Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Membaca Kebenaran

Tiap Hari Kita Pasti Membaca
Suka atau tidak suka, kita hampir selalu berhubungan dengan huruf, kata, atau kalimat. Pendek kata, kita tak pernah bisa menghindar dari kegiatan "membaca". Dahulu, selain berkomunikasi langsung, orang hanya mengandalkan bahan bacaan untuk mengetahui apa yang terjadi, bahkan apa itu sebuah kebenaran. Kitab-kitab yang terbuat dari gulungan papirus, prasasti-prasasti yang menggunakan batu sebagai media tulisan, surat, atau dokumen-dokumen dari masa lalu menjadi salah satu bukti betapa membaca itu berarti meyakini kebenaran yang ada di masa lalu.

Setiap hari, bahkan setiap menit, selalu muncul tulisan di forum KOMPASIANA yang kita cintai ini. Saya selalu menyempatkan diri untuk membaca artikel teman-teman KOMPASIANA: apapun bentuknya. Sepintas saya akan melihat "judul" atau tema terlebih dahulu, sebelum 'berselancar' ke TKP (istilah beberapa KOMPASIANA menuju tulisan KOMPASIANA yang lain). Sepintas, saya seringkali tergoda untuk menyimpulkan sebuah tulisan itu menarik/berbobot atau tidak. Sebagaimana admin KOMPASIANA yang secara sepihak nekad mengkategorikan tulisan-tulisan tertentu sebagai "tulisan yang layak dibaca", saya juga selalu memiliki persepsi tentang tulisan mana yang menarik menurut saya. Ya, begitulah "side-effect" dari kegiatan yang namanya membaca. Di dalam kegiatan membaca termaktub hasrat untuk menilai, menganalisa, atau menyimpulkan isi tulisan tertentu. Bahkan takk jarang kita meyakini bahwa tulisan kitalah yang paling bagus/menarik atau paling keren. Alasannya sangat simpel, karena saya yang menulis dan saya yang pertama membacanya ! That's all! hahahaha...


Subyektivitas dan Obyektivitas Membaca
Membaca sebuah tulisan selalu mengandung dua sudut pandang, yakni subyektif dan obyektif. Sudut pandang subyektif di sini menunjukkan satu kenyataan bahwa kita sendirilah yang berhak memilih bacaan tertentu untuk dibaca. Sementara ; sementara sudut pandang obyektivitasnya terletak pada menarik tidaknya tulisan itu menurut banyak orang atau media tertentu. Pada akhirnya kedua sudut pandang ini terkait erat dengan nilai kebenaran yang terkandung dalam sebuah tulisan. Mengapa bisa seperti itu? Menurut Filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860), "Membaca berarti berpikir tidak dengan kepala sendiri melainkan dengan kepala orang lain." Tepat sekali, bahwa saat membaca kita memang menggunakan kacamata berpikirnya orang lain (penulis yang bersangkutan). Di titik inilah kita bisa memahami mengapa selalu ada komentar yang nyambung, kurang nyambung, tidak nyambung, atau melenceng samasekali dari tulisan/artikel/buku tertentu. Lebih menarik lagi ialah komentar-balik si penulis mengenai 'kebenaran' atau latarbelakang terntu dari tulisannya itu. Lucunya, antara keduabelah pihak (penulis dan pembaca) seringkali tidak nyambung. Hahahaha.... Mau tau kenapa?


Kebenaran Sesaat Di Saat Membaca
Kerapkali kita tak pernah membaca sebuah tulisan (artikel/buku orang lain) dengan saksama dan serius. Tak jarang kita "hanya membaca" atau "tidak benar-benar membaca". Juga sering terjadi bahwa kita terpancing untuk mengomentari sebuah tulisan yang hanya sekilas kita membaca. Bisa jadi memang "tulisan yang dimuat itu sepintas menarik", tapi juga karena penulisnya kita sukai atau tidak kita sukai. Lalu, apa kriteria sebuah tulisan itu menarik atau tidak? Saya kira bukan terletak pada "siapa" penulisnya (profesi atau jabatannya apa?) atau juga bukan pada media yang mempublikasikannya. Menariknya sebuah tulisan justru tergantung pada pembacanya. Sebab, pembaca tak kenal 'rating', juga tak terlalu peduli dengan kemasan buku atau tulisan tertentu. Bagi pembaca sudah cukup nilai kebenaran yang terkandung baginya, tentu yang terkandung dalam bahan bacaan itu. Tengok misalnya, mengapa para orangtua mempersoalkan buku-buku pelajaran anak mereka yang berseklah di SD hingga SMA. Sebab, buku, bila diwajibkan untuk dibaca/dipelajari, maka nilai kebenaran yang terkandung dalam buku itu tak akan diminati, karena memang tak ada niat untuk mencarinya. 

Demikian juga di media KOMPASIANA atau di jejaring sosial yang tersedia (gratis) di dunia ini. Mungkin orang Timur Indonesia akan berkomentar atas tulisan yang tidak sepenuhnya ingin mereka baca tetapi dipaksa membacanya, "Ah, kau punya tulisan tidak menarik kah." Sebuah tulisan yang menarik sungguh tergantung dari kategori-kategori tertentu, tanpa mengesampingkan kategori profesional yang telah ada dan digunakan sepanjang sejarah. Sok tingali(Sunda, Silahkan lihat) fenomena yang terjadi. Tulisan kita sering disukai atau dikomentari tapi sesungguhnya belum dibaca. Lagi, teman-teman saya di fesbuk sering meminta supaya"me-like status-nya". Lho, kok disuruh? Tapi ya sudah. Karena diminta, ya aku like saja statusnya. Emang gue pikirin. Mau baca dulu atau tidak ya tinggal klik aja kata like dibawahnya. Beres deh.


Membaca Kebenaran
Maka, ada atau tidak nilai kebenaran yang terkandung dalam tulisan atau 'status' teman saya tadi, saya tidak tahu. Tetapi, seakan-akan dengan menyukai tulisan/status tadi, saya sesungguhnya sudah turut membenarkan maksud si penulis. Sementara penulis sendiri sudah barang pasti meyakini kebenaran versinya. Filsuf Portugis, Baruch Spinoza pernah berujar bagini: "Kebenaran adalah kesesatan yang telah berusia berabad-abad; sedangkan kesesatan adalah kebenaran yang hanya dialami satu menit." Sejalan dengan Spinoza, kebenaran memang bisa menjadi sebuah kesesatan, bila dalam sebuah tulisan terentu (taruhlah dalam sebuah catatan/bukti sejarah) selama berabad-abad dibaca/diyakini sebagai sebuah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam bahan bacaan itu pada akhirnya akan sirna bila muncul sebuah catatan sanggahan yang ditulis oleh orang lain di kemudian hari.

Akhirnya, nilai kebenaran sebuah catatan/buku/tulisan bukan terletak pada apa yang ada di kepala si penulis, dan kemudian ditularkan kepada pembacanya. Sebab, di kemudian hari, sebagaimana dikatan Spinoza, tulisan itu bisa dipandang sebagai sebuah catatan kesesatan, dan patut di-black-list. Nilai kebenaran sebuah tulisan pada akhirnya tergantung pada si pembaca. Sebab, para pembacalah yang berhak memberi nilai kebenaran pada tulisan itu hingga memutuskan mau mewariskannya untuk masa depan atau tidak samasekali. Kebenaran sebuah tulisan bisa berhenti sesaat, bila tulisan lain yang berikutnya muncul (dan mungkin oleh pembaca di jaman itu menganggap tulisan itu lebih make-sense atau lebih menarik). Sebagaimana kebenaran, demikian juga tulisan itu akan berhenti. Bisa tiba-tiba. Bisa perlahan. Bisa juga karena dipaksakan oleh institusi yang mem-black list-nya. Membaca, pada akhirnya, sama dengan meyakini sebuah kebenaran sekaligus juga merelatifkan kebenaran itu sendiri. Sebab, kebenaran yang dahulu diyakini, bisa saja sirna dan diganti dengan kebenaran baru yang ditulis dan hari ini kita baca.



Lucius SinuratCimahi, 22 Juni 2011

Sumber: http://www.kompasiana.com/luciusinuratdalam http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/22/membaca-kebenaran/
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter