Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jiwa dan Semangat Ekaristi (1)

EKARISTI MENJADI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP UMAT BERIMAN (SC 10)
Sri Paus Benediktus XVI, dalam Anjuran Apostoliknya tentang Peranan Keluarga Katolik dalam dunia mengatakan bahwa “Keadaan keluarga-keluarga dalam jaman modern ini menunjukkan segi-segi yang positif dan segi-segi yang negatif.

Di satu pihak, makin hidup kesadaran akan kebebasan pribadi, makin besar perhatian terhadap mutu hubungan antara pribadi dalam perni-kahan, terhadap pengembangan martabat wanita dan sebagainya.

Namun di lain pihak, ada tanda-tanda merosotnya berbagai nilai-nilai yang mendasar, misalnya salah pengertian mengenai kebebasan suami-istri, mengenai hubungan antara orang tua dan anak, kesukaran keluarga dalam menyalurkan nilai-nilai, makin banyaknya perceraian, pengguguran kandungan dan sebagainya.”

Sri Paus mengajak agar keluarga tetap memelihara cinta kasih yang berakar dalam iman. Sebab hanya dengan cintakasih itu sajalah keluarga dapat memenuhi panggilan sucinya, menjadi mitra Allah dalam membaharui masyarakat dan umat Allah (Familiaris Consortio 63).

Keprihatinan Pimpinan Tertinggi Gereja ini hendaknya juga menjadi keprihatinan semua keluarga Katolik, yang ingin melaksanakan panggilannya di tengah masyarakat sebagai garam dan terang dunia, sebagai sarana dan pengemban nilai-nilai luhur persekutuan suami-istri dan anak-anak mereka.

Keluarga Karo Katolik Bandung dan Sekitarnya (K3BS) menanggapi ajakan Bapa Suci tersebut dengan keinginan menjadikan keluarga sebagai model pembinaan iman Katolik.

Maka, dilandasi semangat kebangkitan Kristus, K3BS ber-kehendak membangkitkan intensitas komunikasi iman demi harmonitas yang merangkai relasi inter/antar-anggota keluarga mereka sebagai orang Katolik sekaligus orang Karo.

Melalui kegiatan Paskah Bersama K3BS yang dirangkai dengan rekoleksi dan syering iman dengan tema “Menjadi Putera-Puteri Gereja Dalam Komunitas Basis Yang Dihidupi Ekaristi Hingga Tumbuh, Mengakar Dan Mekar Sebagai Orang Katolik Sekaligus Sebagai Orang Karo”. 

Akhirnya, keluarga-keluarga yang terkait dalam K3BS ingin menjadi keluarga yang dinamika hidup seluruh anggotanya didasarkan pada iman Katolik.

Sebagaimana rumah adat Karo dibangun di atas fondasi yang kuat, demikian juga K3BS ingin menjadikan komunitas K3BS sebagai komunitas yang kuat dan hebat di tengah jaman yang dipenuhi hamparan beban. Seperti Anda tahu, bangunan rumah adat Karo ditopang oleh Pondasi batu palas (diameter 60cm) yang ditanam hampir setengah bagian dari tingginya ke muka tanah. 

Pada batu palas dan kolom itu diberi serbuk besi, daun siri dan ijuk. Tujuannya adalah untuk menyatukan pondasi dan kolom sehingga kolom dapat berdiri tegak di atas pondasi batu palas dengan diameter kolom 40, ukuran kolom dengan pondasi ini berbanding 2/3, sehingga sangat memungkinkan kolom untuk berdiri tegak di atas pondasi.

Demikian juga hidup kita sebagai orang Karo harus berdiri di atas iman yang kuat hingga tak surut oleh godaan apapun, termasuk oleh aturan adat yang kadang mengekang dan mengikat 2/3 dari hidup kita. 

Maka tema “Menjadi Putera-Puteri Gereja Dalam Komunitas Basis Yang Dihidupi Ekaristi Hingga Tumbuh, Mengakar dan Mekar Sebagai Orang Katolik Sekaligus Sebagai Orang Karo” mengajak kita, terutama anggota K3BS menjadi “orang Katolik yang lebih” dalam kata, pikiran, dan tindakan ditengah kehidupan masyarakat sekitar kita.

Perayaan Ekaristi yang berkali-kali kita rayakan hendak menggiring kita mencapai tujuan itu. Untuk itu, pada rekoleksi ini, mari kita menggali kedalaman iman lewat pemaham spiritualitas (Perayaan) Ekaristi tersebut.

Tentu, tak cukup waktu sekejap untuk memahami dan mendalami iman ke-Katolik-an itu. Tetapi kita tak lantas berpasrah diri dan tetap menjadi orang Katolik tapi belum Katolik, atau menjadi orang Karo tapi tidak 100% orang Karo.

Maka, untuk menjadi orang yang 100% Katolik dan 100% Karo kita harus senantiasa “mencari” entitas dan identitas kita itu dalam kehidupan sehari-hari kita. Lanjut Baca!


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter