Pesta Perkawinan Adat Batak Toba

Tahap IV - PESTA PERKAWINAN ADAT 

Setelah pemberkatan perkawinan selesai, maka yang harus dilakukan adalah memestakannya, merayakannya. 

Perlu dicatat bahwa pada umumnya pesta perkawinan (adat na gok) dalam di kalangan orang Batak selalu memakan banyak waktu, perhatian dan biaya. 

Secara khusus dalam bagian hanya diperlihatkan 2 (dua) acara pokok, yakni makan bersama dan pemberian mahar dan balasnya.


(a) Makan bersama

Banyak orang berduyun menghadiri pesta perkawinan adat penuh (adat na gok). Nuansa pesta terlihat dari rombongan ibu-ibu yang berpakaian pesta yang datang dengan menjunjung satandok boras (sebakul beras) dengan bentuk tandok memanjang ke atas (biasanya hanya berisi sekitar 2 kg beras). Dari simbol tandok ini kita akan segera tahu kalau mereka adalah pihak hulahula, sebab mereka bertanggung jawab menjamin beras dan bumbu-bumbuan untuk pesta. 

Apabila terlihat rombongan pesta (baik para pria maupun para wanita) tak membawa apa-apa, itu artinya mereka berada di pihak boru atau saudara-saudara dari pihak boru. Mereka bertanggung jawab menyumbang mahar dan daging pesta. Maka dalam saku mereka pasti membawa uang sumbangan pesta/mahar. 

Dalam adat Batak Toba sangat jarang orang terhormat mengunjungi pesta tanpa membawa apa-apa. Serombongan parhobas (pelayan), yang biasanya kebanyakan terdiri dari para perawan dan perjaka, tetapi biasanya dipimpin oleh orang tua, bergegas melayani makan bersama. 

Ditengah perjamuan serombongan parhobas membawa setumpuk besar potongan resmi dan binatang sembelihan, kerbau atau babi, seturut besarnya pesta. Setengah berteriak, dia berseru: 
"Inilah bagian-bagian bergelar dan gulai kita. Kami akan menamai bagian-bagiannya. Apakah sudah cocok menurut tuan pesta?” 
Lantas tuan pesta memeriksa sebentar lalu menyatakan kepuasan atau menagih kekurangannya. Semuanya harus dipenuhi! Maka mulailah mereka membagi kelompok per kelompok, yang kemudian membagi antara kelompok dan sub-kelompok, dst.. 

Sihombing [1] menjelaskan ritual makan bersama ini, 
“Dung i dijouhon raja parhata ni parboru ma: ‘Hamu raja ni parboruon nami, ia parjambaran tu hamu songon on ma: panamboli, aliangaliang, dohot na marngingi pangambirang’. Dungi di-alusi raja parhata ni paranak: ‘Ba nunga uli non i nian, alai ala adong do huida hami disi angka soit, ba molo boi lehon hamu ma i dua di hami’. Dioloi paranak do i, jadi dipasahat ma sude jambar ni paranak i tu raja parhata ni paranak. Ia na tinggal di parboru angka on ma: ihurihur, aliangaliang satonga dohot osangosang, na marngingi parsiamun, sombasomba, dohot soit.” 
Waktu pembagian ini bisa agak bising sebab masing-masing menyerukan kawan seperolehan dan sebagian bersungut menuntut bagiannya. Dunia modern hampir pasti tidak bisa mengerti mengapa terjadi pertengkaran hanya karena sepotong daging kecil. 

Andai saja mereka mengerti maknanya mereka akan merasa kagum. Seluruh kata dan tindakan mengandung makna yang mendalam, yakni menyangkut pertaruhan hak hidup di alam kosmos. 

Dalam budaya Batak Toba, binatang sembelihan adalah binatang kosmos, yang di dalamnya setiap orang mendapat tempat dan posisi yang teratur. 

Bila posisi itu dihapus dan tak diakui lewat bagian dan binatang kosmos, maka namanya di hapus dan kehidupan di alam kosmos. Untuk itu, biar kecil, orang harus berani mempertaruhkan nyawa yang terancam maut. 

Hal terpenting dalam ritus ini adalah bahwa si penerima bagian yang penting dan jambar ini adalah mereka yang nanti akan menerima bagian mahar, dan selanjutnya bertanggung jawab untuk membalasnya dengan hadiah tertentu. 


(2) Mahar dan balasnya

Selesai makan, termasuk parhobas (pelayan), maka mulailah puncak pesta perkawina, yaitu pengukuhan perkawinan dan penyerahan mahar. Mula-mula penghulu adat kampung bersangkutan, sebagai pemangku adat berbicara: 
“Semuanya kita sudah makan kenyang dan puas, maka kita mulai berbicara mengenai maksudnya. Ada pun maksud pesta hari ini ialah pesta pernikahan putra dan putri kita, N dan N.” [2] 
Lantas kedua mempelai ditampilkan ke depan khalayak, yang disambut dan direstui oleh orang banyak: 
“Sesuai adat yang ditentukan oleh nenek moyang serta Tuhan Pencipta, kini akan berlangsung penyerahan dan penerimaan adat dan pihak hulahula dan boru serta pihak yang bersangkutan untuk adat mahar. Ini adalah untuk meneruskan adat penyerahan jambar (bagian daging) yang telah kita lakukan tadi....” [3] 
Ritusnya [4]  adalah sebagai berikut:

Pertama, pihak mempelai pria “menyembah” dan menyerahkan mahar kepada mertua yakni orang tua mempelai wanita. Pihak mempelai laki-laki mengumpulkan mahar, uang atau barang, dan ternak untuk selanjutnya diserahkan kepada orang tua mempelai wanita.

Bila janjinya waktu marhusip belum habis maka di minta kesabaran menunggu. Penyerahan mahar ini diikuti pemberian balas dari pihak mertua kepada orang tua mempelai pria. Ini mempunyai unsur-unsur ulos, ladang atau sawah, nasi dengan ikan, seluruh perabot bawaan putri.

Kedua, pihak mempelai pria (biasanya iparnya) ‘menyembah‘ dan menyerahkan bagian mahar bagi Tulang (saudara ibu) dan pengantin putri. Susunan unsur dan mahar ini mirip satu sama lain, tetapi sedikit besarnya kurang dan penerimaan orang tua mempelai wanita, tetapi rasa hormat melebihi yang disebut terakhir. 

Ketiga, penyerahan mahar kepada saudara pengantin puteri (pamarai). Pamarai berarti penerima mahar yang berasal dari kandang (bara). Susunan unsur dan mahar ini menyerupai yang sebelumnya. Tetapi, khas untuk bagian ini, dan karena itu hendaknya diusahakan, ialah bentuk ternak; tetapi bila tak dapat dipenuhi lalu dilambangkan dalam bentuk uang. 

Bila pemberian ini besar, misalnya seekor kerbau, maka diharapkan balasnya juga agak sebanding. Dasar adatnya ialah penerimaan mahar dan menyerahkan ulos. Bukan hanya memberi, tetapi juga ada imbalannya.[5]

Oleh karena itu, penerima mahar ini harus mempertimbangkan sungguh-sungguh apa yang patut dibalaskannya sesuai dengan kadar yang diterimanya. 

Bila maharnya besar, tidak mustahil diserahkan sebidang ladang/sawah yang di sebut ulos na so ra buruk (ulos yang takkan usang). Termasuk pemberian ulos dan pihak hulahula kepada pasangan muda, dan dengan ini diterima oleh boru, dan disebut ulos yang takkan usang. 

Keempat, penyerahan mahar kepada keluarga pilihan (todoan) dan hulahula. Ini pun diserahkan oleh pihak mempelai pria. Susunan unsurnya tetap menyerupai mahar lainnya tetapi jumlahnya lebih kecil. Biasanya ini hanya berupa uang tetapi boleh juga berupa barang.

Demikianlah penyerahan mahar pokok dan “balas”-nya, selalu antara pihak hulahula (pihak mempelai wanita) dan boru (pihak mempelai pria), dalam pengertian kekerabatan komuniter. Disebut mahar pokok, sebab keempat kelompok ini menduduki prioritas sine qua non dalam keseluruhan perangkat mahar. Masih banyak cross gift yang sangat rumit dan saling mengait sehingga makan banyak makan perhatian dan waktu.

Semua yang punya ‘nama’ dan posisi harus mendapat bagiannya termasuk khalayak ramai dalam bentuk uang yang jumlahnya tidak seberapa, sebab mereka turut bergembira dan merestui perkawinan (olopolop).
Demikialah proses dan keindahan perkawinan Batak yang penulis coba bentangkan lengkap dengan tahap-tahap yang diramu dalam ritus yang sangat indah. Ada banyak nilai-nilai indah dan mempesona di sana.

Nilai-nilai indah dan mempesona dari perkawinan adat Batak-Toba yang digambarkan bisa jadi memang tidak seindah dan sememesona yang dilukiskan di sini. Namun, apa yang telah diutarakan di atas mengacu pada sumber otentik dalam rangkaian kepustakaan yang penulis seleksi. 
__________

[1] TM. Sihombing, op. cit., hlm. 80-81. 

[2] Anicetus B. Sinaga, op. cit., hlm. 22. 

[3] Ibid. 

[4] W. Hutagalung, op. cit, hlm. 143; Batara Sangti, Sejarah Batak. Balige: Indera, hlm. 292; EK. Siahaan, Monografi kebudayaan Tapanuli Utara. Medan: Depdikbud, 1967, hlm. 57; SA. Niessen, op. cit, hlm.

[5] Ibid., hlm. 151.


Lusius Sinurat
Diberdayakan oleh Blogger.