Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Batak dan Dunia Kata-kata

Batak dan Dunia Kata-kata
Foto: Koleksi Pribadi Lusius Sinurat


"Tak banyak netizen Batak yang punya Twitter, tetapi mereka semua hampir punya facebook," kata teman saya Manullang yang Batak dan kebetulan berkerja di asuransi.

"Hmm, bisa jadi itu karena Twitter terlalu membatasi kata-kata," jawab teman disampingnya, Marbun.

Bisa jadi hal itu benar. Ya, ada umumnya orang Batak suka ngobrol, termasuk obrolan yang sering ngalor-ngidul.

Sebetulnya sih bukan hanya orang Batak, tapi mayoritas orang Sumut memang memang begitu. Bisa jadi karena mereka juga udah kena virus Batak.

Di rumahnya, orang Batak akan ngobrol hingga terdengar setengah berteriak. Di pesta-pesta mereka sulit dihentikan ketika "mandok hata" (memberi sambutan).

Tak hanya itu, di rapat-rapat yang dihadiri orang-orang Batak, termasuk Rapat Pangula Ni Huria (pengurus gereja) mereka sering lupa pulang karena terlalu banyak berkata-kata.

Di perantauan, suku-suku lain suka mengatakan kalau orang Batak itu ngomongnya selalu "straight to the point".

Ini benar, tapi bisa jadi dalam arti "BTL - Batak Tembak Langsung". Gaya bicara BTL yang dimaksud ialah ketika orang Batak selalu jago melemahkan lawan bicara, tapi dengan suara keras.

Menariknya, orang Batak baru sadar dengan kebiasaannya itu saat mereka pergi merantau ke beberapa daerah di Indonesia.

****
Begitulah, bagi orang Batak, "Dunia adalah Kata-kata" dan "Kata-kata adalah Dunia".

Maka orang Batak 'ori' tak mungkin benci berkata-kata. Ia sudah terlatih ketika bertamu ke rumah saudaranya di desa lain.

Ia akan disambut dengan kata-kata sebagai ungkapan kegembiraan telah dikunjungi; dan ia juga harus menyampaikan maksudnya dengan kata-kata.

Orang akan menanyakkan apa apapun kepada Anda, mulai dari marga, tempat tinggal, bahkan asal-usul ikatan persaudaraan antar mereka, dst.

Menariknya, saat berdoa orang-orang selalu berpesan agar doa yang akan dipanjatkan sebisa mungkin singkat dan padat saja. Namun di sisi lain Pendeta atau Sintua yang juga orang Batak justru menggunakan kesempatan memipin doa sebagai panggung berkata-kata.

*****
Kebiasaan ini bisa positif tetap juga bisa negatif. Lewat kata-kata, isi pikiran dan perasaan terekspresikan. Namun di sisi lain, terlalu banyak kata-kata juga akan mengaburkan makna yang hendak disampaikan.

Tapi jangan lupa, banyak juga orang Batak yang tak terlalu boros dalam kata-kata. Mereka bahkan tak suka nongkrong di kedai kopi atau lapo tuak hingga riuh dalam nyanyian meriah?

Mungkin saja mereka itu penulis/jurnalis, antropolog, matematikawan, fisikawan, atau pelatih Yoga. Tak bisa juga dikatakan bahwa si Batak yang tak boros berkata-kata ini sebagai Batak palsu.

Sebab, baginya menulis itu juga adalah cara lain untuk berkata-kata. Hanya saja kalau kalau diungkapkan lewat tulisan, lebih banyak orang yang "mendengarkan" karena membacanya.

#SaiNaAdongdo #AdaAdaSaja
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter