Orisinalitas Produk Perguruan Tinggi Kita

Orisinalitas Produk Perguruan Tinggi Kita
Foto: Facebook/Dwi Hartanto
Terbongkarnya kebohongan-kebohongan Dwi Hartanto , mahasiswa S3 Technise Universiteit Delft di Belanda yang mengaku sebagai "Penerus Habibie" karena prestasinya di bidang aeronautika menjadi refleksi bagi dunia pendidikan kita (http://bit.ly/2xu1k37).

Baik pada jenjang Pendidikan di tingkat Dasar dan Menengah maupun di Pendidikan Tingkat Tinggi, kejujuran yang secara kasat mata tampil lewat orisinalitas karya ilmiah adalah hal yang selama ini sangat diabaikan oleh sekolah dan pergururan tinggi.

Inilah pelajaran paling penting di dunia pendidikan kita. Tentu tanpa menafikan PTS/PTN yang minimal masih memikirkan orisinalitas ini, tetapi faktanya mayoritas Perguruan Tinggi di Indonesia masih menganut, "yang penting sudah sarjana" atau "minimal kalau sudah S2 atau S3 mudah mendapat pengakuan", dst.

Mentalitas di atas tak muncul begitu saja. Kemenristek Dikti memang lebih peduli pada perbaikan administratif dibanding Quality Control output dari sistem pendidikan di PT kita. Lihatlah betapa PTN/PTS lebih takut kepada BAN-PT daripada kebohongan-kebohongan yang mereka lakukan.

Maka tak heran bila akreditasi FE UI, FE Unpad, FE Undip, FE UGM dan FE Unpar Bandung bisa saja sama-sama A dengan STIE XXX di Medan yang hanya bermodal 3 bangunan ruko dan perkuliahan malam hari.

Maka jangan heran ketika banyak sarjana yang bilang begini, "Mau lu lulusan Unpar kek, UI kek, ITB kek, atau skripsi lu ori dan gue jiplak kek.... nyataannya kita sama-sama sarjana ekonomi tuh." Kalimat ini saya berkali-kali dengar dari dosen dan mahasiswa di "Kota Sejuta Lobang" ini (Tribun Medan 9/10/2017 hal 9). 

Jujur saja, pertama kali kembali ke Medan, sejak puluhan tahun merantau di Jawa sana, aku sangat kagum pada dosen dan mahasiswa-mahasiswi di "Kota Penuh Begal" ini. Bagaimana tidak, saat berbincang dengan mereka, aku sering mendengarkan langsung dari mereka kalau IPK mereka saat S1, S2 atau S3 itu sanga tinggi, di kisaran 3,50 - 4,00.

Aku lebih kagum lagi ketika "prestasi" akademik mereka tadi malah diumbar di koran-koran lokal, atau diposting sendiri oleh orang bersangkutan di akun medsosnya.

Tetapi belakangan, rasa kagumku langsung anjlok, saat banyak mahasiswa (S1, S2, S3) yang minta tolong dibuatkan makalah, hasil penelitian, bahkan tugas akhir atau skripsi/tesis/desertasi mereka.  Tak berhenti di situ. Tak sedikit pula teman-teman dosen yang kuliah S3 hanya bermodalkan google translate atau jasa penerjemah untuk memahami satu-dua referensi berbahasa Inggris yang disulkan profesornya.

Hampir pasti, kenyataan di atas tak hanya ada di Medan, tetapi juga di kota-kota lainnya, termasuk di Jawa sekalipun. 

Soal transaksi prestasi akademik (baca: Indeks Prestasi Kumulatif / IPK) jangan tanya deh. Aku pernah lihat ijazah sarjana yang baru lulus di kota penuh klekson ini. Ada nilai B++, A+- bahkan  ada A++. Udah kayak ukuran batre jam aja ya ha ha ha.

Lantas apa akibat dari semua kebohongan di atas?

****

Orisinalitas Produk Perguruan Tinggi Kita
Foto: Facebook/Dwi Hartanto
Ada falsafah Batak yang mengatakan, "Dang dao tubis sian bonana" (Rebung tak mungkin jauh dari bambu) yang juga sejajar dengan ungkapan, "Buah tak jauh dari pohonnya". Artinya, bila PT sendiri sudah membiarkan kebohongan, maka produknya adalah sarjana-sarjana pembohong.

Saya pernah tanya seseorang pengawai negeri. Sebut saja namamnya Lamhot (bukan nama sebenarnya),
Aku: "Anda sendiri yang omong kalau selama 4 tahun kuliah di sebuah PTN di kota ini, seluruh tugas-tugas perkuliahan Anda adalah hasil beli atau hasil contekan dari orang/internet. Terus Anda bilang lulus IPK 3,98. Betul itu lae? 

Lambok: "Betul kali pun yang lae bilang itu.

Aku: "Aku dengar temanmu si Latteung, begitu lulus S1, Anda langsung melamar PNS dan menang.  Katanya sih bos di dinas itu Amangboru Anda sendiri. Betul?"

Lamhot: "Tepa sekali. Aku pikir tak ada masalah dengan itu. Semua orang di Sumut itu juga melakukannya."

Aku: "Oh, gitu ya. Terus Anda sendiri lulus berkat bantuan keluarga Anda tadi dong? Kasih amplop berapa tuh sebagai uang terimakasih?" 

Lamhot: "Tentu saja. Lae bisa bayangkan betapa bangganya aku bisa lulus S1 tepat waktu, menang PNS bahkan mampu menyingkirkan lulusan terbaik dari Jawa sana. Mungkin juga ada alumni Unpar, tempat abang kuliah S1-S2 dulu ha ha ha..."

Aku: "Bisa jadi, karena mereka tak punya amangboru di sana seperti Anda (sambil tertawa).

Lamhot: "Lae tahu, setahun setelah jadi PNS aku langsung mendapat tugas studi dari pimpinan kantorku. Lha, wong pimpinannya Amangboruku sendiri ha ha ha. Udah aja aku dapat uang kuliah plus gaji bulananku. Asyik gak tuh bang? Sampe-sampe, teman-teman di kantor pada sirik samaku. Ya, seperti biasa. Aku juga lulus S2 selama 4 tahun juga. Padahal selama kuliah aku justru asyik bermain proyek dengan dosen-dosen yang memang ingin memanfaatkan link-ku di pemerintahan..."

(Ia belum selesai cerita, aku spontan memotong pembicaraannya.)

Aku: "Terus gimana Anda bisa lulus kuliah kalau Anda malah sibuk proyek?"

Lamhot: "Yaelah. Yang ngajakin proyek itu kan dosen-dosenku sendiri, lae. Ya, pasti amanlah. Enggak masuk kuliah pun nilai A++ udah di tangan tuh, Lae. Ya, sesekali aku emang mentraktir mereka nongkrong di cafe-cafe di Jalan Dr. Mansyur sana, atau aku bawa pijit ke Delta. Udah gitu, saat sidang (meja hijau) aku kasih hadiah yang jauh lebih banyak dari yang diberikan mahasiswa lainnya. Pokoknya soal nilai itu amanlah itu, Lae. Biar lae tahu, Tesis ku aja mereka semua yang urus."

Aku: (Karena masih penasaran, aku pun nyerocos bertanya:) "Terus setelah selesai kuliah segala macam, dan golongan Anda naik serta diangkat menjadi orang nomor dua di kantor, apakah Anda tidak mengalamai kesulitan dalam pekerjaan di kantor? Hmm, maksudku, ketika Anda tak menguasai bidang Anda sendiri, bagaimana tanggapan anak buah Anda? Misalnya loh ya."

Lamhot: "Betul Lae. Yang Lae katakan itu fakta. Emang aku samasekali tak menguasai pekerjaan ku kok. Ya, taulah gimana caraku sekolah he he he. Tapi yang lain juga begitu kok, Lae. Maka untuk mencari solusinya, kami biasanya memanfaatkn jasa orang-orang cerdas di luar sana, termasuk membuat Report Bulanan/Tahunan, bikin program kerja, dst. Pokoknya tinggal kasih ke dia, bayar sesuai kesepakatan, dan beres deh."

Aku: (Sambil manggut-manggut aku mendekatinya untuk pamit:) "Ok Lae. Thanks ya. Tetap jaga kesehatanmu. Kata orang-orang di luar sana, penyakit stroke, kanker, diabetes, ginjal, jantung dan sebagainya itu tak hanya bersumber dari virus mematikan, tetapi juga bersumber dari virus kebohongan."

Si teman tadi pun hanya bisa melongo.

*****

Orisinalitas Produk Perguruan Tinggi Kita
Foto: Facebook/Dwi Hartanto
Tanpa tahu harus menyalahkan siapa-siapa, faktanya dunia pendidikan kita telah menjelma menjadi bisnis. Jamak sekali jumlah PTS yang menjual gelar, bahkan tak terlalu peduli dengan kehadiran dan tatap muka dengan mahasiswa di ruang kelas. Belum lagi dengan sistem online, PT bersangkutan cukup berkirim email atau pesan WA untuk tugas-tugas dan materi perkuliahan.

Luarbiasa. Betapa "murah hatinya" kampus-kampus itu memberi nilai dan gelar sarjana, pasca sarajana, doktor hingga menghadiahi orang-orang dengan gelar profesor. Dari antara PTN/PTS itu ada yang sudah punya nama bahkan ada yang baru berdiri dengan izin seadanya dari KemenristekDikti.

Dari sanalah banyak lahir orang yang "sepertinya pintar" karena mendapat nominasi "Cum Laude", Magna Cum Laude" bahkan "Summa Cum Laude" dari kampusnya. Tak hanya itu para lulusan PTN/PTS tadi justru ikut-ikutan "merasa dirinya pintar". 

Dwi Hartanto hanyalah salah satunya. Dengan "merasa sangat pintar" ia memblow-up dirinya sendiri di akun medsosnya, hingga ia laris manis diundang televisi dan diliput banyak koran dan mendia online.

Apalagi, kebetulan sekali, media-media di negeri ini memang tak lagi peduli pada klarifikasi berita. Boro-boro menerapkan justifikasi atau falsifikasi sebelum memberitakan sesuatu, media-media tadi justru lebih suka berita heboh yang lagi tranding di Twitter, Instagram, Facebook, MySpace, etc., termasuk berita tentang ketololan dan kenekatan seseorang. 

Media-media tadi bahkan tak penduli apakah si Dwi Hartanto tadi memang hebat, penerus Habibie, ahli di bidang pembuatan pesawat, dst. Yang penting berita tentang si Dwi Hartanto tadi rame di medsos Indonesia. Ya, tinggal undang saja. Mata Najwa sekali pun ketipu juga ha ha ha.

Dengan membiarkan kondisi-kondisi di atas, Perguruan Tinggi di negeri ini pun lambat laun akan memproduksi Dwi Hartanto -Dwi Hartanto lain yang mengidap penyakit megalomania (obsesi berlebihan pada hal-hal yang tak realistis) dan mythomania (mengimani kebohongan sebagai kebenaran).

Mari mulai memperbaikinya dari diri kita sendiri.


Lusius Sinurat