Politikus Selalu Menyisakan Yayasan Sebagai Tebusan Dosanya

Politikus Selalu Menyisakan Yayasan Sebagai Tebusan Dosanya
Menyatukan seorang politisi kaya raya dan seorang rakyat miskin jauh lebih mudah daripada menyatukan dua politisi yang sama-sama kaya berkat jual-beli kekuasaan yang dimilikinya.

(1)

Wajar terjadi ketika seorang pejabat yang kaya raya mengumpulkan hartanya dengan mencuri hak milik rakyat miskin akan mengaikbatkan hilangnya reputasi dari para pejabat kaya yang baik ikut tercoreng.

Setelah mega korupsi Soeharto, maka seluruh orang berbaju Golkar seakan-akan menjadi kaya berkat korupsi. Belum lagi ketika para ketua umum Golkar setelah Soeharto hampir selalu terkena isu-isu korupsi.

Hingga saat ini, Ketum Golkar teranyar, Setya Novanto bahkan sudah tersangka untuk kedua kalinya, tak lama setelah secara tak disangka-sangka ia malah bebas dari status tersangka.


(2)

Di sisi lain, ketika seorang rakyat miskin kerjanya hanya menjual kemiskinannya kepada si pejabat yang kaya raya dari hasil korupsi---sebagaiman disebut pada poin (1) di atas---demi memperkaya dirinya sendiri, maka secara otomatis reputasi rakyat miskin yang jujur dan baik pun akan ikut tercoreng.

Itu yang terjadi dengan para pengemis politik, yang naik tahta setelah menjual dirinya ke partai garis keras atau ke kelompok radikal.

Sepertinya contoh untuk kasus ini sangat mudah terlihat di dunia perpolitikan Indonesia. Sebagi bukti bahwa ia telah dibeli oleh partai atau ormas yang punya kepentingan darinya akan terlihat dari caranya memerintah: menjadi boneka dari pembelinya.


(5)

Antara si miskin dan si kaya nan korup, entah kenapa, di saat keduanya saling berbagai keuntungan justru begitu mudah bersatu. Kerap terjadi ketika si miskin (minim harta dan alfa gagasan) rela dijadikan boneka oleh si kaya raya tadi, entah sebagai gubernur, bupati, atau walikota di daerah tertentu yang punya APBD basah.


(6)

Anehnya, sesama politisi kaya raya dari hasil korupsi justru sulit menjadi teman. Sepintas memang mereka seperti saling menutupi borok masing-masing. Tapi dijamin hal itu tak akan berlangsung lama. Sebab, bila salah satu dari mereka tertangkap, maka relasi antar mereka justru terjalin di atas sikap saling curiga.

Begitu juga dengan rakyat miskin. Antar mereka juga sering terjalin sikap saling curiga, tertutama ketika yang satu tiba-tiba bisa makan karena pemberiandan yang satu lagi justru hanya bisa berteriak kelaparan. Belum lagi antar si miskin tak mungkin bisa saling menolong atau saling berbagi makanan. Mestinya begitu, karena nemo dat quod non habet (tak seorang pun dapat memberi sesuatu yang tak dimilikinya).


(7)

Ringkasnya, sejak berdiri hingga hari ini, negara kita memang sangat membutuhkan kemiskinian, tepatnya orang miskin. Sebab keberadaan orang miskin telah membuat Soeharto sebagai bapak pembangunan dengan Repelita-nya, SBY terlihat kebapaan dengan BLT-nya, dan Jokowi sebagai dengan Kartu Jakarta Pintar dan Jakarta sehatnya.

Hanya harus diingat, bahwa setiap presiden berbeda cara menjual kemiskinan itu. Ada yang memanfaatkan kemiskinan sebagai cara untuk memperkaya dirinya, tetapi juga ada yang menjadikan kemiskinan dan orang miskin sebagai sumber daya yang diberdayakan bagi pembangunan bangsa.


**********

Seluruh penjelasan di atas menjadi jawaban mengapa para pemimpin alias penguasa selalu menyisakan "Yayasan Kemanusiaan" di masa pensiunnya. Itu karena mereka sadar bahwa selama pemerintahannya orang miskin lah yang memperkaya mereka. Ketakutan akan adanya karma dan siksa neraka pada akhirnya membuat mereka mengembalikan sebagian kecil dari apa yang telah dicurinya.

Nyatanya, hampir semua presiden di dunia ini meninggalkan "Yayasan" setelah mereka tak menjabat lagi. Begitu juga para pejabat lain, termasuk ketua partai, bahkan koruptor sekalipun hampir selalu memiliki Yayasan di penghujung hidup mereka.

Itu karena setiap politikus, terutama mereka yang sepanjang masa aktifnya sebagai politikus sering mencuri hak orang miskin, hampir selalu menyisakan sebuah "Yayasan" sebagai tebusan atas dosanya kepada rakyat miskin yang pernah disengsarakannya.


Lusius Sinurat