Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Politik Versus Bonum Commune

Politik selalu berjalan bak pedang bermata dua yang mengandung ambiguitas dan ambivalensi yang jamak berjalan bersama, "politik itu kotor" versus "politik itu mulia"

Politik itu kotor
Di satu sisi, tepatnya di sisi negatifnya, politik kerap dianggap kotor. Tampaknya pendapat ini diamini oleh mayoritas masyarakat kita. Lantas mengapa politik dianggap kotor?

Pertama-tama karena politik jamak dijadikan media seseorang untuk mengejar posisi politis tertentu dengan harapan untuk memperkaya diri atau mendapatkan keuntungan lain.

Tak jarang politik pun dijalankan sebagai ajang "homo homini lupus", yang memperlakukan sesama sebagai serigala. Bagaimana tidak?

Politik kerap dipermainkan sebagai alat perjuangan untuk kepentingan pribadi dengan cara kriminal dan tanpa pemulihan keadilan (impunity), kendati di saat bersamaan negara diatur dalam UU dan aturan hukum tanpa pandang bulu.

Faktanya, Undang-undang yang baik itu seringkali diberlakukan secara diskriminatif, hingga lahirlah istilah "hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah". Masalanya, Undang-udangan atau produk hukum tadi pun disusun oleh DPR dan pemerintah, yang notabene tak pernah bisa melepaskan diri dari kepentingan pribadi dan partai yang mengusungnya..

Sejalan dengan itu, praktik homo homini lupus menjadi alat pejabat pemerintah untuk mewujudkan kepentingan diri dan/atau kelompoknya sebagai tujuannya.

Maka tak salah bila dikatakan bahwa politik itu kotor, dan bila tak dibarengi oleh etika berpolitik politk pun akan berjalan bak ktoran yang berkarat, dan amat sangat sulit dibersihkan.

Politik itu Mulia
Di sisi yang berseberangan, politik adalah ajang "homo homini socius", wahana di mana pemimpin politik memperlakukan masyarakatnya seperti memperlakukan sahabatnya, sebagai cerminan dirinya sendiri.

Artinya, seorang politisi (pejabat pemerintah) harus menyadari bahwa kekuasaan adalah godaan terbesar dalam profesi/tindakannya. Sebab, makin tinggi kedudukan seseorang, makin parah kejatuhannya (corruptio optimi pessima).

Inilah pengertian positif dari politik, yakni seni pengabdian (pemerintah kepada masyarakat) untuk mengupayakan bonum commune (kesejahteraan umum / kepentingan umum).

Faktanya, politik harus ada!
Kotor atau bersih, positif atau negatif, politik tak mungkin absen dari hidup kita. Sebab kodrat sosial manusia selalu menuntut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka, apabila negara dan politik sudah merupakan tuntutan kondrat, maka tak ada jalan lain kecuali memenuhinya, 

Persoalannya adalah bagaimana politik dijalankan demi memenuhi kepentingan masyarakat? Di sinilah pentingnya etika politik.

Ini tak lantas berarti bahwa politik itu ajang perebutan kuasa dan uang. Sebaliknya, harkat manusia haruslah menjadi tujuan dan pedoman perpolitikan kita. Di titik inilah nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) dan Pancasila mendapat penghormatan.

Maka, kalau Anda hendak menjadi politisi, maka Anda harus memiliki etos kerja yang mantap dan elegan.

Ahok tergolong politisi mana ya?

Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter