Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Doa: Mebiarkan Kehendak Allah Yang Terjadi

17 Maret 2011
Hari biasa Pekan I Prapaskah, St. Patrik

Bacaan I: Est 4:10a,10c-12,17-19
Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja." Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.

Injil: Mat 7:7-12
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.



Renungan:
Banyak orang berdoa dan berdoa demi sebuah jawaban yang pasti dan tepat sasaran. Tak jarang, setiap doa dipandang sebagai pelepas dahaga atau telepon mesin penjawab. Orang lalu berdoa, memohon sesuatu kepada Allah. Entah itu pekerjaan, jodoh, kesehatan, dan seterusnya. Doa dipandang sebagai toko serba ada. Bedanya, toko serba ada tanpa bayar. Pemiliknya adalah Tuhan yang tidak tampak tapi sungguh mengawasi. Bila membeli di 'toko' itu kita tinggal "maen ngambil aje" dan enggak usah bayar.


Demikianlah doa banyak dipahami dan dihidupi banyak orang. Akibatnya tragis! Bila doanya tidak dikabulkan (versi si pendoa bersangkutan), ia akan sagat marah dan mulai mengutuk Tuhan. Dunia globalisasi yang memang penuh dengan gombalisasi ini secara tidak sadar telah menggiring kita menjadi orang yang pragmatis: semua bisa dibeli, asalkan berguna! Praktek doa dengan mentalitas dagang ini sungguh membahayakan ! Selain merusak statistik (karena orang mulai pindah-pindah agama / kepercayaan), juga merusak dirinya sendiri. Soalnya, tindakan semacam ini sama saja sebagai tindakan menyangkal diri sendiri sekaligus peng-obyek-an orang lain. Bila semua dihitung dan diperhitungkan secara matematis, maka hidup tak lebih dari seonggok kalkulator yang siap menjumlah apa yang kita beri dan apa yang kita minta.
Doa yang sesungguhnya adalah doa yang bersumber dari atau berpuncak pada kehendak Allah. Singkatnya, doa ialah kepasrahan kita kepada kehendak Allah. Sebuah kepasrahan karena kita tidak mampu: tidak saja untuk melakukan sesuatu tetapi juga untuk memahami sesuatu dalam hidup kita. Dengan doa, sebagaimana Maria Bunda Allah, kita justru membiarkan Allah menentukan mana yang baik bagi kita, tapi menurut Allah sendiri, dan pasti bukan menurut diri kita sendiri. Semoga.

_Lucius Sinurat OSC_
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter