Ad Unit (Iklan) BIG

Ketika Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Minus Hasadaon

Posting Komentar

Ketika Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Minus Hasadaon


Sementara hasadaon (kesatuan) bukanlah cita-cita, sebab hasadon diandaikan telah melekat erat dalam kehidupan sosial masyarakat Batak.

Terkait cita-cita di atas, beberapa orang Batak yang kritis pun bertanya:

  • apakah ketiganya (hagabeon, hamoraon dan hasangapon) harus diraih secara bersamaan
  • Dapatkah diandaikan bahwa dengan meraih salah satunya seseorang lantas otomatis telah meraih ketiganya? 
  • Apakah antara unsur yang satu dan lainnya justru saling mensyaratkan? Misalnya, apakah dengan mendapatkan kehormatan seseorang secara otomatis akan dikatakan kaya dan sukses ? 
  • Sebaliknya dengan menjadi kaya seseorang otomatis akan sukses dan terhormat?

Saya bukan budayawan yang ahli Batak, apalagi sekelas batakologi sehebring Mgr. Dr. Anicetus Bongsu Sinaga atau Dr. Togar Nainggolan, atau para batakolog terdahulu seperti Niessen, Vergowen, dst.

Tetapi sejauh saya tahu, ketiga cita-cita hidup di atas justru harus digapai secara terpisah.  Maka, Anda tak tak lantas menjadi seorang terhormat hanya karena Anda sudah tergolong kaya dan sukses (dalam bisnis).

Tri cita-cita ini erat terkait dengan Dalihan Na Tolu yang melambangkan kesatuan semesta:

  • dunia atas yang putih  yang melambangkan relasi manusia dan Allah - dilambangkan sebagaai bubungan/atas rumah), 
  • dunia tengah yang merah  sebagai lambang kehidupan sosial atau relasi antar-manusia (dilambangkan sebagai jabu/ruma atau bagian utama rumah yang dihuni), dan 
  • dunia bawah yang hitam yang identik dengan dunia kematian, wahana di mana manusia tak lagi hidup dalam tubuhnya, atau tempat di mana mahluk hidup lain selain manusia berada (disimbolkan dengan tombara sebagai tempat binatang peliharaan dalam konsep rumah panggung Batak).
Demikianlah ketiga cita-cita itu harus dijabarkan dalam konteks Dalihan Na Tolu dalam pemahaman yang luas yang secara lugas tampil dalam upacara perkawinan adat.

Di sana terjalin hubungan tak terpisahkan antara hula-hula (keluarga dari pihak ibu), boru (keluarga dari saudara perempuan pihak laki-laki), dan dongan tubu (saudara laki-laki dari pihak laki-laki sendiri / biasanya sebagai penyelenggara pesta).

Ketika Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Minus Hasadaon
Ilustrasi: Radja Nainggolan - atlit Sepakbola Klub AS Roma
Bila mengacu pada risalah kuno tentang relasi kekerabatan sosial masyarakat Batak, maka Tri Cita-cita Hidup ini tak mungkin dapat dicapai seseorang secara serentak, apalagi hanya oleh sesorang.

Baik kekayaan, kesuksesan maupun kehormatan biasanya diraih seseorang dalam perjuangannya menjalin "relasi vertikal dengan sang pencipta (Mulajadi Nabolon) dan relas horisontal dengan sesama (tu sude jolma)" sebagaimana digambarkan dalam Dalihan Natolu tersebut.

Artinya, tak mungkin ada seorang Batak yang kaya secara personal, sebagaimana juga ia tak boleh menjadi pemilik tunggal dari seluruh hartanya, termasuk segala bentuk kekayaan yang telah ia kumpulkan sendiri. Demikian juga kehormatan seseorang takkan ada artinya bila ia tak patuh pada relasi vertikal dan horisontal tadi tadi.

Dalam persepsi inilah orang Batak suka menitip "anggota" keluarganya (ito atau abang, anak atau cucu, entah itu dari pihak Dongan Tubu, Boru maupun dari pihak hula-hula) kepada saudaranya yang sudah lebih dulu "sukses".

Praktik seperti ini hanyalah satu sisi dari "iman" masyarakat Batak, yakni ketika seseorang telah kaya, sukses dan terhormat maka ia punya kewajiban untuk membaginya kepada sanak familinya.

Tidak boleh tidak! Tak boleh seorang Batak sukses sendirian, apalagi memiliki harta hingga 600 milyar seperti Luhut Binsar Panjaitan; juga tak boleh seseorang punya museum agung seperti TB Silalahi; bahkan seorang Batak itu tak boleh terkenal sendirian sebagaimana dilakoni Ruhut Sitompul.

Tak hanya yang Batak ori, orang Batak kw seperti Pemain Timnas Belgia, Radja Nainggolan pun seharusnya tak boleh melenggang sukses sendirian sebagai pemain sepak bola Eropa.

Akhir kata, seluruh kesuksesian tak mungkin kita rahi hanya dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Selain doa dan upaya terus menerus yang kita lakukan secara personal, hamoraon, hasangapon dan hagabeon pada akhirnya dapat kita peroleh bila kita mampu bekerjasama dengan apa pun yang melekat dalam tubuh kita. > Baca Dari Awal!


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter