iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Aneka Celotehan Tentang Anak dan Keluarga

Aneka Celotehan Tentang Anak dan Keluarga

Judul :
Aneka Celotehan Tentang Anak & Keluarga
Penulis : 
dr.Fajar Wahyu Pribadi, 
Lily Marlina, M. Psi, 
Yuria Ekalitani, S. Psi, C. Ht, 
Lusius Sinurat, S.S., M. Hum 

Penerbit : 
Yayasan Misericordia Untuk Anak Indonesia
Halaman : 
x + 150 / exclusive
Harga : 
Rp 35.000,- 
* harga di luar ongkos kirim

Pemesanan : 
WA : +62 821 6050 7530
Twitter: @luciusinurat

Pembayaran: 
Transfer: 
BNI 4117976118 
a.n. Lusius Sinurat

Paypal: 

Resensi :

Berbicara mengenai anak dan keluarga Indonesia tak bisa dilepaskan dari hasrat untuk berdiskusi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar kita. Begitu banyak hal serius yang ingin kita diskusikan bersama, tapi serentak kita juga tak kuasa membiarkan hal-hal “remeh-temeh” yang terjadi secara nyata di keluarga-keluarga kita. 

Biarbagaimanapun dibalik ke-”remeh-temeh”-an itu kita akan menemukan nilai-nilai yang sangat berharga - yang menurut hemat empat orang penulis buku ini - untuk dibagikan kepada para pembaca. Bermula dari celotehan-celotehan kecil di grup Facebook “CFDC Community” mengalirlah ide-ide cemerlang dan unggul yang kiranya layak untuk dibagi kepada keluarga-keluarga di Indonesia.

“Aneka Celotehan tentang Anak & Keluarga” ini hadir di hadapan Anda, sebagai salah satu referensi praktis dan mudah dipahami dalam rangka mendidik anak dan meningkatkan kepedulian para orangtua kepada anak(-anak) mereka. 

Bermula dari celotehan-celotehan kecil di grup Fesbuk “CFDC Community” mengalirlah ide-ide cemerlang dan unggul yang kiranya layak untuk dibagi kepada keluarga-keluarga di Indonesia. 

Pada bab pertama buku ini, dr. Fajar Wahyu Pribadi menggiring pembaca untuk memahami dan mendalami pentingnya ASI sebagai start pertumbuhan anak di saat masih bayi. “Untung Pake ASI” dan beberapa tema menarik seputar anak dan keluarga, seperti “Pedoman Praktis Jadwal Vaksinasi Bayi dan Anak”, “Pertumbuhan Fisik Anak”, “Tentang Logo Obat”, dan ”Anjuran Minum Obat Yang Benar Saat Sakit” menghantar para pembaca betapa dalam keluarga ada hal-hal yang urgent tetapi serentak kita sering lupa peran kita, entah sebagai orangtua (terutama sebagai ibu) maupun sebagai anak, dalam keluarga kita masing-masing.

Untuk sampai pada persoalan keluarga secara riil, Lily Marlina, M. Psi, seorang psikolog anak, di dalam bab kedua buku ini mencoba berbagi pengalamannya sebagai ibu di tengah keluarga. Sebagai seorang ibu muda, Lily mengajak kita untuk tetap menomorsatukan keluarga, terutama pendidikan dan pengasuhan anak di dalam keluarga. 

Tak lupa, Lily juga mengakan kita untuk menjaga pola hidup sehat, dalam “Alarm Sehat” dan “Makanan Awet”. Di sisi lain, tema “Welcome To Mommy's World” Lily mengajak pembaca, khususnya kaum ibu untuk mencintai peran mereka sebagai figur sentral dalam keluarga, khususnya sebagai ibu bagi anak(-anak) mereka. 

Menjadi ibu yang sempurna memang bukanlah hal mudah; dan memang tidak ada yang disebut sebagai ibu yang sempurna. Untuk itu Lily pun menyoroti berbagai godaan yang siap menghadang laju mereka sebagai ibu yang baik : “Rumput Tetangga Lebih Hijau !” dan “Emansipasi”. Lewat kedua tema ini, para pembaca diajak untuk menyadari betapa menjadi ibu sangatlah tidak mudah. Menjadi ibu itu “panggilan mulia”, dan oleh karenanya harus kita syukuri, bahkan ketika situasi berkata sebaliknya. 

Di saat keadaan runyam dan pikiran para ibu tersedot oleh berbagai persoalan, maka para ibu harus siap berbuat sesuatu, bahkan ketika waktu tampak begitu sempit, atau dalam pembahasan Lily dicatat dengan apik dalam “The Power of Kepepet”. 

Buku ini tak berhenti di pembahasan tentang peran ibu dalam konteks pengasuhan fisik (bab pertama) dan pengasuhan psikologis (bab kedua). Pada bab ketiga, Yuria Ekalitani, S. Psi, C. Ht., seorang trauma healer yang sudah malang melintang di berbagai daerah di Indonesia menawarkan solusi bagi persoalan anak dan keluarga - yang tingkatannya jauh lebih rumit dan pelik. 

Yuria memulai pemaparannya secara praktis tentang pemahaman baru dalam "anak-anak bermasalah" alias anak-anak berkebutuhan khusus. Kondisi anak berkebutuhan khusus, oleh Yuria, ditegaskan bukanlah sebuah kutukan yang harus dikutuki. 

Untuk itu Yuria memulai pemaparannya tentang "Ayah dan Bunda" yang menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk me-review dan mengevaluasi berbagai hal yang sering terjadi di dalam rumah tanggal atau keluarga. Yuria mengajak pembaca untuk memanfaatkan sebaik-baiknya refleksi atas kenangan Ayah dan Bunda dalam membangun karakter anak(-anak) mereka kelak, di kemudian hari. 

Tak hanya sebagai kenangan indah mengenai keluarga, Yuria juga menggiring pembaca untuk "mensyukuri keindahan" itu sembari memakna hidup berkeluarga dalam relasi dengan Tuhan. Tema “Chatting dengan Tuhan” menjadi "terang" bagi pembaca tentang bagaimana keluarga berelasi dengan Tuhan. Percakapan fiktif dengan Tuhan ini menjadi sebuah ajakarn spiritual bagi kita untuk menangkap secercah sinar bagi setiap sikap frustasi kita sebagai orang tua yang kadang galau dan cemas oleh perkembangan jaman yang tak terelakkan turut membiarkan anak(-anak) kita hidup tanpa arah. 

Sekali lagi, Yuria menghantar pembaca pada pemikiran-pemikiran mendalam tentang hidup, khususnya hidup berkeluarga. Yuria dengan cerdas mengurai catatan akhirnya dengan membentangkan rangkaian pengalaman praktisnya, ditambah berbagai referensi buku, menjadi sebuah sajian yang menarik dan asyik. 

Yuria berhasil memoles konsepnya tentang trauma healing dengan nada "visualistik" : “Anak dan Kecerdasan Visualistik serta Karakteristik Perkembangan Anak Asperger”. Tak saja lengkap, tema ini juga ditampilkan lebih praktis sekaligus mempesona. 

Di bab akhir buku ini, sebagai sebuah ruang simpul yang terbuka, Lusius Sinurat, S.S., M. Hum. yang berpengalaman di bidang pendampingan spiritual anak dan remaja, menghantar pembaca pada pendidikan dan hidup rohani anak-anak sejak dini. Tema pertama yang diangkat Lusius misalnya, menjadi stimulan bagi para orang tua :“Anak Harus Seperti Mama atau Papa?”

Lusius menantang pembaca untuk merenungkan betapa sentralnya peran orangtua dalam pertumbuhan spiritual anak(-anak). Masih dalam konteks spiritualitas anak di tengah keluarga,
Lusius mengharapkan agar para orangtua turut serta dalam proses belajar dari pengalaman di masa lalu, “Demi Anak-anak Belajarlah dari Pengalaman”. Peran orangtua sangatlah sentral dalam pertumbuhan spiritual anak-anak mereka.

Orangtualah sosok yang paling tahu dan paling memahami kepribadian anak(-anak) mereka, bahkan masa depan mereka, ‘akan seperti apa anak itu kelak’. Di sinilah terlihat letak pentingnya “Pola Asuh Anak Dalam Keluarga” serta pentingnya bagi para orangtua untuk besyukur: “Bersyukurlah Menjadi Orangtua”. 

Rasa syukur atas hadirnya anak dalam keluarga serentak akan melahirkan rasa bangga anak pada orangtuanya. Rasa bangga ini tak lain adalah modalitas hidup spiritual anak secara khusus dan keluarga secara umum. 

Selanjutnya, melalui tulisan, "Perempuan Itu Anomali yang Paradoks",
Lusius menghantar pembaca pada refleksi makna menjadi seorang perempuan. Akhirnya, sebagai penutup dari rangkain refleksi spiritual tentang anak dan keluarga ini, Lusius menghantar pembaca pada ruang simpul hidup berkeluarga dalam konteks sosial. Inilah yang ditekankan oleh Lusius dalam tema terakhir, "Mengapa CFDC disebut Komunitas?"

Sekali lagi, keluarga (ayah-ibu-anak) akan menjadi kunci dinamis bagi kehidupan bermasyarakat. Sebab, keluarga yang baik serta merta akan menghasilkan komunitas atau masyarakat yang baik pula. Maka, menciptakan keluarga yang bahagia sama artinya dengan turut menciptkan komunitas sosial atau masyarakat yang bahagia. Tema ini serentak menjadi gerbang menuju gagasan untuk membangun sebuah komunitas di tengah masyarakat kita.

Usaha untuk saling memahami, mulai dari suami, istri dan anak, pada akhirnya menggiring para pembaca untuk memasuki ruang sakral komunitas bernama keluarga. Gagasan ini menjadi cikal bakal bagi Misericordia CFDC dalam memberi perhatian pada keluarga-keluarga secara umum, dan keluarga ABK secara khusus, yakni lewat keikutsertaan mereka bekerjasama dalam mewujudkan sebuah keluarga yang lebih besar. Inilah alasan utama mengapa Komunitas CFDC disebut sebagai komunitas.

Akhirnya, buku ini ditutup dengan mengetengahkan secara ringkas sembari berusaha untuk tuntas mengenai profil singkat Misericordia CFDC (Child and Family Development Centre) / Yayasan Misericordia Untuk Anak Indonesia, sebuah wahana bagi siapa pun yang ingin memberikan hati dan membentangkan pikir an mereka demi memajukan anak dan keluarga Indonesia. 

Semoga buku ini menjadi inspirasi bagi mereka yang berhasrat turut membangun sebuah komunitas, tempat di mana kita satu sama lain saling berbagi berlandaskan belas kasih. Inilah intisari dari nama yayasan kami, "misericordia" (belas kasih).

Mari berbagi dan saling mengisi agar dunia semakin “ramah” dalam merangkul anak dan keluarga secara utuh dengan hati. Selamat membaca ! 


Semarang, Juni 2012 
Lusius Sinurat, S.S., M.Hum

- editor / penyusun -

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.