Peran Subyek dan Obyek Dalam Ritus Perkawinan Adat Batak Toba

ritus perkawinan adat batak toba
Kompleksitas upacara perkawinan adat Batak Toba meliputi peran subyek dan objek yang terlibat di dalamnya.

Peran itu bisa saja berbeda menurut jenis keluarga yang akan mendasarinya, kecuali dalam hal perkawinan hukum adat, selalu ada berbagai macam kelompok yang tertarik pada penyatuan dua individu tersebut. 

Menurut Arnold van Gennep, kompleksitas upacara perkawinan tersebut dapat dijelaskan dalam 5 (lima) pokok permasalahan, yakni:
  1. dua jenis kelamin yang berbeda, 
  2. garis keturunan, 
  3. keluarga, 
  4. suku, dan 
  5. tempat tinggal
“The collectivities in question are: the two sex groups, sometimes represented by the ushers and bridesmaids, or by the male relatives on one hand and the female relatives on the other; patrilineal or matrilineal descent groups; the families of each spouse in the usual sense of the word, and sometimes families broadly speaking, including all relatives; groups such as a totem clan, fraternity, age group, community of the faithful, occupational association, or caste to which one or both of the young people, their mothers and fathers, or all their relatives belong; the local group (hamlet, village, quarter of a city, plantation,etc.).”[1]
Demikian juga dalam ritus perkawinan adat Batak Toba, selain melibatkan kedua mempelai juga melibatkan seluruh perangkat masyarakat. Perbedaannya adalah peran-peran dalam rangkaian upacara perkawinan adat Batak Toba selalu terkait dengan tiga kedudukan utama dalam adat: dongan sabutuha (dongan tubu), hulahula, dan boru.
_____

[1] Arnold van Gennep, op. cit., hlm. 117-118. 


Lusius Sinurat
Diberdayakan oleh Blogger.