Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Beranak Cuculah Sebanyak-banyaknya

keturunanmu akan menjadi sebanyak pasir di tepi pantai
Saat membahas Hukum Perkawinan Gereja Katolik dan kaitannya dengan UU Perkawinan tahun 1974 secara seloroh teman-teman kuliah saya mengatakan,

"Pernikahan itu sederhana. Yang penting ada 2 orang, dan harus satu agama. Enggak peduli jenis kelaminnya sama atau beda."

Tentu saja ini hanya candaan. Ini hanya bahasa sindiran tentang ketatnya hukum perkawinan, sebagaimana diatur oleh agama.

Saya rasa ini hukum alam yang juga manusiawi, karena sesuai dengan karakter asali manusia, yang pada dasarnya manusia hidup dalam satu kelompok sosial dan oleh karena intensitas pertemuan di antara mereka terciptlah komunitas bernama masyarakat.

Dalam perjalanan kelompok itu akan semakin besar, beranak-pinak hingga mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai masyarakat X. Pengelompokan itu tercipat dari kebiasaan, tradisi atau budaya yang mereka sepakati sebagai tatanan relasi antar mereka sendiri.

Berangkat dari kenyataan inilah tercipta kecenderungan-kecenderungan menjadi ekslusif demi mempertahankan budaya kelompok tsb.

Maka ada komunitas masyarakat bernama Batak, Jawa, dst. Belum lagi ditambahkan dengan agama yang belakangan ia anut. Sehingga terciptalah komunitas baru: batak islam, batak kristen, batak budha, dst. Atau Batak Islam, Batak Kristen, Jawa Islam, Jawa Kristen, dst.

Dalam hal rebutan pengaruh (sosial) ada kalanya budaya dan agama berebutan. Maka orang yang lebih "syur" dengan agama daripada budayanya, atau sebaliknya lebih erat melekat dengan budaya daripada agamanya.

Dalam interaksi sosial seperti inilah perkawinan berlangsung. Mau menikah dengan siapa? Yang terpenting keduanya menganut agama yang sama dan tak terlalu penting latarbelakang sukunya? Atau yang penting satu suku dan enggak apa-apa beda agama?


Selengkapnya: 1 | 2
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter