Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kematian Absurd

Jean-Paul Sartre, seorang filsuf ateis, pernah mengatakan bahwa kematian itu 'absurd', begitu absurd karena tidak bisa dimengerti sama sekali dalam konteks kehidupan. Baginya, hidup kita ini berujung pada sebuah titik kosong, yakni kematian. Kita tidak bisa berbuat apa-apa di depannya. 

Benarkah begitu? Belum tentu. Sebab, ada yang lebih absurd lagi dari kematian, yakni saat kita sudah 'mati' ketika masih hidup. 'Kematian' ini lebih menghancurkan jiwa, mengoyakkan hati dan badan. Dan ini terjadi karena berbagai kelekatan, keterikatan kita. Caranya mudah untuk mendeteksinya. 

Tanyalah pada diri sendiri, siapa (apa) yang paling berarti dalam hidupku?Kalau ia diambil dari dunia ini, kita merasa kehilangan pegangan, kehilangan 'hidup'. Keterikatan, di dalam kesedihan, membuat kita kehilangan iman. "Yesus menangis". Ayat ini adalah ayat paling pendek dalam Kitab Suci. 

Sesederhana itu pula nampaknya. Yesus menangis ketika melihat Maria dan orang-orang menangis karena kematian Lazarus. Yohanes mencatat bahwa Yesus menangis sebagai ungkapan 'kasih-Nya' yang begitu besar kepada Lazarus dan saudara-saudaranya. 

Namun, tidak seorangpun bertanya, mengapa Yesus menangis? Apakah tangis Yesus itu sama dengan saat Ia berada di Getsemani? Tidak sama. Di sini, di Betania, Yesus menangis 'ketika melihat' banyak orang meratapi kematian Lazarus. 

Yesus, tidak menangisi Lazarus.Tentu saja. Yesus tidak menangisi Lazarus. Yesus 'sudah tahu' sebelumnya bahwa Lazarus akan dibangkitkan-Nya dari kematian. Itu sebabnya Yesus 'sengaja tinggal dua hari lagi' ketika mendengar kabar bahwa Lazarus sakit.

Bagi Yesus, kebangkitan adalah 'kepastian', bukan sekedar perkiraan, apalagi omong kosong! Di dalam hati-Nya, kebangkitan itu sangatlah riil, pasti dialami oleh mereka yang percaya. Jadi, mengapa Yesus menangis? 

Ia menangis karena melihat betapa dahsyat 'kelekatan' dan 'cinta yang salah' mengobrak-abrik jiwa manusia. Ia menangis karena kematian (orang yang disayangi), ternyata dilihat begitu 'absurd' oleh orang-orang ini, bahkan juga oleh Marta dan Maria, para sahabat-Nya itu. 

Mereka ini benar-benar sulit percaya akan kebangkitan. Bagi mereka, yang riil, yang di depan mata, 'hanya' kematian, lain tidak! Ketidakmasukakalan itu juga dilihat oleh Yehezkiel. Bagaimana Tuhan mau membangkitkan tulang-tulang yang kering itu? 

Tapi satu hal dilupakannya, yakni bahwa di dunia ini dan di dunia nanti, hanya Tuhan yang membuat segala sesuatu itu hidup. Jadi kalau Ia bersabda hendak membangkitkan Israel, maka kata-kata itu sama sekali bukan omong kosong! 

Itu bukan janji sehidup semati yang diucapkan oleh dua orang kekasih. Itu bahkan 'bukan' janji, tapi kenyataan yang akan terjadi. Ingat, Tuhan itu Pencipta kehidupan!

Ketidakpercayaan kita, sikap apatis dan juga sinis, di depan peristiwa kematian hanya makin membuat kita 'kehilangan hidup'. 'Kelekatan' (rasa sayang?) yang berlebihan pada seseorang hanya akan membuat kita makin sulit percaya pada kebangkitan. 

Neil Peart, penabuh drum kelompok musik 'Rush', hampir tak pernah tersenyum selama berpuluh tahun, sejak kematian anak semata wayang dalam kecelakaan, yang disusul kematian istrinya karena depresi. 

Seorang teman tiba-tiba ketus dan sinis sejak dikhianati orang terdekatnya sendiri. Seorang anak menjadi sangat minder sejak orangtuanya selingkuh dan menikah dengan orang lain. Lihatlah, kesedihan kita itu berbeda sekali dengan kesedihan Yesus. 

Kita sedih, karena begitu 'lekat' pada sesuatu atau seseorang. Yesus sedih, karena melihat kita begitu sulit percaya.

Iman akan kebangkitan hanya mungkin bila kita siap 'melepaskan'. Iman itu hanya akan tumbuh dan bersemi, kalau kita berhenti mengutuki kematian dan kepergian, berhenti mengatasnamakan 'rasa sayang' demi memiliki dan memaksa seseorang, berhenti bersembunyi di 'tempat gelap' kubur yang kita gali sendiri entah karena kekecewaan maupun kesenangan yang berlebihan. 

Harus berani 'melepaskan' semua 'ikatan' kain kafan yang mematikan itu, dan 'keluar' dari sana! Lazarus dibangkitkan hanya dengan kata-kata yang sama, "Keluarlah!" 

Nampaknya masih banyak orang yang 'terikat' pada cinta yang salah, yang terlalu banyak mencurigai pasangan, terlalu cemburu (?), terlalu memaksa dan posesif, sampai-sampai sosok yang seharusnya bahagia karena dicintai malah menderita dan 'mati'. 

Mengapa kita bicara tentang cinta? Karena setiap 'kelekatan' adalah cinta yang salah, dan memang itulah penghalang terbesar iman akan kebangkitan. Sungguh, kebangkitan adalah hal paling riil yang disabdakan Yesus. Kalahkanlah 'kematian' kita masing-masing dengan belajar 'melepaskan'. Amin.




Bacaan-bacaan 

Yeh 37:12-14 
Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN."


Rm 8:8-11

Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.


Yoh 11:1-45

Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?" Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya." Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya." Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."


Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidu p; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" Maka menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!" Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter