Agama, Iman dan Akal Budi

Agama, Iman dan Akal Budi
Semakin banyak orang ketakutan akan kehilangan iman bila ia mengamini pendekatan akal budi untuk merahi kebenan Tuhan.
Orang beragama di masa kini seakan jengah menggunakan peran rasio/akal budi (filsafat) dalam mengimani Tuhan seturut agamanya masing-masing. Rasio dan Tuhan dibiarkan berjalan msing-masing, sebagaimana juga filsafat dan teologi larut dalam dunianya sendiri-sendiri.

Ajara-ajaran agama bahkan telah direduksi menjadi ajaran-ajaran sempit bak tembok pemisah negara Israel dan Palestina. Tak hanya itu, hari demi hari, semakin banyak orang yang ngotot dengan "kebenaran" teks kitab sucinya hingga cenderung alergi dengan kebenaran lain yang diluar teks yang tertulis dalam kitab agama mereka.

Di jalanan, di tempat umum, bahkan di media sosial tampak jelas terlihat betapa orang-orang semakin kehilangan kemampuan akal budinya, hingga dengan mudah mengklaim diri "orang beragama" dan orang lain "orang kafir".

Tak berhenti di situ, orang atau gerombolan manusia yang merasa diri turunan nabi, utusan Allah, titisan menantu nabi, atau apapun istilah yang mereka gunakan untuk dirinya selalu berupaya membangun tembok di sekeliling mereka: "Hei kawan, jangan sesekali berbicara tentang nabi dan Allah bila kamu tak mau dilaknat. Kalau Allah tak sempat melaknat kamu, maka aku yang mengirimku ke neraka. Paham kamu?"

Demikianlah hari-hari ini iman dipertentangkan dengan akal budi. Semakin banyak orang ketakutan akan kehilangan iman bila ia mengamini pendekatan akal budi untuk merahi kebenan Tuhan.

Mereka ini dengan mudah mengatakan sekaligus menghakimi "kaum pemikir liberal" sebagai "orang yang membelokkan kebenaran atau malah menjual agama demi pkepuasan dirinya."

Mereka inilah kelompok orang yang tak mampu memaksimalkan kemampuan akal budinya untuk mengkritisi realitas yang ada di sekitarnya, termasuk cara manusia lain dalam mengimani Tuhan.

Padahal akal budi/rasio dan iman adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling memperkaya. Artinya, mempertentangkan akal budi (reason) dan iman (faith) berarti menyangkal eksistensinya sebagai ciptaan Tuhan. Bukankah akal budi dan iman itu bersumber dari sumber yang sama, yaitu Tuhan?

Bukan apa-apa, andai saja akal budi bertentangan dengan iman, maka manusia justru bukan lagi manusia sebagaimana diciptakan sejak awal oleh Allah. Begitu juga apabila ia tidak menggunakan akal budinya sebagaimana mestinya, maka dimensi kemanusiaannya justru layak diragukan.

"Emangnya lu diciptain oleh Tuhan cuma dikasih hati tapi gak dikasih dikasih otak ? Lagi pula, bukannya lu itu mengenal Tuhan untuk pertama kalinya lewat kemampuan pikiran lu sendiri? Sok atuh, waktu lu masih kecil, bokap-nyokap lu cerita kalau lu iyu diciptakan Allah, terus ujung-ujungnya lue dibaptis klo lu Kristen atau mengucapkan syahadat klo lu Islam. Akhirnya lu bergabung dengan agama mereka. Apa saat itu lu kagak pake otak untuk memahami perkataan mereka? Ya, pastinya sih dengan otak ya,"
begitu kata seorang anak SMA kepada teman yang mulai terpengaruh ajaran radikal.

Sebagaimana Tuhan tak memisahkan diriNya sendiri dengan kehendakNya dan karya ciptaanNya, demikian juga Ia tak menempatkan pikiran dalam diri manusia hanya agar manusia itu membenci pikirannya sendiri.

Kiranya poin di atas sangat jelas, bahwa anugerah akal budi dan iman tak mungkin saling bertentangan. Sebaliknya, akal budi (yang kita pupuk dan kembangkan dengan mempelajari ilmu pengetahuan/filsafat) semestinya bersintesis dengan agama (yang kita pupuk dan kembangkan dengan mempelajari teologi).

Keduanya itu justru saling melengkapi dan bukan malah saling bertentangan. Rasio/akal budi akan membantu kita untuk menjelaskan ajaran iman (ajaran Agama) kepada orang lian agar mereka turut memahami wahyu Allah itu sendiri, termasuk bagaiman Ia memperlihatkan dirinya lewat nabi dan utusanNya.

Di titik inilah penggunaan akal budi itu penting dan menjadi bagian dari iman. Dengan akal budi itulah manusia dihantar kepada pengenalan akan sumber kebenaran dan pengetahuan, yaitu Allah sendiri. Melalui proses kerja akal budi dan hasil tangkapan panca indera kita akan realitas di sekitar, maka kita akan menyadari kemampuan sekaligus keterbatasan akal budi kita.

Menurut Thomas Aquinas dalam "Summa Teologia", ada dua cara atau jalan untuk dapat memperoleh pengetahuan (Frederick Mayer, A History of Ancient & Medieval Philosophy, hlm. 461): (1) Jalan pikiran (ratio, reasons, filsafat) yang dimulai dari akal budi (ilmu pengetahuan) hingga mencapai puncaknya pada dan iman kepada Tuhan; dan (2) iman (fides, fatih, teologi) yang yang dimulai dari (wahyu) Tuhan lalu ditanggapi oleh keterbatasan akal budi manusia.

Konsekuensinya, kebenaran Tuhan harus diterima dengan iman dan dipahami lewat akal budi atau pengetahuan. Melalui iman, pengetahuan tentang Kebenaran Sejati akan menampilkan keberadaanNya.

Melalui pikirannya, manusia dapat memperoleh pengetahuan lewat pengenalannya atas obyek-obyek dan fenomena-fenomena yang tampak atau yang ditemuinya. Sedangkan melalui imannya, manusia dapat menerima eksistensi Allah sebagai sumber kebenaran dan sumber puncak pengetahuannya.

Demikianlah kebenaran yang diperoleh dengan akal budi tak mungkin bertentangan dengan ajaran wahyu yang kita imani. Kita semestinya harus berupaya menyeimbangkan akal budi dan iman. Bukankah akal budi sendiri yang membangun dasar-dasar ajaran agama yang sangat terbatas itu?

Kenyataannya, akal budi kita memang sangat terbatas dan tak akan mampu menjelaskan berbagai ajaran iman seperti kehidupan nyata, kehidupan sesudah kematian, surga dan neraka, kebangkitan, dst. Tak hanya itu, akal budi sendiri tak mungkin mampu membuktikan kenyataan mendasar tentang keimanan seseorang.

Tetapi bila akal budi memasuki wilayah iman melalui penerangan ilahi (baca: ketika seseorang mengkritisi agama justru untuk memperteguh imannya), maka ia akan mampu menjelaskan tentang kebenaran Tuhan yang tertera dalam kitab sucinya tanpa harus menghilangkan kebenaran (wahyu) Tuhan itu sendiri.

Kita harus mendudukkan iman dan akal budi pada posisi masing-masing. Akal budi mempunyai keterbatasan, karena memang pemikiran manusia terbatas. Sedangkan iman memberikan kepada kita rencana Allah yang tak mungkin dapat dicapai hanya dengan menggunakan akal budi.

Akhirnya, seorang beragama semestinya tidak hanya fokus pada keterbatasan akal budinya, tetapi juga serentak harus memaksimalkan akal budinya itu sebagai modalitasnya dalam mengimani Kebenaran Tuhan yang ia imani.


Palipi, 19.08.2017
Lusius Sinurat

**Disarikan dari "Summa Theologia" karya Thomas Aquinas