Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Karunia-karunia Roh Kudus (5)

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:19-23)


KOMUNIKASI : Kreativitas Menggapai Allah

Membaca pengutusan Roh Kudus oleh Yesus kita kerap berhenti pada kronologis 'keajaiban' yang seakan harus terjadi sedemikian rupa: Yesus mati di salib dan dikubur - bangkit - menampakkan diri - mengutus Roh Kudus. Benar sekali bahwa semua tentang Yesus telah dinubuatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Kesimpulan ini sah-sah saja. Namun bila ditelaah lebih dalam lagi, ada sesuatu yang hilang. Dengan kebangkitan Yesus - juga dipertegas dengan penampakan-penampakanNya, pun lewat perutusan Roh Kudus yang Ia janjikan kepada murid-muridNya - seakan-akan semua hal itu memang harus terjadi demikian. Seakan-akan 'kreativitas' Yesus sebagai manusia seakan tak lagi berguna. Yang saya maksud ialah tentang bagaimana Yesus menghidupi Allah yang ada dalam diriNya. Tapi coba deh baca kembali kesaksian Yohanes dalam Injilnya di atas: Roh Kudus yang dianugerahkan kepada murid-muridNya saja berlangsung secara 'alami', yakni dengan cara :
  1. Bersabda (1): "Damai sejahtera bagi kamu!"
  2. Menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya 
  3. Bersabda (2): "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 
  4. Mengembusi mereka 
  5. Bersabda (3): "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Mengapa Yesus sampai tiga kali bersabda (dua kali menyapa dengan kalimat "Damai Sejahtera.....", hingga kemudia mengaruniakan Roh Kudus kepada murid-muridNya, "Terimalah Roh Kudus....."). Tampak sepintas Yesus seakan menegaskan ulang tentang siapa diriNya kepada para murid. Tentu ini pertama-tama bukan soal Allah Tritunggal sebagaiman kerap diamini orang selama ini. Sesungguhnya, peristiwa di atas adalah titik berangkat lahirnya Kristianitas, bahkan alasan mengapa hingga kini masih eksis ! Yang saya maksud ialah tiga poin yang terdapat dalam peristiwa itu, yakni bahwa mereka yang menerima Roh kudus ialah orang-orang yang:
  1. hidupnya diliputi damai sejahtera dan menghidupinya, hingga kekuatan hidupnya terletak pada damai sejahtera itu
  2. siap diutus Allah ke mana saja (untuk berbagi damai-sejahtera yang ia miliki)

KOMUNIKASI : Berbagi Keselamata dari Allah

Dunia kiwari merangkul seluruh penghuni bumi dengang kecanggihannya. Komunikasi begitu mudah dan murah. Orang bisa bertemu di mana saja, dan kapan saja. Pendeknya satu sama lain sepertinya 'saling-terhubung' (bdk. mooto phonecell NOKIA: "Connecting people"). Persoalannya - sekaligus juga pertanyaan signifikannya ialah "Apakah saran canggih telekomunikasi bisa menjamin intimitas relasi antar yang satu dengan yang lain?" Semboyan filsafat modern "Scio qui credidi" (aku tahu apa yang kupercayai) bukannya justru menghilangkan 'misteri' persahabatan antar manusia? Benarkah bahwa komunikasi sungguh bisa hanya dengan menjalin relasi tanpa berjumpa?

Tindakan Yesus untuk berjumpa secara langsung dengan murid-muridNya adalah kunci utama bagi kelanjutan misiNya. Di saat masih hidup dan tinggal bersama mereka, Yesus memang secara eksplisit sudah mendelegasikan misiNya kepada murid-muridNya. Tetapi, toh karena keterbatasan intelektual dan kedangkalan iman para murid, pesan itu belum seratus persen mereka pahami dan mereka sadari. Di titik ini, Yesus merasa, bila ia tak berjumpa secara langsung (dengan menyapa dan memperlihatkan bekas tusukan tombak dan paku di lambung, kaki, dan tanganNya), maka para murid yang masih labil tak akan siap melanjutkan misi tersebut. Perjalanan pulang dua murid ke desa Emaus adalah salah satu contoh yang membuktikan kerapuhan para murid. Maka pada saat itu Yesus menampakkan diri dan meneguhkan kembali penggilan mereka. Demikian juga pada peristiwa-peristiwa lain semisal ketidakpercayaan Thomas akan kebangkitanNya.


KOMUNIKASI : Perjumpaan yang Meneguhkan 

Maka, pada saat sebelum naik ke surga, Yesus pun memperlihatkan diriNya, dan memberi maklumat tentang perutusanNya kepada murid-muridNya. Sanggupkah para murid itu? Injil Yohanes, juga injil sinoptik menegaskan bahwa para murid belum sungguh siap untuk misi itu. Maka tidak mengherankan mengapa Yesus secara khusus, sebelum Roh Kudus yang Ia janjikan turun pada hari ini (HR Pentakosta), menampakkan diri terlebih dahulu untuk mempertegas tugas para murid sesudah Yesus 'tak lagi bersama' mereka di dunia.

Maklumat perutusan yang saya maksud ialah:
  1. Berbagi Damai Sejahtera (sebagaimana dikehendaki Bapa daripadaNya) kepada sesama.
  2. Perutusan kita murni berasal dari Bapa. Maka, modalitas yang mereka dapatkan pun persis seperti yang dianuegerahkan Allah kepada Yesus sendiri: mengampuni dosa orang (termasuk menyembuhkan, menghidupkan orang mati, dst.)
Untuk itu, para murid hanya mempersiapkan satu hal, yakni membiarkan diri mereka dibimbing dan digerakkan oleh kehendak Allah semata. Roh Kudus yang mereka terima pada akhirnya adalah "Allah yang senantiasa beserta kita" sepanjang peziarahan mewartakan Kabar Gembira kepada sesama. Jadi, kunci dari tugas perutusan kita ialah "Damai Sejahtera". Hanya orang yang berjiwa damai dan hidup sejahtera dalam arti rohani lah yang mampu melanjutkan misi mulia Yesus, yakni mewartakan Kabar Gembira : ke mana saja, termasuk ke tempat yang membentengi diriNya dari Allah - sebagaimana Yesus menembus tembok demi menyapa dan berbagai Damai Sejahtera kepada murid-muridNya!



sebelumnya << baca artikel >> berikutnya

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

1 komentar

  1. Terimakasih kepada pak Johanes Krisnomo ( www.johaneskrisnomo.blogspot.com ) yang selalu setia membaca tulisanku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentar via email ke [email protected]






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter