Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

HM. PRAPASKAH II (20 Maret 2011)

Bacan I : Kej 12:1-4a
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.


Bacaan II: 2 Tim 1:8b-10
Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.


Injil: Mat 17:1-9
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."


Renungan:
Perutusan Abraham dimulai dengan imperasi Allah "pergilah". Kata pergi mengandaikan bukan saja menyuruh ke tempat lain, tapi juga mengusir dari tempatnya semula. Tak mudah, di umur 75 tahun orang disuruh pergi meninggalkan apa yang sudah puluhan tahun ia perjuangkan. Di dunia nyata sekarang ini, di usia 75 tahun tak banyak orang yang suka bepergian, apalagi harus meninggalkan selamanya tempat ia "pensiun" dan menikmati hasil kerjanya. Bila saja Abraham menolak, pasti juga Tuhan tidak memaksa dan lantas mengantarnya ke neraka. Toh, sebagaimana kita ketahui dari Kitab Suci, hidup Abraham sungguh berkenan di hadapan Tuhan. 

Namun Abraham tidak memilih alternatif kedua itu. Ia memilih alternatif yang pertama dan utama: yakin kalau yang nyuruh itu Tuhan, bukan hantu. Dengan keyakinan yang sama, Abraham pun 100% taat karena ia percaya justru keadaannya akan menjadi lebih baik. Gambling? Mungkin saja ya. Tapi kalau kita cermati lebih mendalam, sebetulnya Abraham justru jauh dari perjudian hidup. Ia malah meyakini bahwa hidupnya sebelum dipanggil jauh lebih bersifat gambling daripada setelah panggilannya menjadi bapak bangsa. "Aku akan memberkati engkau" adalah kata2 kunci dari jawaban Abraham atas panggilan Allah. Berkat itu bahkan dijabarkan lagi secara detail: siapapun yang memberkati engkau akan Kuberkati; dan siapapun yang mengutuk engkau akan Kukutuk. Artinya, bukan saja Abraham menjadi berkat bagi Tuhan, tapi secara otomatis ia juga menjadi berkat bagi siapa pun yang memberkati, pun yang diberkatinya.

Sebagai pengikut Yesus, kita adalah orang-orang terberkati, sama seperti Allah memberkati Abraham. tinggal bagaimanak sikap kita atas panggilan Allah untuk menjadi berkat bagi yang lain. Hanya mereka yang berani mengatakan ya dalam menanggapi panggilan Allah sajalah yang akan terbekati. Amin.



_Lucius Sinurat_
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter