Ad Unit (Iklan) BIG

Tahap Persiapan - Marhusip, Marhata Sinamot dan Tahap Akhir

Posting Komentar

Tahap I
PERSIAPAN

3. Marhusip dan Marhata Sinamot
Disebut marhusip (berbisik), sebab hasil pembicaraan antara kedua belah pihak harus dirahasiakan sampai “Hari H” upacara perkawinan. Istilah marhusip juga menunjuk pada belum resminya pembicaraan kedua belah pihak (parboru dan paranak), dan oleh karenanya tidak perlu diketahui oleh umum.

Demikian dikatakan Sihombing, “Umbahen na nidok pe songon i goar ni ulaon i, na mandok na so resmi dope pangkataion i jala ndang pola dope porlu botoon ni umum, ai hira songon holan na masidooan roha dope disi." (TM. Sihombing, op. cit., hlm. 45).

Makna dari upacara ini terkandung dalam dua umpasa berikut ini: “manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung” atau “jolo nidodo asa hinonong” Dari kedua umpasa ini adalah menekankan perlunya persiapan yang sungguh-sungguh untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara tersebut. Umpasa lain mengungkapkan agar setiap orang yang ingin menikah terlebih dahulu memperhitungkan kemampuan finansialnya: “jolo tinaha garungniba, niantan sulangat-niba.”

Acara ini biasanya dilangsungkan di rumah pihak parboru (pengantin perempuan). Sebelum acara marhusip dimulai, pihak paranak sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu maksud kedatangan mereka dan jumlah mereka.

Setelah ritus marhusip selesai, lalu diadakan marhata sinamot (penentuan mas kawin atau mahar). Tata cara yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:
  • Paranak dan rombongannya berangkat pada waktu yang sudah ditentukan menuju kampung parboru untuk marhata sinamot (membicarakan perihal maskawin) dan segala sesuatu yang akan dilakukan sehubungan dengan pernikahan putera-puteri mereka. Pada saat itulah parboru menerima bohi ni sinamot (panjar maskawin) yang disebut tanda burju (simbol kebaikan).
  • Setelah itu paranak dan parboru memberikan uang ingotingot kepada semua pihak yang ikut serta dan terlibat dalam upacara ini. 
Dalam buku yang sama, Sihombing [SA. Niessen, op. cit.: 127) menuturkan ritual ini sebagai berikut: "Borhat ma paranak dohot rombonganna di ari naung tinontuhon tu huta ni parboru marhata sinamot dohot sude siulaon na mardomu tu parbagasaon ni anak dohot boru. Di si ma dijalo parboru sian paranak “bohi ni sinamot” na ginoar huhut “tanda burju”. Dung i dilehon paranak dohot parboru ma hepeng “ingotingot” tu angka na dohot tu parhataan i."
Kedua upacara ini diselenggarakan sesuai dengan konsep perkawinan menurut adat Batak-Toba, dimana setiap perkawinan adalah kesempatan untuk mengikat kekerabatan (SA. Niessen, op. cit.: 127). Kekerabatan baru ini dilakukan dengan membuat pesta dan tukar-menukar ‘pemberian’. ‘Siapa menerima dan membalas pemberian dengan apa’ diatur dengan rapi dalam adat. Sekurang-kurangnya orang tua kandung mempelai wanita, saudara ibunya, saudaranya serta salah seorang yang diajukan sebagai sahabat dekatnya (todoan) mutlak harus mendapat bagian dari mahar.

Sebagai balasnya mereka juga harus menyediakan pemberian, umumnya berupa ulos, beras, ikan, ladang atau sawah. Sebaliknya dan pihak keluarga mempelai pria akan diserahkan uang, barang berharga (piso, pusaka), daging, ternak.

Ritual marhusip ini harus lebih dahulu dirancang dan direncanakan dalam 'bahasa' tawar-menawar. Untuk merancang upacara ini, maka dengan membawa anggota keluarga dekat, pihak mempelai pria berkunjung ke rumah pihak mempelai wanita, yang juga sudah mengundang kerabat yang paling bersangkutan dengan adat perkawinan itu.

Besarnya mahar—baik seluruhnya maupun bagian-bagiannya—ditentukan pada saat itu, kendati penyerahannya akan dilakukan pada saat perkawinan. Juga ditentukan barang apa akan dibawa atau diserahkan oleh keluarga mempelai wanita, siapa membayar pesta dan kapan diadakan pesta perkawinan. Bila semuanya rampung, mereka pun pulang mempersiapkan hal-hal yang perlu untuk pesta perkawinan.


4. Akhir dari Tahap Persiapan
Syarat pertama untuk persiapan ini adalah adanya kesepakatan antara paranak dan parboru tentang upacara yang akan dilangsungkan. Biasanya pihak yang mempersiapkan upacara adalah pihak parboru dibantu oleh dongan sabutuha-nya, dongan sahuta dan pihak-pihak lain yang sudah ditunjuk (tutur na asing).

Sepertiga kerugian panjuhuti (biaya pesta) biasanya ditanggung oleh parboru dan dua per tiganya ditanggung oleh paranak. Di jaman sekarang, terutama di antara orang Batak Toba yang tinggal dan menetap di kota-kota besar, terdapat perbedaan dalam cara melakukannya.

Ada 3 (tiga) kemungkinan yang terjadi menengenai siap yang harus mempersiapkan upacara yang akan dilangsungkan: 
  • Parboru yang keseluruhan pesta, namun semua kerugian pesta ditanggung oleh paranak.
  • Paranak yang menyiapkan dan menanggung semua kerugian pesta. Cara ini disebut taruhon jual. Konsekuensinya, semua boras (beras, kado yang didapat dari pesta) hanya diterima oleh paranak.
  • Pada waktu marhata sinamot, paranak menggabungkan kerugian pesta dengan sinamot tanpa membuat perincian. Cara ini disebut sitombolo. Kalau parboru setuju, maka merekalah yang mengadakan pesta sesuai dengan kemampuannya. Sesuai dengan kebiasaan dulu, dimana parboru mengadakan pesta dan sepertiga dari sipalahoon tu panjuhuti berasal dari parboru dan duapertiga dari paranak. 

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter