Tiga Bagian Utama Ritus Perkawinan Adat Batak Toba

Unsur-unsur Perkawinan Adat Batak Toba - 2
Salah satu contoh ritus perkawinan batak toba, saat memberi ulos hela.
(Foto: Lusius Sinurat)
Pada umumnya upacara perkawinan didahului oleh upacara pertunangan.

Upacara ini bersifat khusus dan otonom; diakhiri dengan tata cara yang menjamin, baik awal penyatuan kedua calon pengantin ke dalam lingkungan baru maupun perpisahan dan peralihan dari masa peralihan tetap, sebagaimana akan diteguhkan dalam upacara perkawinan.[1] 

Tata upacara perkawinan terdiri dari tata cara penyatuan tetap (permanen) ke dalam lingkungan baru, kendati seringkali digolongkan ke dalam tata cara penyatuan yang bersifat personal. [2] 

Berdasarakan jenisnya ritus perkawinan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan [3], yakni:

1. Unjuk
Ritus perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan semua prosedur adat Batak Dalihan Na Tolu. Berikut adalah tata upacara ritus perkawinan biasa (unjuk):
Tahap 1 - Paranakkon Hata
  • Paranakkon hata artinya menyampaikan pinangan oleh paranak (pihak laki-laki) kepada parboru (pihak perempuan
  • Pihak perempuan langsung memberi jawaban kepada utusan pihak laki-laki pada hari itu juga.
  • Utusan paranak panakkok hata berasal dari masing-masing satu orang dongan tubu, boru dan dongan sahuta. 
Tahap 2 - Marhusip
  • Marhusip artinya membicarakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh pihak paranak sesuai dengan ruhut adat di huta i (ketentuan adat setempat) dan sesuai dengan keinginan parboru.
  • Pada tahap ini tidak pernah dibicarakan tentang jumlah sinamot (maskawin), sebaliknya yang dibicarakan hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan marhata sinamot dan ketentuan lainnya.
  • Pihak yang disuruh marhusip ialah masing-masing satu orang dongan tubu, boru tubu dan dongan sahuta. 
Tahap 3 - Marhata Sinamot
  • Marhata Sinamot berarti mendiskusikan bersama mengenai besaran sinamot (maskawain) dan jambar sinamot (pembagian sinamot).
  • Pihak yang ikut marhata sinamot adalah masing-masing 2-3 orang dari dongan tubu, boru dan dongan sahuta.
  • Mereka tidak membawa makanan apa-apa, kecuali makanan ringan dan minuman.
Tahap 4 - Marpudun Saut [4]
  • Marpudun saut artinya merealisasikan apa yang dikatakan dalam paranak hata, Marhusip, dan marhata sinamot. 
  • Semua yang dibicarakan pada ketiga tingkat pembicaraan sebelumnya dipudun (disimpulkan/dirangkum) menjadi satu untuk selanjutnya disahkan oleh tua-tua adat. Itulah yang dimaksud dengan dipudun saut. 
  • Dalam upacara dipudun saut sudah diputuskan: ketentuan yang pasti mengenai sinamot, ketentuan jambar sinamot kepada si jalo todoan, ketentuan sinamot kepada parjambar na gok, ketentuan sinamot kepada parjambar sinamot, parjuhut, jambar juhut, tempat upacara, tanggal upacara, ketentuan mengenai ulos yang akan digunakan, ketentuan mengenai ulos-ulos kepada pihak paranak, dan ketentuan tentang adat.[5]  
  • Setelah semua itu diputuskan dan disahkan oleh pihak paranak dan parboru, maka tahap selanjutnya adalah menyerahkan bohi ni sinamot (uang muka maskawin) kepada parboru sesuai dengan yang dibicarakan.
  • Setelah bohi ni sinamot sampai kepada parboru, barulah diadakan makan bersama dan padalan jambar (pembagian jambar).  Dalam mardipudun saut tidak ada pembicaraan tawar-menawar sinamot, karena langsung diberitahukan kepada hadirin, kemudian parsinabung parboru mengambil alih pembicaraan. Pariban adalah pihak pertama yang diberi kesempatan untuk berbicara, disusul oleh simandokkon, pamarai, dan terkahir oleh Tulang. 
  • Setelah selesai pembicaraan dengan si jalo todoan maka keputusan parboru sudah selesai; selanjutnya keputusan itu disampaikan kepada paranak untuk melaksanakan penyerahan bohi ni sinamot dan bohi ni sijalo todoan. Sisanya akan diserahkan pada puncak acara, yakni pada saat upacara perkawinan nanti.
Tahap 5 - Unjuk 
  • Semua ulaon unjuk (upacara perkawinan) harus dilakukan di alaman ni parboru (halaman rumah pihak perempuan), di mana pun upacara perkawinan dilangsungkan.Urutannya adalah sebagai berikut: 
  1. Memanggil liat ni Tulang ni boru muli,
  2. Menentukan tempat duduk, [6]
  3. Mempersiapkan makanan,
  4. Paranak memberikan na margoar ni sipanganon dari parjuhut horbo, 
  5. Parboru menyampaikan dengke (ikan, biasanya ikan mas), 
  6. Doa makan,
  7. Membagikan jambar,
  8. Marhata adat. 
  • Tanggapan oleh parsinabung ni paranak; dilanjutkan dengan tanggapan oleh parsinabung ni parboru 
  • Tanggapan parsinabung ni paranak; dilanjutkan dengan tanggapan p;ej parsinabung ni parboru 
  • Pasahat sinamot dan todoan 
  • Mangulosi Padalan Olopolop 
Tahap 6 - Tangiang
  • Tangiang Parujungan
2. Mangadati
Ritus perkawinan yang dilaksanakan di luar berdasarkan adat Batak Dalihan Na Tolu. Tak heran bila pasangan yang mangalua atau kawin lari, ritual mangadati masih bisa dijalankan, asal ritusnya dilakukan sebelum pasangan tersebut memiliki anak.

3. Pasahat Sulang-Sulang Ni Pahoppu
Ritus perkawinan yang dilakukan di luar adat Batak Dalihan Na Tolu, sehingga pasangan bersangkutan mangalua dan ritusnya diadakan setelah memiliki anak.

_________

[1]  Bdk. TM. Sihombing, Jambar Hata Dongan tu Ulaon Adat (cet.ke-3). Medan: Tulus Jaya, 1989, hlm. 40-73. 

[2]  Arnold van Gennep, The Rites of Passage. London & Henley: Routledge & Kegan Paul, 1965, hlm. 116. 

[3]  Bdk. SHW. Sianipar DL., op. cit., hlm. 465-466. 

[4]  Bdk. Ibid., 213-217. 

[5] Bdk. TM. Sihombing, op. cit., hlm. 65-73. 

[6] Mengenai tempat duduk di dalam upacara perkawinan diuraikan dalam Dalihan Natolu. (bdk. SHW. Sianipar DL., op. cit., hlm. 201-212). 

Diberdayakan oleh Blogger.