Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Negara membiarkan pengungsi Sinabung berkabung ?

DI KALA SINABUNG HANYA SEBATAS GUNUNG

Seorang ibu menggendong anaknya saat menyaksikan
Erupsi Sinabung (tgl 4/12014) di Kabupaten Karo ,
Sumatra Utara, Indonesia.
  (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Dulu, jauh hari sebelum gunung Sinabung meletus, atau ketika 'katanya' Sinabung pernah meletus dahsyat 800 tahun lalu dan tak pernah ada satupun yang tersisa untuk menceritakan kedahsyatannya. Gunung Api Sinabung adalah pusaran hidup bagi masyarakata sekitar Gunung Sinabung. Masyarakat Karo di sana, yang tinggal di sekitar gunung itu bahkan meyakini bahwa Tuhan menghiadihai Sinabung untuk mereka diami dan nikmati keindahannya.

Semua orang tahu kalau Gunung Sinabung adalah obyek wisata yang seakan merepresentasikan betapa baiknya Sang Pencipta bagai mereka. Maka ketika Gunung Sinabung menggagahi mereka dengan sifat masukilinitasnya menyemburkan api neraka, masyarakat di sana tidak marah.

Sungguh masyarakat di sana tak ada yang mengutuk semesta atas peristiwa itu. Mereka sungguh sadar bahwa Tuhan menitipkan gunung api yang menjulang tinggi kepada leluhur mereka dan hingga kini diwariskan untuk mereka agar tetap merawatnya. Sedemikian erat antara masyarakat dengan berkat tadi hingga masyarakat Karo (Gunung) di daerah Sinabung itu memiliki ritual tahunan sebagai "momentum" untuk memanjatkan syukur pada yang Kuasa sembari memelas agar sang pencipta tidak murka atas ulah mereka. 

Setahu saya, "Kerja Tahun" (Pesta Tahunan) atau "Merdang Merdem" adalah selebrasi yang dipatenkan sebagai momentum persahabatan indah antara alam dan manusia. Pesata tahunan ini selalu dilangsungkan sekali setahun ini, entah setelah acara menaman padi di sawah atau di saat musim panen tiba. Dalam ritual kerja tahun ini selalau ada unsur magis yang lewat 'sajian istimewa' kepada Beraspati Taneh (dewa penguasa tanah) Sang Penguasa Alam (sesajen, Jawa) berupa hasil terbaik dari 'perkawinan mesra' mereka dengan semesta.Kerja tahun juga dilakukan pada musim panen (ngerires) yang kurang lebih bermaksana sebagai ucapan syukur bagi Sang Pencipta atas panenan melimpah. 

Pendek kata, hampir di semua daerah karo, ritual tahunan ini dilangsungkan, dan terutama di desa-desa nan indah, terutama di sekitar Gunung Sinabung. Asal tahu saja, tanah yang ditinggali masyarakat Karo adalah tanah tersubur di sumatera Utara. Dari tingka perekonomian, petani di tanah Karo hampri pasti lebih sejahtera dari masyarakat di sekitarnya, seperti di pinggiran Danau Toba dan sebagian daerah Pakpak, Simalungun, dan sekitarnya.



KINI, SUNABUNG BAK PETARUNG

Terlihat dengan jelas betapa masker yang dibutuhkan
masyarakat masih sangat kurang
Fakta terkini, Sinabung meletus. Sejak akhir tahun lalu Sinabung seakan menunjukkan sifat maskulinnya ditengah masyarakat Karo. Sejak senin (13/1) telah meletus sebanyak 254 kali dan getaran gempa Hybrid gunung merapi itu sudah mencapai 9.403 kali. Guguran awan panas terjadi 643 kali. Demikian data darai Media Center Posko Tanggap Darurat Erupsi Gunung Api Sinabung di Kabanjahe.

Sementara jumlah pengungsi menjadi 25.516 jiwa, yang meliputi 7.898 kepala keluarga (KK). Letusan dan gempa akibat aktivitas Gunung Sinabung itu terjadi selama dalam sepekan belakangan ini. Jumlah pengungsi itu pun dipastikan bertambah banyak jika aktivitas gunung yang pernah meletus 800 tahun lalu itu semakin tinggi. Masyarakat diminta mewaspadai ancaman letusan itu. bahkan pemukiman penduduk radius 5 km - 7 Km ke arah Tenggara dan Selatan disarankan pemerintah supaya dikosongkan.

"Awan panas yang dluncurkan Gunung Sinabung sangat tinggi, dan menjadi ancaman buat masyarakat di wilayah Tenggara dan Selatan. Guguran awan panas itu pun masih sering terjadi. Kondisi ini yang membuat jumlah pengungsi mengalami peningkatan. Adapun total pengungsi berdasarkan asal desa adalah 7789 KK / 24.902 Jiwa, terdiri dari Lansia = 1210 jiwa ; Ibu Hamil = 179 jiwa ; dan Bayi = 606 jiwa. Mereka datang dari:
  • KECAMATAN PAYUNG: Desa Sukameriah, Desa Guru Kinayan, dan Desa Selandi lama 
  • KECAMATAN SIMPANG EMPAT : Desa Berastepu, Dusun Sibintun, Desa Gamber, Desa Kuta Tengah, Desa Jeraya, dan Desa Pintu Besi .
  • KECAMATAN NAMANTRAN: Dusun Lau Kawar, Desa Bekerah, Desa Simacem, Desa Kutarayat, Desa Sigaranggarang, Desa Naman, Desa Kuta Mbelin, Desa Kebayaken, Desa Kuta Tonggal, Desa Sukanalu, dan Desa Kuta Gugung
  • KECAMATAN TIGANDERKET: Desa Tiganderket, Desa Mardinding, Desa Temberun, Desa Perbaji, Desa Kuta Mbaru, dan Desa Tanjung Merawa
** Dari total data penggungsi di atas belum di cacah data pengungsi per desa asal pengungsi



DI MANA NEGARA SAAT SINABUNG BERKABUNG

Pemerinth, mulai dari pemda Kabupaten tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara hingga pemerintah pusat semestinya cepat tanggap melindungi masyarakatnya yang sedang bingung, yang bahkan makin hari mereka berjalan makin linglung. Mereka kehabisan asa, berjuang di saat tak ada lagi uang di "kantong BH" yang biasa digunakan para nenek-nenek di sana, juga di saat mereka tak punya lagi beras untuk dimakan atau air bersih pelepas dahaga akibat panas efek erupsi. 

Sementara di pusat, tempat di mana semua regulasi dijadikan undang-undang, para pejabat di negeri ini malah sibuk dengan diri mereka bahkan rela menghambur-hamburkan uang tanpa canggung. Jangankan membantu atau ber-compassion, untuk berempati dengan para korban pun tak sempat mereka pikirkan. DPR malah sedang bermasturbasi dengan masa reses, dan berharap di akhir tahun kemarin semua hal sudah beres. Semboyan dari rakyat - oleh rakyat - untuk rakyat pun diplesetkan orang di dunia maya sebagai rumusan kualatnya wakil rakyat itu: Mereka meraup suara dari rakyat hingga gempa pun sering dipolitisir, dipilih oleh rakyat, dan kerugian setelah terpilih akan dibebankan untuk rakyat. Beres toh!?!

Menurut beberapa teman yang aktif membantu di sana, stok pangan untuk pengungsi bahkan sudah menipis, kendati di koran-koran selalu bilang stoknya masih sangat cukup. Bantuan dari berbagai kalangan mulai menurun, sementara aktivitas Gunung Sinabung justru semakin meninggi. Tingginya aktivitas gunung merapi itu tentunya semakin menambah daftar jumlah pengungsi. 

Masa tanggap darurat erupsi Gunung Sinabung telah diperpanjang 5-18 Jan 2014. Perpanjangan ini dilakukan pemerintah karena gunung itu masih erupsi.  Tetapi ada satu hal yang sangat mengganjal di hati kita masyarakat Indonesia. Mengapa eruspi Sinabung masih tergolong benacan lokal, dan bukan bencana nasional? Mengapa kalau menyangkut "bencana" pusat tidak mau mengambil alih, sementara kalau itu berkah pusat lantas akan turun dan minta dibagi berkah?

Sekedar catatan saja,
Pasal 51 (2) disebutkan
"Penetapan skala nasional ditetapkan oleh Presiden, skala provinsi oleh Gubernur, dan skala kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota. Pemerintahan Pemda Karo masih berjalan normal. Selain itu juga tidak ada korban jiwa banyak dan terjadi eskalasi bencana yang luas."  
Hal ini berbeda dengan Erupsi Gunung Merapi tahun 2010, di mana Presiden memerintahkan kendali operasi tanggap darurat dalam satu komando berada di tangan Kepala BNPB dibantu Gubenur DIY, Gubernur Jateng, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng dan DIY pada 5-11-2010. 
Keputusan Presiden saat itu didasarkan bertambahnya korban dan pengungsi. Pada 4-11-2010 korban jiwa 44 tewas, 119 luka-luka, 82.701 mengungsi, kemudian ketika erupsi besar 5-11-2010 korban meningkat 114 tewas, 218 luka-luka dan 300 ribu mengungsi. Untuk itu Bupati harus banyak turun ke lapangan mengatasi rakyatnya yang mengungsi. Pemda Sumut memberikan bantuan yang diperlukan. BNPB memberikan bantuan ekstrem sesuai permintaan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB"


PEMERINTAH PUSAT TELAT BERKABUNG

Pemerintah, tampaknya memang sedang menjual perhatian, tapi sayang hanya kepada orang yang ikut tertawa dengan mereka, dan bukan dengan masyarakat yang sedih. Mungkin saja dengan mereka terkena musibah, satu suara pun tak ada jaminan bila membantu mereka, kecuali punya modal lebih mumpuni. Ini adalah konsep berpikirnya para cale dan capres di masa lalu tapi juga entah mengapa belum berlalu. 

Presiden kita punya. Badannya besar, tetapi perhatinan untuk rakyatnya sangat kecil. Saat erupsi terjadi lagi dalam dua hari terakhir akhirnya presiden memberi pernyataan di FaceboOk, entah juga di televisi. Entah ia tahu apa sesungguhnya yang terjadi di kisaran Gunung Sinabung sana hingga hari ini? Apakah presiden ke sana menggali data atau sudah bertindak atas nama negara?  Begitulah pemimpin tertinggi di negara ini memandang benanca, termasuk letusan Gunung Sinabung. Lihatlah pernyataan presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
Ancaman letusan Gunung Sinabung hingga hari ini masih ada dan 25 ribu saudara kita masih berada di tempat-tempat penampungan. MESKIPUN BAIK PUSAT DAN DAERAH TERUS MENANGANI PERMASALAHAN ini, saya memutuskan untuk meningkatkan pengendalian dan bantuan pusat. Minggu depan, Insya Allah SAYA AKAN BERKUNJUNG KEMBALI KE KABANJAHE, UNTUK MEMASTIKAN PENANGANAN SINABUNG DAN PENGUNGSI BERJALAN BAIK. *SBY*

PUSAT DAN DAERAH TERUS MENANGANI PERMASALAHAN SINABUNG? Beberapa media elektronik, khsusunya metro tivi cuku seirng memberitakan tentang Erupsi Sinabung, dengan tujuan agar rakyat Indonesia turut bahu-membahu dan saling membantu di saat saudaranya tertimpa bencanaa letusan Gunung Api Sinanbung; dan itu maksudnya pada level nasional. Di sisi lain, mengenai bencana itu malah digeser oleh berita politik pemilu 2014 di media internet. 

Kebutuhan logistik, kesehatan, dan pendidikan secara umum tampaknya masih tertangani, kendati kebutuhan akan susu bayi, gas, air mineral, air bersih, dan seragam sekolah masih dinanti. Hingga saat ini skala bencana adalah skala bencana kabupaten. Status ini berarti bahwa PEMDA KARO MASIH MERASA SANGGUP MENGATASI BENCANA TERSEBUT DENGAN BANTUAN PEMDA SUMUT DAN DIDAMPINGI PEMERINTAH.  

Kata presiden SBY, "Saya akan berkunjung kembali ke kabanjahe untuk memastikan penanganan Sinabung dan pengungsi berjalan baik." 

Ini janji sang presiden. Semoga melalui kunjungan ini Presiden SBY sungguh memberi sentuhan baru,dan mengingat bukan penderitaan yang ditimbulkan oleh bencana ini begitu besar, maka pemerintah pusat  harus turut mengambil bagian secara langsung dan menetapkan bencana ini sebagai BENCANA NASIONAL. Hanya dengan cara inilah tak ada kecurigaan akan agenda politik partai saat bapak presiden ke sana, entah hanya pengen menghibur atau hanya sekedar mengurai janji demi janji sehingga masyarakat di sana seolah melihat presidennya bak nabi? Tidak, masyarakat Karo berharap Anda sebagai presiden harus  bersikap lebih biajaksana, sungguh menjadi seorang negarawan sejati. Jadi bila memang minggu depan Anda jadi datang, maka sebelumnya jadikan terlebih dahulu erupsi Sinabung sebagai Bencana Nasional, bukan di saat kunjungan ke sana atau sesudahnya, karena itu hanya tampak sebagai janji seperti juga dilakukan oleh para caleg, capreslain. 

Data teranyar dari BNPB bahkan sudah membentangkan data pengungsi berdasarkan desa-desa yang direkomendasikan untuk mengungsi, kendati juga terdapat beberapa desa yang mengungi bukan atas instruksi BNPB melainkan karena merasa sudah tidak nyaman lagi dengan abu vulkanik. Secara ringkas dapat dikatakan, bahwa masyarakat sekitar Sinabung sungguh sangat terpaksa mengungsi. Di sinilah negara wajib hadir, di tengah rakyat yang sungguh mengharapkan kehadirannya!

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter