Ad Unit (Iklan) BIG

Sombaon dan Sumangot

Sombaon dan Sumangot

Bagi orang Batak, kelompok kekerabatan terdiri dari seluruh anggota keluarga, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Roh mereka yang sudah meninggal dianggap masih “hidup” dalam bentuk begu di dunia tengah (banua tonga), sehingga tetap ada bagi dunia kita yang fana ini

Upacara khusus perlu diadakan untuk memasukkan roh anggota keluarga yang sudah meninggal kedalam golongan sombaon, roh alam yang yang tinggi martabatnya, yang diwujudkan dalam bentuk patung pahatan kayu ataupun batu.

Sombaon ialah roh alam yang yang tinggi martabatnya. Sumangot = roh (sumangot ni ompu, roh nenek moyang), semangat (JP. Sarumpaet, 1994: 258 & 264).

Patung dari batu (togu, tugu), yang rupanya khusus didirikan untuk tokoh agung itu, diberi tempat di daerah yang letaknya di atas desa, atau dekat mata air yang membawa air tawar dan mengatur pengairan sawah, sehingga sombaon tersebut senantiasa menjamin agar semua penduduk desa tetap hidup makmur.

Roh leluhur ini dapat dilantik ke derajat yang lebih tinggi menjadi yaitu sumangot (roh nenek moyang) dengan melakukan upacara mangongkal holi.


(3) Kurban dan Ritual Keagamaan

Sebagian besar ritual atau upacara keagamaan bertujuan menghormati roh-roh leluhur dan terbatas pada lingkungan keluarga saja.

Laki-laki tertua lah yang mempunyai tugas memimpin upacara, tanpa diperlukan seorang datu atau guru yang berfungsi sebagai imam.

Bila malapetaka menimpa sebagian besar masyarakat, sebuah upacara luar biasa dilakukan secara besar-besaran, yang penyelenggaraannya dipimpin datu, dan dinamakan horja bius.


(4) Pengaruh Agama Kristen

Agama Kristen turut mempengaruhi kehidupan masyarakat Batak-Toba. Bagaimana tidak, melalui pertemuan kedua agama yang berbeda itu kita bisa menemukan adanya usaha ke arah inkulturasi.

Dalam hal tarombo (silsilah), misalnya, ada orang Batak yang berhasil membaurkan kepercayaan asli mengenai silsilah ini dengan kepercayaan agama Kristen: Raja Ihat Manisia dimasukkan ke dalam keturunan Daud, Ishak, Abraham, Nuh, Adam dan Hawa.

Memang sih secara nyata Injil baru memasuki tanah Batak sejak tahun 1861 oleh para penginjil dari Barat, baik dari Inggris, Amerika, Belanda; dan yang paling berpengaruh adalah pendeta I. L. Nommensen, seorang penginjil Lutheran dari Jerman (Bdk. John B. Pasaribu, 2002: 10-12).

Bacaan:
JP. Sarumpaet, Kamus Batak-Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1994.
John B. Pasaribu, Pengaruh Injil dalam Adat Batak. Jakarta: Penerbit Papas Sinar Sinanti, 2002, hlm 10-12.

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Subscribe Our Newsletter