaimana pasangan Anda seharusnya merangsang G-Spot Anda. Jadi, mulai dengan berciuman dan membelai, membelai dan menggoda satu sama lain sampai kalian berdua tidak tahan lagi dan penetrasi yang diperlukan. 
1.2.1 Lokasi G-Spot Pada Perempuan
Meskipun lokasinya berbeda-beda, G-Spot biasanya terletak di tengah antara tulang pinggul dan serviks, sekitar 4,5 sentimeter ke dalam vagina. Para peneliti telah menemukan bahwa pada beberapa wanita rasa sensitifnya lebih banyak sepanjang dinding vagina bagian atas, dan tidak hanya pada satu titik. [3] Pada beberapa wanita rasa sensitifnya lebih banyak sepanjang dinding vagina bagian atas, dan tidak hanya pada satu titik.Karena G-Spot berada dibawah permukaan dinding vagina, maka harus dirangsang secara tidak langsung melalui dinding vagina. Namun keberadaan G-Spot serta lokasinya, telah banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi. Grafenberg sendiri menunjuk daerah sensitif ini sebagai titik di mana uretra (saluran yang menyalurkan air seni dari kantung kemih) berada paling dekat dengan puncak dinding organ intim.
 1.2.2 Lokasi G-Spot Pada Laki-laki
Banyak wanita yang menduga titik nikmat pria berada pada penisnya, pangkal atau kepala, atau skortum. Memang tidak salah, tapi ada lagi titik 'ledak' dasyat pria. Bagian paling istimewa dari organ genital pria sebenarnya ada pada kelenjar prostat yang terletak persis tepat di bawah saluran kemih. Elusan lembut saja di daerah ini dapat membangkitkan sensasi yang luar biasa. Bukan itu saja, stimulan di bagian tersebut bahkan dapat memperpanjang ereksi. Perlu Anda tahu juga, otot panggul pria sama elastisnya seperti wanita. Jadi, pada saat pria melakukan penetrasi, maka akan terjadi gerakan mengencang dan mengendur yang memungkinkan kalenjar prostat terjepit dan menimbulkan sensasi bagi si pria.[4] Keadaan inilah yang beberapa menit kemudian akan membawa pria masuk pada fase ejakulasi.


2. MENGGIRING G-SPOT MENJADI AURA KREATIF


G-Spot akan mudah ditemukan dengan bantuan mitra sementara perempuan berbaring di perutnya dengan pinggul sedikit ditinggikan. Itu berarti pengetahuan (pikiran) akan tubuh dan dunia seksual hendaknya erat terkait dengan subyek yang terlibat di dalamnya. Sebab, memperlakukan G-Spot sama dengan memperlakukan tubuh kita sendiri. Kontrol positif atas semua titik rangsang yang ada dalam tubuh kita sudah semestinya diperlakukan dalam konteks kebahagiaan hidup kita. Trik memperlakukan G-Spot dalam posisi bercinta oleh karenanya harus dilakukan dalam konteks perkawinan, sebab kemurnian perkawinan merupakan penggabungan seksualitas di dalam kepribadian seseorang, dan ini melibatkan pengendalian diri.[5] Pengendalian diri yang dimaksud ialah pengendalian atas tubuh kita yang suci, tubuh yang bersatu padu dengan jiwa dan roh; wahana di mana kita berlaku sebagai subyek yang mandiri, yakni sosok ciptaan yang mulia. Pada titik inilah saya tak akan mengarahkan diskusi kita ini menjadi diskusi yang bertujuan mencari cara memperoleh kenikmatan diri. 



3. G-SPOT DALAM TUBUH YANG BERGAIRAH


Mari kita perdalama tema G-Spot ini sebagai sarana untuk memahami dimensi kebertubuhan kita. Disiplin ilmu Filsafat akan saya jadikan sebagai medium untuk menemukan banyak asumsi, konsep, dan paradigma yang lahir dalam wacana pikiran-tubuh, mulai. Harus diakui bahwa hasrat untuk mengetahui misteri eksistensi manusia di dunia merupakan akar lahirnya ilmu fisafat. Demikianlah konsep tubuh dalam pandangan filsafat telah digodok sejak filsafat Yunani Kuno hingga filsafat kontemporer, mulai dari Plato hingga Maurice Merleau-Ponty.  Menurut Merleau-Ponty[6], manusia adalah tubuh sekaligus jiwa.[7] Tanpa jiwa ia bukanlah manusia, melainkan hanya mesin biologis. Tanpa tubuh manusia juga tidak menjadi manusia, karena ia hanya entitas imaterial yang mengambang tanpa basis empiris. Dengan demikian tubuh merupakan aspek penting bagi manusia, baik secara biologis (karena tubuh menunjang kehidupan manusia), maupun secara filosofis (sebagai medium untuk menyentuh dunia dan merealisasikan dirinya sendiri). Maka, untuk menjadi otentik, orang harus menghargai dan memahami tubuhnya. Tanpa pemahaman tidak akan ada penghargaan. Dan tanpa penghargaan tidak akan ada penghayatan. Di titik ini penghayatan akan tubuh kita sendiri sangatlah berperan di dalam pengenalan diri manusia secara keseluruhan, yang merupakan jalan untuk menuju otentisitas diri kita.[8]

“Tubuh manusia bukanlah sesuatu yang imaterial, melainkan adalah suatu realitas otonom yang memang keberadaannya selalu berada dalam kaitan dengan pikiran, subyek, dan dunia,” demikian ditegaskan Merleau-Ponty. Merleau-Ponty berusaha mendekati realitas dengan pertama-tama mempelajari persepsi manusia. Mengapa? Karena segala sesuatu yang konkret pertama-tama haruslah dapat disentuh oleh pengalaman manusia, walaupun tidak harus pengalaman empiris. Benda tersebut haruslah dapat dikenali, baik bentuknya, warnanya, ukuran, dan sebagainya. Disitulah pentingnya peran persepsi di dalam proses pengenalan realitas.



4. TUBUH SEBAGAI SUBYEK YANG MEMPERSEPSI


Merleau-Ponty berpendapat bahwa obyek secara mandiri memiliki ukuran dan bentuknya sendiri. Obyek tersebut tampil di hadapan kita bagaikan lukisan di dalam sebuah galeri, yang tentunya mengandaikan beberapa hal, seperti jarak, cahaya, arah, dan sebagainya. Semua unsur itu akan membuat kita mampu melihat dan memahami benda secara maksimal (maximum visibility). Benda tersebut dapat dipersepsi secara sempurna. Di dalam persepsi warna, ukuran, dan bentuk tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang mengambang tanpa konteks, melainkan sebagai ekspresi dari obyek. Inilah artikulasi penuh dari obyek, yakni ketika obyek menampilkan dirinya kepada kita dengan semua unsur yang membentuknya. Pencerapan atas unsur dan obyek itulah yang membentuk pengetahuan manusia tentang dunia.[9] 

Dalam konteks pembahasan G-Spot atau titik-titik rangsang seksual dalam diri kita, saya mengajak Anda masuk dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang dimensi kebertubuhan kita. Ya, tentang Tubuh yang terangsang bila disentuh, tetapi serentak akan terangsang pula bila tubuh selalu menyentuh realitas diri, entah sebagai subyek yang mandiri, entah sebagai bagian tak terpisahkan dari dunia. Hal ini sejalan dengan Merleau-Ponty yang mengajukan pendapat secara konsisten, bahwa kesatuan tubuh manusia yang mempersepsi mendapatkan kepenuhannya dengan menyentuh dan mempersepsi dunia.[10] 



5. TUBUH DAN DUNIA : DUA ENTITAS YANG TAK TERPISAHKAN


 Tubuh dan dunia adalah dua entitas yang tak terpisahkan. Kepenuhan yang satu diperoleh dengan menyentuh yang lain. Tubuh menjadi utuh dengan menyentuh dunia. Sebaliknya dunia menjadi dapat dipersepsi dengan menyentuh tubuh. Memaksimalkan fungsi dari spot-spot dalam tubuh kita, khsususnya titik-titik rangsang seksual menjadi stimulan bagi dimensi positif dan kreatif dalam tubuh kita merupakan anggunan bagi masa depan hidup yang lebih baik di masa mendatang. Tak mudah, tapi juga bukan mustahil mengalihkan (atau dalam bahasa psikologi disebut mensublimasi) aliran birahi dan nafsu seksual tadi menjadi hasrat positif yang membangun hidup kita. Pada titik ini, saya ingin mengajak Anda mengubah persepsi tentang G-Spot sebagai titik rangsang seksual menjadi titik rangsang kreatif. Atau sejalan dengan Merleau-Ponty, kita harus mengubah persepsi kita tentang (fungsi-fungsi) tubuh kita: “Jika saya melihat foto gadis telanjang di hadapan saya, maka tubuh saya akan mempersepsinya sebagai foto gadis telanjang. Jika tubuh saya bisa mempersepsinya, maka foto gadis telanjang itu pastilah ada. Jadi foto gadis telanjang bukanlah suatu ilusi. Namun foto gadis telanjang juga bukanlah suatu entitas mandiri yang lepas begitu saja dari pikiran manusia. Keberadaan foto gadis telanjang sangatlah tergantung pada keberadaan manusia yang mempersepsinya.”

Proses persepsi bisa terjadi, karena manusia memilik tubuh. Dengan demikian pikiran manusia, tubuhnya, dan gelas di dalam realitas adalah satu kesatuan perseptual yang memungkinkan terciptanya pengetahuan. Kesadaran perseptual mengandaikan adanya tubuh, dan tubuh merupakan medium utama manusia untuk bersentuhan dengan realitas. Tubuh adalah entitas pasif yang sekaligus aktif. Tubuh merupakan medium manusia untuk “mempunyai dunia”. Dengan kata lain manusia mendunia melalui tubuhnya. Persepsi manusia akan dunia bukanlah persepsi terlepas tanpa konteks, melainkan suatu fenomena menubuh (bodily phenomenon). Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Sebab bila tubuh adalah melulu material, maka hasrat pemuasan seksual yang tak terkendali akan segera diproklmirkan sebagai sesuatu yang sah untuk dipraktikkan, bahkan tanpa memandang efek yang terjadi di kemudian hari dengan tubuh kita. Jadi, mengubah persepsi tentang tubuh berarti mencarai titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain, sebab persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia.

Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman eksternal, bahkan kepuasan seksual sekalipun; akan tetapi kedua konsep (pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal) harus dibangun di atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty, keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh. Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia. Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11] Pada titik ini, saya ingin mengajak Anda mengubah persepsi tentang G-Spot sebagai titik rangsang seksual menjadi titik rangsang kreatif. Atau sejalan dengan Merleau-Ponty, kita harus mengubah persepsi kita tentang (fungsi-fungsi) tubuh kita: “Jika saya melihat foto gadis telanjang di hadapan saya, maka tubuh saya akan mempersepsinya sebagai foto gadis telanjang. Jika tubuh saya bisa mempersepsinya, maka foto gadis telanjang itu pastilah ada. Jadi foto gadis telanjang bukanlah suatu ilusi. Namun foto gadis telanjang juga bukanlah suatu entitas mandiri yang lepas begitu saja dari pikiran manusia. Keberadaan foto gadis telanjang sangatlah tergantung pada keberadaan manusia yang mempersepsinya.”

Proses persepsi bisa terjadi, karena manusia memilik tubuh. Dengan demikian pikiran manusia, tubuhnya, dan gelas di dalam realitas adalah satu kesatuan perseptual yang memungkinkan terciptanya pengetahuan. Kesadaran perseptual mengandaikan adanya tubuh, dan tubuh merupakan medium utama manusia untuk bersentuhan dengan realitas. Tubuh adalah entitas pasif yang sekaligus aktif. Tubuh merupakan medium manusia untuk “mempunyai dunia”. Dengan kata lain manusia mendunia melalui tubuhnya. Persepsi manusia akan dunia bukanlah persepsi terlepas tanpa konteks, melainkan suatu fenomena menubuh (bodily phenomenon). Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Sebab bila tubuh adalah melulu material, maka hasrat pemuasan seksual yang tak terkendali akan segera diproklmirkan sebagai sesuatu yang sah untuk dipraktikkan, bahkan tanpa memandang efek yang terjadi di kemudian hari dengan tubuh kita. Jadi, mengubah persepsi tentang tubuh berarti mencarai titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain, sebab persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia.

Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman eksternal, bahkan kepuasan seksual sekalipun; akan tetapi kedua konsep (pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal) harus dibangun di atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty, keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh. Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia. Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11]

Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Sebab bila tubuh adalah melulu material, maka hasrat pemuasan seksual yang tak terkendali akan segera diproklmirkan sebagai sesuatu yang sah untuk dipraktikkan, bahkan tanpa memandang efek yang terjadi di kemudian hari dengan tubuh kita. Jadi, mengubah persepsi tentang tubuh berarti mencarai titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain, sebab persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia. Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman eksternal, bahkan kepuasan seksual sekalipun; akan tetapi kedua konsep (pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal) harus dibangun di atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty, keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh. Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia.

Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11] Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11]



6. MEMPERSEPSI FENOMENA TUBUH MANUSIA


Pengalaman akan dunia, baik subyektif ataupun obyektif, bukanlah melulu terkait dengan pikiran dan kesadaran saja, tetapi juga dengan tubuh. Kita merasa sakit pertama-tama dengan tubuh kita, baru pikiran kita kemudian mendefinisikannya. Disini pikiran, tubuh, dan realitas, yakni rasa sakit atau rasa nimmat saling tumpang tindih dan tak terpisahkan. Begitu pula ketika kita melihat sesuatu. Kita melihat dengan mata, tetapi pikiranlah yang menangkap sensasi warna dan bentuk. Di titik ini pikiran, tubuh, yakni organ mata, dan realitas saling jalin menjalin. Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Sebab bila tubuh adalah melulu material, maka hasrat pemuasan seksual yang tak terkendali akan segera diproklmirkan sebagai sesuatu yang sah untuk dipraktikkan, bahkan tanpa memandang efek yang terjadi di kemudian hari dengan tubuh kita. Jadi, mengubah persepsi tentang tubuh berarti mencarai titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain, sebab persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia.

Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman eksternal, bahkan kepuasan seksual sekalipun; akan tetapi kedua konsep (pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal) harus dibangun di atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty, keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh. Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia. Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11]

Pada titik ini, saya ingin mengajak Anda mengubah persepsi tentang G-Spot sebagai titik rangsang seksual menjadi titik rangsang kreatif. Atau sejalan dengan Merleau-Ponty, kita harus mengubah persepsi kita tentang (fungsi-fungsi) tubuh kita: “Jika saya melihat foto gadis telanjang di hadapan saya, maka tubuh saya akan mempersepsinya sebagai foto gadis telanjang. Jika tubuh saya bisa mempersepsinya, maka foto gadis telanjang itu pastilah ada. Jadi foto gadis telanjang bukanlah suatu ilusi. Namun foto gadis telanjang juga bukanlah suatu entitas mandiri yang lepas begitu saja dari pikiran manusia. Keberadaan foto gadis telanjang sangatlah tergantung pada keberadaan manusia yang mempersepsinya.”



7. TUBUH DAN PROSES PERSEPSI 


Proses persepsi bisa terjadi, karena manusia memilik tubuh. Dengan demikian pikiran manusia, tubuhnya, dan gelas di dalam realitas adalah satu kesatuan perseptual yang memungkinkan terciptanya pengetahuan. Kesadaran perseptual mengandaikan adanya tubuh, dan tubuh merupakan medium utama manusia untuk bersentuhan dengan realitas. Tubuh adalah entitas pasif yang sekaligus aktif. Tubuh merupakan medium manusia untuk “mempunyai dunia”. Dengan kata lain manusia mendunia melalui tubuhnya. Persepsi manusia akan dunia bukanlah persepsi terlepas tanpa konteks, melainkan suatu fenomena menubuh (bodily phenomenon). Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Sebab bila tubuh adalah melulu material, maka hasrat pemuasan seksual yang tak terkendali akan segera diproklmirkan sebagai sesuatu yang sah untuk dipraktikkan, bahkan tanpa memandang efek yang terjadi di kemudian hari dengan tubuh kita. Jadi, mengubah persepsi tentang tubuh berarti mencarai titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain, sebab persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia.

Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman eksternal, bahkan kepuasan seksual sekalipun; akan tetapi kedua konsep (pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal) harus dibangun di atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty, keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh. Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia. Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11]

Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Sebab bila tubuh adalah melulu material, maka hasrat pemuasan seksual yang tak terkendali akan segera diproklmirkan sebagai sesuatu yang sah untuk dipraktikkan, bahkan tanpa memandang efek yang terjadi di kemudian hari dengan tubuh kita. Jadi, mengubah persepsi tentang tubuh berarti mencarai titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain, sebab persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia. Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman eksternal, bahkan kepuasan seksual sekalipun; akan tetapi kedua konsep (pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal) harus dibangun di atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty, keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh. Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia.

Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11] Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi” adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.” Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[11]



8. MEMPERSEPSI FENOMENA TUBUH MANUSIA


Artinya pengalaman kita akan dunia, baik subyektif ataupun obyektif, bukanlah melulu terkait dengan pikiran dan kesadaran saja, tetapi juga dengan tubuh. Kita merasa sakit pertama-tama dengan tubuh kita, baru pikiran kita kemudian mendefinisikannya. Disini pikiran, tubuh, dan realitas, yakni rasa sakit atau rasa nimmat saling tumpang tindih dan tak terpisahkan. Begitu pula ketika kita melihat sesuatu. Kita melihat dengan mata, tetapi pikiranlah yang menangkap sensasi warna dan bentuk. Di titik ini pikiran, tubuh, yakni organ mata, dan realitas saling jalin menjalin. Bila orang mempersepsi G-Spot melulu sebagai noktah-noktah kepuasan seksual, maka itu berarti akan mengarahkan seluruh kedirian kita pada usaha mencari kenikmatan (seksual) belaka. Mengapa ? Relasi antara tubuh dan persepsi bukanlah relasi sebab akibat. Tubuh tidak mengakibatkan persepsi, ataupun sebaliknya. Setiap orang memiliki pengetahuan prareflektif di dalam diri mereka. Pengetahuan pra reflektif adalah pengetahuan yang muncul dari pengalaman langsung, dan tidak diolah dulu menjadi sebuah konsep. Pengetahuan reflektif ini muncul melalui persentuhan tubuh dengan dunia. Jadi pengetahuan ini tidak muncul sebagai akibat dari persentuhan, tetapi bersamaan dengan persentuhan itu. Persepsi adalah suatu fenomena menubuh manusia. Oleh karena itu persepsi tidaklah dapat dimengerti terlepas dari tubuh manusia yang material dan bersentuhan langsung dengan dunia.

Persepsi tidaklah ditentukan oleh tubuh, melainkan bersamaan dengan tubuh menyentuh dunia. Maka persepsi tidaklah bisa dilepaskan dari tubuh. Struktur persepsi adalah struktur dari tubuh. “Tubuhku”, demikian tulis Merleau-Ponty, “adalah sudut pandangku kepada dunia.”[12] Tubuh adalah medium kita menyentuh dan berhubungan dengan dunia. Tubuh adalah sudut pandang kita dalam melihat dunia. Tubuh bukanlah suatu obyek, melainkan subyek yang bertujuan. “Tubuhku, tidaklah dapat dimengerti secara sederhana sebagai gumpalan dari dunia material yang duduk dalam relasi dekat dengan pikiranku.”[13] Tubuh dan dunia memang tampak tidak terpisahkan, karena setiap orang mengalami dunia melalui tubuhnya.



9. TUBUH YANG MENDUNIA


“Saya melihat benda eksternal dengan tubuh yang saya miliki, saya memegangnya, saya memeriksanya, berjalan mengitarinya, akan tetapi bagi tubuh yang saya miliki, saya tidak mengamatinya pada dirinya sendiri; untuk bisa melakukan itu, saya perlu menggunakan tubuh kedua yang juga pada dirinya sendiri tidak bisa saya amati.”[14] Dengan demikian tubuh adalah jalan bagi manusia untuk bisa mendunia. Tubuh adalah modus mengada manusia di dunia. Dengan kata lain orang tidak dapat memahami persepsi dalam abstraksinya yang terlepas dari tubuh, karena persepsi selalu terkait tubuh. Persepsi sebagai fenomen menubuh manusia. Lantas, apa artinya menjadi manusia di dunia, bila untuk mencari kepuasan seksual tak bisa diekspresikan sesuka Anda? Kita tahu bahwa manusia bukanlah entitas psikis melulu ataupun entitas mekanis belaka, melainkan manusia sebagai tubuh subyek yang hidup dan berada di dunia: Manusia melihat dunia melalui tubuhnya. Maka setiap sudut pandang tubuh sebenarnya juga merupakan sudut pandang manusia.



PENUTUP


Bagaimana tepatnya fungsi tubuh sebagai subyek bagi manusia? Di dalam proses pembentukan persepsi, tubuh berfungi sebagai skema tubuh, yakni kumpulan disposisi yang bersifat langsung, yang mengarahkan dan memberikan informasi kepada aktivitas motorik manusia. Maka persepsi berakar pada tubuh, dan persepsi manusia terbentuk melalui skema tubuh. Tubuh dan persepsilah yang membentuk gambaran manusia tentang dunia sebagaimana dipersepsikan olehnya. Persepsi selalu berakar pada tubuh di dalam sebuah lingkungan (environment). Inilah yang disebut sebagai chiasm atau kesalingtumpangtindihan antara persepsi, tubuh, dan dunia. Metafor daging (flesh) mengacu pada ketidaksadaran dan spontanitas tubuh dalam persentuhannya dengan dunia. Daging, termasuk G-Spot sebagai bagian yang tak terpisahkan darinya adalah organ dari tubuh yang bersifat tidak sadar, namun ia serentak menjadi dasar bagi persepsi dan persentuhan tubuh manusia dengan realitas. Dari sudut pandang ini, setiap orang tidak hanya berada di dalam dunia, tetapi serentak ia adalah dunia itu sendiri. Maka kreatiflah memaksimalkan G-Spot dalam tubuh Anda, khusunya dalam pergaulan Anda dengan dunia yang kadang galau dan silau. Saya yakin, dengan cara ini Anda tidak akan pernah risau. Sekian.

Terimakasih atas atensi Anda !


Semarang, 19 Mei 2012

Lusius Sinurat




Catatan : _______________


[1] Penelitian lainnya menunjukkan bahwa untuk beberapa wanita, G-Spot sama sekali tidak ada. Juga yang masih diperdebatkan adalah komposisi cairan (kadang disebut hasil ejakulasi wanita) yang dikeluarkan oleh beberapa wanita selama orgasme akibat rangsangan G-Spot.Perry dan Whipple bersikeras bahwa daerah ini terletak lebih tinggi lagi sepanjang vagina, sementara ahli seksologi lainnya berkata bahwa seluruh dinding luar vagina, dan bukannya hanya satu titik, berisi ujung-ujung syaraf yang mampu menghasilkan efek rangsangan hebat ketika dirangsang (stimulasi). Menurut beberapa peneliti cairan itu adalah urin; lainnya mengatakan bahwa itu adalah unsur yang mirip dengan cairan dalam air mani laki-laki (tanpa sperma, tentunya). Tidak semua wanita yang memiliki G-Spot mengeluarkan cairan, dan dari beberapa wanita yang mengeluarkan, tidak selalu keluar bersama setiap orgasme G-Spot.


[2] Sangatlah sulit bagi seorang wanita untuk menjelajahi G-Spot-nya dan orgasme vaginal sendiri karena kebanyakan tidak memiliki jari cukup panjang untuk mencapainya dan kesulitan untuk mencapai kenyamanan, lain halnya dengan orgasme biasa; wanita dapat melakukannya sendiri dengan melakukan masturbasi.

[3] Hal ini biasanya ditemukan sekitar dua inci dari pembukaan vagina, pada dinding anterior (ke arah perut). Tempat dua jari ke dalam vagina. Menggunakan jari telunjuk Anda, menyentuh dinding anterior. Umumnya merasa baik jika Anda tetap konsisten, tekanan kuat di sepanjang jari-jari terhadap dinding vagina. Berhenti berputar dan beristirahat di ujung jari Anda (sering sedikit bergerigi) daerah vagina tepat di belakang tulang kemaluan dan memberikan tekanan ke atas, ke arah perutnya. Hal ini langsung stimulasi G-Spot, dan biasanya merasa terbaik jika Anda memindahkan jari-jari kecil, lambat lingkaran, atau arahkan ke atas jari-jari lebih tajam dan batu mereka ke depan dan belakang.

[4] Untuk lebih mudahnya, carilah area 'bebas rambut' (perenium) yang berada tepat di bawah alat vital, antara skortum dan anus. Lalu, cukup dengan satu tangan, berikan sentuhan lembut berupa pijatan. Berikan waktu yang agak lama untuk pijatan lembut, sampai dia merasa nyaman, baru variasikan sentuhan dengan gerakan memutar. Agar gerakan memutar lebih nyaman, tak ada salahnya Anda memakai pelumas, lotion atau baby oil.[4] Ingat, sentuhan ini dapat Anda lakukan ketika si dia sedang beraksi. Ketika posisi dia berada di atas akan membuat Anda lebih leluasa melakukan hal ini. Dan, saat dia nyaris mencapai puncak, tekan dengan lembut bagian perenium-nya.

[5] Lih. Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 2395.
[6] Maurice Merleau-Ponty [mɔʁis mɛʁlopɔti] lahir pada tanggal 14 Maret 1908 dan wafat pada tanggal 3 Mei 1961. Ia adalah seorang filsuf fenomenologi Prancis. Ia ditingal mati ayahnya pada Perang Dunia I. Menempuh pendidikan di Lycees Janson-de-Sailly dan Louis-le-Grande, dan pada tahun 1930 mendapat agregasi dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure. Dia bersahabat dengan Sartre kurang labih 7 tahun (1945-1952), namun setelah itu dia menjadi penentangnya. Sartre yang gigih dengan eksistensialisme, memisahkah "subyek-obyek", kemudian menjadi Marxisme garis keras ditolak oleh Pounty. Bagi Pounty, melalui pengalaman-pengalaman yang ditemui manusia, maka diperoleh faktor lain untuk mencari "esensi" yang tidak mutlak sama pada setiap orang dari pengalamannya, yaitu ciri bahasa, pencerapan dan tubuh. Dengan begitu manusia tidak selalu menjadi subjek yang berpikir menentukan semuanya, namun dari fenomena yang terjadi, maka realitas sebagai objek dapat berbicara kepada maunusia yang juga adalah objek. Salah satu teori Pounty dapat dilihat dari caranya melakukan kritisisme, dari hipotesayang dilakukan secara psikologi, dia berpendapat bahwa manusia melakukan tindakan berawal dari refleksi psikologinya. Dari perilaku yang dia jadikan "tanda" atau fenomena, maka dapat kita peroleh data tentang seseorang terkait prinsip hidup yang menjadikannya bertindak. Selalu ada kaitan antara pengalaman masa lalu yang mempengaruhi perilaku saat ini. Keterhubungan ini terjadi pada neuro-psikologimanusia.

[7] Samuel Todes, Body and The World, London, MIT Press, 2001.

[8] Pendapat ini sejalan dengan Heidegger dalam bukunya Being and Time. Heidegger mengajukan tesis mendasar yang nantinya akan dipertahankan di dalam seluruh bukunya, yakni bahwa temporalitas merupakan makna dari ada-nya Manusia. Manusia disebut Heidegger sebagai Dasein (ada-di-sana). Sementara “ada” adalah konsep yang mendasari keberadaan manusia. Akan tetapi temporalitas Dasein (manusia) juga menjadi dasar bagi Ada yang universal (Transenden). Manusia adalah satu-satunya pengada yang menanyakan Ada. Oleh karena itu tidak ada yang dapat bermakna, kecuali itu berada di dalam pemaknaan manusia, karena Ada yang universal itu merupakan simbol dari keseluruhan realitas itu sendiri (bdk. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya (imago Dei)). Heidegger sangat menekankan, bahwa Ada yang universal, yang merupakan abstraksi dari seluruh realitas, tidaklah independen dari pikiran manusia, melainkan selalu terkait dengannya. Maka Ada (Being) ini tidaklah mandiri, melainkan terkait dengan manusia (Allah tak ada gunanya tanpa manusia ?). Manusialah yang bisa mengenali dan memahami Ada. Manusia adalah pengada yang menanyakan Ada.

[9] Benda-benda di dunia tidaklah dapat dipisahkan begitu saja dari orang yang mempersepsinya. Benda-benda itu juga tidak dapat bersifat mandiri pada dirinya sendiri, karena benda itu hanya dapat dikenali melalui pencerapan dan eksistensi manusia, dan eksistensi itu terwujud secara konkret di dalam konsep tubuh manusia. (Piotr Hoffman, “How Todes Rescue Phenomenology from the Threat of Idealism”, dalam ibid, hal. Xxxvi).

[10] Di dalam magnus opusnya yang berjudul Phenomenology of Perception, (Ibid,hal. Xxxvii).

[11] Taylor Carman, Merleau-Ponty, Oxon, Routledge, 2008. hal. 79-80

[12] Ibid, hal. 81

[13] Ibid, hal. 82


[14] Ibid.

No Comment to " The Power of G-Spot "

luciusinurat@gmail.com