Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Musik dan Lagu Liturgi (Part 1)

Musik dan Lagu Liturgi
Ilustrasi: Internet
DEFINISI SENI DAN MUSIK LITURGI

A. SENI DAN LITURGI

01. Apa sih SENI itu ? Upaya menampilkan makna atau nilai-nilai terdalam dari sesuatu
Dengan cara (a) menyiasati bentuk, (b) melebih-lebihkannya, (c) mengkilapkannya, atau (d) merayakannya.

02. Berarti Seni itu kebohongan yang menampilkan kebenaran dong? Seni bukan hanya soal keindahan bentuk, tapi juga kebenaran yang ditampilkannya.
Sebab, kebenaran itu menampilkan “sisi-sisi penting yang lebih mendalam” dibalik benda-benda atau pengalaman manusia.

03. Bagaimana menangkap Kebenaran yang ditampilkan dalam karya seni? Tak bisa hanya dengan penalaran, tetapi terutama dengan kepekaan perasaan dan imajinasi.
Sebab, kebenaran itu berkaitan dengan misteri yang umumnya sulit dipahami oleh penalaran. Ia hanya bisa dialami dan dirasakan.

04. Maksudnya ? Pengalaman seni itu sama saja dengan pengalaman estetik. Kayak pengalaman bermain gitu lho. Misalnya permainan pasir (tanpa aturan) atau permainan sepakbola (aturannya jelas).
Dalam permainan-permainan itu ada:
  • ekspresi dan interaksi total, 
  • kesungguhan sekaligus kesadaran kalau itu cuma permainan belaka, 
  • pemahaman karena ikut terlibat, menyatu dan menikmatinya, serta merasakan dan berimajinasi dengannya; dan 
  • tegangan antara kreativitas pribadi versus ketaatan pada aturan.

    B. SENI DALAM LITURGI

    01. Liturgi adalah pengalaman bergaul dengan simbol : Di dalam liturgi tampil: [i] sisi-sisi penting dan misterius dari kebenaran ilahi, dan [ii] hidup kita—lewat keterlibatan total dan menenggelamkan diri di dalamnya dengan perasaan, imajinasi dan pikiran kita. Maka simbol-simbol liturgi yang benar ialah simbol-simbol yang [i] bermutu seni tinggi, dan [ii] memiliki rangsangan kuat bagi perasaan dan pikiran kita.

    02. Konsekuensinya, segala hal dari liturgi perlu digarap dari sudut seni :
    • Benda yang digunakan, 
    • Kata yang diucapkan, dan 
    • Gerak yang diperagakan. 
    03. Tujuannya jelas, yakni supaya liturgi itu tampil indah dan efektif, imajinatif dan komunikatif dalam :
    • Menghadirkan kenyataan ilahi, 
    • Merogoh kedalaman pengalaman seseorang, hingga tujuan itu sampai pada perasaan, pikiran, dan imajinasi.

      C. SENI DAN PERLENGKAPAN LITURGI

      1. Elemen Rupa
      • Seluruh Perlengkapan Liturgi perlu didesain sedemikian rupa, sehingga mampu : [i] Mengaksentuasikan perayaan, misteri, keagungan dan keintiman, tanpa kehilangan makna teologisnya. [ii] Namun perlu dipertimbangkan nilai-nilai assosiatif dari benda atau hal tersebut.
      • Dekorasi interior : [i] Harus ber-efek menciptakan suasana pertemuan antara Allah dan manusia; [ii] Penting untuk memainkan benda (design interior) dan cahaya (lighting).
      02. Elemen Gerak
      • Liturgi Katolik cenderung terlalu [i] verbal, [ii] pasif, [iii] intelektualis, dan [iv] formalistis.
      • Untuk itu harus disiasati dengan pengembangan gerak dan bahasa tubuh (gestura) sesuai dengan kebiasaan setempat.
      • Gestura perlu untuk meluluhkan kekakuan suasana, kesombongan manusia, dst.
      03. Elemen Bunyi, Suara, dan Kata
      • Nada, melodi, cara membaca (notasi) mesti menampilkan kekuatan perasaan dan imajinasi dari kata dan Firman.
      • Pilihan Lagu dan cara menyanyikannya mesti mampu menghasut perasaan dan memperdalan motivasi.
      • Kata perlu dibawakan sesuasi dengan bentuk sastranya, misalnya : [i] Cerita, [ii] Perumpamaan, [iii] Berita, [iv] Himbauan, [v] Nasihat, dst.
      • Kata dan Nada mesti mampu menggugah dan menyentuh perasaan terpelik dan terhalus kita, yang biasanya tersembunyi.

      D. MUSIK DAN MANUSIA : MUSIC SPEAKS THAN WORDS

      01. Manusia tak terpisahkan dari musik :
      • Suara bisa ditata menjadi nada;
      • Nada + kata = lagu;
      • Musik = pengorganisasian bunyi-bunyian.
      02. Musik turut merembesi hidup kita :
      • Hidup rasanya hambar tanpa musik (cf. Pesta adat perkawinan orang Batak);
      • Artinya, musik memberi “arti-nilai-arah yang baru”.
      03. Itu karena musik mampu :

      • Menyirami yang layu dan kering;
      • Menggarami yang hambar; dan
      • Menyemangati yang loyo.

      E. MUSIK LITURGI

      01. Sacrosanctum Concilium (SC) No. 112
      • SC 112: “Tradisi musik Gereja Semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, - terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata - merupakan bagian liturgi meriah yang penting dan integral...”
      • Musik yang dimaksud adalah ungkapan vokal (lagu yang dinyanyikan) dan instrumental (musik pengiring) dari perayaan selebratif gerejani (Perayaan Ekaristi, Ibadat Sabda, dll)
      02. Kriteria musik liturgi :
      • Mampu menjadi medium yang lebih ekspresif dibanding percakapan biasa
      • Mampu mengungkapkan intensitas perayaan melalui tempo, volume, melodi dan ritmenya. 
      03. Alasan mengapa musik sangat penting :
      • Musik memiliki keindahan tersendiri.
      • Musik sangat esensial bagi liturgi (Ef 5:19, SC 112).
      • Musik mengemban tugas fungsional dalam liturgi.

      F. TUJUAN MUSIK LITURGI

      01. Tujuan dan Konsekuensinya 
      1. Mendukung ibadah kepada Tuhan: memuliakan Allah dan menguduskan manusia.
      2. Konsekuensinya: para pelaku liturgi (mereka yang dilibatkan dan mau terlibat) harus thau arti dan fungsi musik, obyek dan kata-katanya dalam liturgi.

      02. Fungsi Musik Liturgi (Minus Ministeriale)
      a. Berkaitan dengan liturgi itu sendiri:
      1. Sesuai dengan ajaran resmi Gereja
      2. Dalam tiap musik terdapat komposisi yang memiliki: 
      • Latarbelakang proses kreatif/pembuatannya yang beragam,
      • Citarasa estetik, dan
      • Perspektif liturgi yang berbeda.
      b. Berkaitan dengan umat
      1. Harus melihat konteks umat yang merayakan perayaan-perayaan liturgi itu sendiri.
      2. Peran-peran umat dalam musik liturgi (SC 30) a.l :
      • Responsalium (mis.: jawaban atas seruan imam/pemimpin ibadat)
      • Aklamasi,
      • Mazmur,
      • Antifon, dan
      • Lagu/Nyanyian.
      c. Faktor Penting dari Musik Liturgi :
      Pemilihan lagu: harus disesuaikan dengan : 
      • Bacaan;
      • Masa-masa dalam Tahun Liturgi; serta
      • Kemampuan menyanyi, baik solis/pemazmur, koor, maupun umat.
      Kendati kepentingan umat yang merayakan liturgi lah yang utama, tapi peran musik tetap diberi tempat, sebab musik mampu :
      • Menambah keagungan perayaan Liturgi
      • Mendandani liturgi dengan keindahan
      • Mempersatukan umat menjadi sehati dan seekspresi.

      G. KRITERIA MUTU MUSIK LITURGI

      Kriteria Mutu
      1. Menebarkan kepantasan dan kemegahan upacara-upacara gerejani.
      2. Teks lagunya bersifat persuasif: ada keseimbangan antara musik dan teks lagu.
      3. Sesusai dengan masa liturgi, bacaan-bacaan hari bersangkutan
      4. Memperhatikan kemampuan umat menyanyikannya.
      Jenis Musik
      1. Tidak ada jenis musik yang ditolak oleh gereja.
      2. Yang penting:
      a. Sesuai dengan jiwa perayaan liturgis itu sendiri dan
      b. Selaras dengan hakekat masing-masing bagian (lih. Point 3-a di atas)
      c. Tidak menghalangi partisipasi aktif dari umat (SC 28)
      Catatan: Patut Diperhatikan !
      1. Umat harus diutamakan. Mereka harus berperan aktif.
      2. Kemeriahan perayaan liturgi tak tergantung, pertama-tama pada indahnya nyanyian atau bagusnya upacaranya, melainkan pada makna dan keterpaduan antara bagian-bagian yang terdapat dalam perayaan liturgi itu sendiri.
      3. Jadi, seluruhnya dong!

      H. PERANSERTA UMAT DALAM MUSIK LITURGI
      Sifat Peranserta Umat : Penuh, sadar dan aktif, baik secara lahiriah maupun secara batiniah

      Bentuk Partisipasi Umat dalam paduan suara atau Koor.

      1) Kriteria keanggotaan :
      • Anak-anak
      • Remaja
      • Dewasa
      • Laki-laki
      • Wanita
      • Campuran
      2) Tempat di Gereja :
      • Ditempatkan sedemikian rupa sehingga tampak jelas oleh umat.
      • Kalau beranggotakan (juga) wanita, hendaknya ditempatkan di luar panti imam.
      3) Sifat :
      • Koor tidak mengucilkan umat (yang tidak terlibat dalam koor tersebut)
      • Terutama dalam :
      • Aklamasi-aklamasi, seperti jawaban atas salam imam/pemimpin ibadat. 
      • Doa-doa litani 
      • Antifon dan mazmur 
      • Refren dan ayat-ayat ulangan 
      • Madah dan kidung
      Catatan:
      1. Umat harus diberi instruksi dan latihan-latihan yang memadai, khususnya mengenai bagian-bagian yang menjadi hak mereka. 
      2. Maka, (1) hindari penyajian lagu-lagu proporium dan ordinarium yang 100% dipercayakan kepada koor, serta (2) tetap memperhatikan saat-saat hening. Lanjut Baca!

      lusius-sinurat
      Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

      Related Posts

      Posting Komentar






      DONASI VIA PAYPAL
      Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

      Subscribe Our Newsletter