Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Menuju Simalungun 1 - Meneruskan Karya Kasih Ompung Dolok

Menuju Simalungun 1 - Meneruskan Karya Kasih Ompung Dolok Menuju simalungun1 untuk meneruskan karya kasih Ompung Dolok kepada semua orang di kabupaten simalungun. Pastor Ompung Dolok atau aslinya bernama Pastor Elpidius Van Dynhoven merupakan pastor yang mewartakan kabar gembira dan memulai pembentukan Gereja Katolik di paroki Saribudolok dan sekitarnya.

Simon Saragih telah menulis sebuah buku mengenai karya Ompung Dolok di Simalungun. Ompung Dolok (OD) mengasihi dan membantu semua orang tanpa mengenal suku dan agama. Pencalonan Simalungun1 ini adalah dalam rangka meneruskan karya OD tersebut.


Latar Belakang dan Alasan Pencalonan


Saya mengenal OD sejak saya kecil dan ia mengenal saya dengan baik sejak saya kecil karena ayah saya almarhum merupakan katekis OD yang menemani dan membantunya dalam pewartaan awal di Kab. Simalungun.

Saya sangat mengenalnya karena ia hampir setiap hari bolak balik ke rumah kami yang bertetangga dekat dengan pastoran. Ibu saya, Sannaria Lingga, yang merupakan seorang mantan suster yang dijodohkan oleh OD dengan ayah saya almarhum, dengan harapan ibu saya memahami missi ayah saya yang membantu OD dalam menjalankan missi gereja ke kampung-kampung di Simalungun.

Kenyataannya, ibu saya tidak dapat menerima keadaan tersebut karena faktor ekonomi. Ia berkata kepada ayah alm dan OD: “Mengapa ia hanya membuat 3 anak tetapi tidak bertanggungjawab memberikan nafkah kepada kami, isteri dan anaknya?”

Hal itu dapat dimaklumi, karena pernah pada suatu saat, OD dan ayah pergi ke kampung-kampung selama 2 minggu, dan setelah pulang hanya membawa 2 kong beras. Ibu saya marah menerima 2 kong beras itu dan melemparkan beras itu kepada OD dan ayah, serta berkata dengan marah:

“Saya bekerja di ladang orang pun dapat 1 tumba beras sehari, kok ini, 2 minggu pergi tapi hanya membawa 2 kong beras? Malang bagi kami, ayah saya segera dipanggil Tuhan ketika umur saya baru 8 tahun. 

Saat itu ada tetangga yang berkomentar: 'Potong jari saya ini, kalau ada anaknya ini menjadi 'orang' nantinya.' Pendapat itu tidak salah, karena melihat keadaan kami yang mengenaskan secara ekonomi pada saat itu.

Hanya ibu saya membanting tulang menghidupi kami 3 orang anaknya dengan berjualan rombengan ke pasar-pasar di Kabupaten Simalungun. Baju rombengan itu awalnya dari pastor-pastor Belanda yang melihat sulitnya perekonomian keluarga kami saat itu.

Saya ingat bahwa Ibu saya setiap hari Senin ke Kabanjahe, Selasa ke Sumbul, Rabu ke Saribudolok, Kamis ke Haranggaol dan seterusnya. Karena berangkat subuh dan pulangnya larut malam, kami anaknya tidak ada lagi yang mengurus sehari-hari.

Setelah saya tamat dari SMP Bunda Mulia Saribudolok dengan predikat juara umum, saya test ke Seminari Pematang Siantar, namun malang, ketika hasil test diumumkan saya tidak lulus masuk Seminari.

Mengetahui hal ini, ibu saya marah besar kepada OD:
“Kalau si Bona ini tidak masuk ke Seminari, jadi preman simpang opat lah dia, karena tidak ada yang mengurusnya selama saya pergi ke pekan pekan. Tidak mungkin ia tidak masuk Seminari, ia kan juara umum di SMP?”.

OD sampai empat kali naik sepeda motor bolak balik ke Direktur Seminari untuk meyakinkan agar saya masuk seminari, tetapi Direktur Seminari saat itu bersikukuh dan tidak mau merubah keputusan tidak lulus yang telah dibuat dan telah diumumkan secara resmi kepada khalayak umum. Karena telah menyerah, OD meminta ibu saya agar sabar menerima keputusan itu. Ibu saya marah besar dan nekat akan menghadap langsung kepada Direktur Seminari pada saat itu.

Ibu saya telah mengenal Direktur Seminari pada saat itu karena ia mantan suster juga dan pada waktu itu bekerja mengantarkan sayur mayur dari Saribudolok ke Seminari untuk kebutuhan Seminari.

Pada pagi itu, OD mencoba menghalangi Ibu saya untuk pergi dan meminta bersabar saja tetapi karena OD tidak bisa menghalangi niat Ibu saya untuk pergi ke Seminari, OD menyerah dan mempersilahkan saja dan berdoa di depan tabernakel.

Ibu berangkat ke Seminari menghadap Direktur Seminari, tetapi Direktur Seminari tetap kukuh dengan keputusannya. Ibu saya diam diam udah bawa satu jeregen bensin dan siap menyalakan korek api yang telah dipersipakannya ketika mendengar keputusan itu dan berteriak:

“Lebih baiklah saya mati kalau begitu daripada si Bona ini akan menjadi preman simpang empat di Saribudolok”.

Direktur Seminari dengan sigap dan terkejut segera menangkap tangan ibu dan minta waktu untuk rapat, 'Rapatlah dulu kami ya, bu'. Setelah rapat dengan staf dan para guru selesai, Direktur Seminari berkata:

“Senanglah hatimu ya, si Bona diterima di Seminari”.

Belakangan diketahui bahwa alasan saya tidak diterima di Seminari adalah karena abang saya yakni Fransiskus Xaverius Purba sudah berada di Seminari pada saat itu dan “uang sekolah” abang ini pun selama ini “kurang” dan tidak mampu dibayar penuh oleh Ibu saya, jika saya masuk lagi, maka beban Seminari akan menjadi lebih besar.

Ibu saya pulang ke Saribudolok pada sore hari dan mencari OD untuk memberitahu kabar baik tentang diterimanya saya di Seminari.

Oh Tuhan, Ibu saya menemukan OD masih berdoa di depan tabernakel di dalam gereja, berarti OD berdoa sejak keberangkatan ibu saya ke Seminari sampai dengan ibu saya pulang.

Saya bersaksi bahwa doa OD-lah yang membuat saya masuk Seminari. Kekuatan doa memanglah di atas segala-galanya. Setelah saya selesai menyelesaikan SMA di Seminari, saya melanjut ke STAN dan setelah itu bekerja di BPKP sampai sekarang.

****

Terkenang betapa besar cintanya Ompung Dolok

Ketika dilaksanakan Jubelium Paroki Saribudolok beberapa tahun yang lalu, saya sebagai salah seorang mantan Seminaris, hadir pada perayaan itu.

Lalu saya dan Pastor Ambrosius Nainggolan dan Pastor Damianus Gultom berdiskusi tentang bagaimana meneruskan karya kasih OD kepada semua manusia tanpa memandang agama dan suku di Simalungun, khususnya, generasi sekarang tidak mengenal lagi OD.

Setelah itu, atas prakarsa saya, saya mengumpulkan siminik ni OD di perantauan untuk membuat buku mengenai OD. Simon Saragih akhirnya selesai menulis buku OD yang mengisahkan karya OD selama ia hidup di Simalungun.

Setelah buku OD selesai, kami beserta mantan seminaris lainnya dan siminik ni OD (cucu-cucu OD) yang ada di Paroki Saribudolok dan di perantauan mencoba membantu mencari dana untuk pembangunan Kapel OD di Simpang Haranggaol, renovasi Gereja Simpang Haranggaol dan renovasi gereja induk Paroki Saribudolok.

Setelah semuanya itu selesai, kami para mantan seminaris asal paroki Sardolok dan siminik ni OD di paroki Sardolok dan di perantauan berfikir keras selanjutnya: selanjutnya apakah yang akan kita lakukan untuk meneruskan karya OD di Simalungun.

Akhirnya, muncullah ide untuk mengusung salah satu dari siminik OD untuk menjadi Simalungun1 untuk meneruskan karya OD tersebut di Kab Simalungun.

Setelah perdebatan panjang dan pertemuan berkali-kali di antara para mantan seminaris dan siminik ni OD , awalnya, Simon Saragihlah yang ditunjuk menjadi calon Simalungun1.

Tetapi lucunya, justru Simon Saragih menunjuk saya yang dianggap tepat karena pengalaman saya selama 27 tahun memeriksa Pemda, BUMN/D dan Pemerintah Pusat dan faktor lainnya sehingga telah memahami seluk beluk, kekuatan dan kelemahan dalam menjalankan pemerintahan di negara ini berdasarkan pengalaman saya tersebut.

Saya awalnya menolak, tetapi setelah menyadari bahwa pencalonan Simalungun1 ini adalah untuk meneruskan karya OD, saya “tidak berani” menolaknya.

Saya juga telah menyadari bahwa saya yang tadinya “tidak siapa pun” telah menjadi seperti sekarang ini adalah murni kebaikan Tuhan kepada saya dan sampai akhir hayat saya pun mungkin tidak mampu membalas kebaikan yang telah yang saya terima dariNya tersebut. Itu sebabnya saya menerima “panggilan” ini.

Berat memang untuk membuat perubahan di Kab Simalungun, tetapi kalau kita mau dan dibimbing olehNya, tiadanya yang mustahil. Saya pun udah merasakan iman ketidakmustahilan itu.

Semoga Tuhan membimbing saya dan tim dan semua kita dalam memperjuangkan perubahan di Simalungun demi membantu meningkatkan kesejahteraan di Simalungun, khususnya orang miskin dan tidak berdaya.

Mohon dukungan dan doa dari kita semuanya.
Salam Bersandi (bersih, santun, peduli dan melayani).

Habonaron do Bona!
* Tulisan ini merupakan penuturan langsung dari calon bupati Kabupaten Simalungun 2015-2020, Bona Petrus Purba, Ak., MM, CFE, CA

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter