Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jiwa dan Semangat Ekaristi (3)

Jiwa dan Semangat Ekaristi
EKARISTI MENJADI SUMBER DAN PUNCAK HIDUP UMAT BERIMAN (SC 10)
TINJAUAN BIBLIS: LUKAS 24: 13-35


I. PEMBUKAAN & PERNYATAAN TOBAT: “Tuhan, Kasihanilah Aku”


13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"

Makna :
  • Menyingkapkan kelemahan, kerapuhan, luka batin, trauma, persoalan hidupku, masa lalu, kini dan masa depan.
  • Datang untuk bertobat bukan takut akan penghakiman allah melainkan karena percaya ia maharahim, menempatkan manusia “diperhatikan secara istimewa” seperti seorang bayi dalam rahim ibu.
  • Korban sembelihan kepada allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan kaupandang hina, ya allah (Mzm 51:19).
  • Dengan bersedia menyingkapkan hati yang hancur di hadapan allah, kita berarti juga mempersiapkan diri untuk diperbaharui oleh allah yang hadir untuk bersabda.

Pengalaman “kehilangan” (Luk 24:19-21)

19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

Makna: 
  • Mengapa Yesus, Sang Nabi, itu mati dan dihukum mati oleh imam-imam kepala, padahal Ia berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami? Apalagi mayatnya pun hilang, tidak ditemukan lagi. Inilah sederetan peristiwa yang tambah mengecewakan dan membuat frustrasi kehilangan pijakan.
  • Mendengarkan adalah bagian terpenting dari Liturgi Sabda

II. LITURGI SABDA (Luk 24:25-27)

25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Makna: 
  • Menyadarkan dan meneguhkan kembali bahwa Allah itu tidak pernah berhenti mengasihi manusia juga kalau manusia jatuh dalam dosa.
  • Karya keselamatan itu dilaksanakan melalui penderitaan, bukan melalui jalan kekuasaan, popularitas dan kehebatan.
  • Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24)

III. CREDO/AKU PERCAYA (Luk 24:25-27)

“Tinggallah bersama-sama dengan kami, ya Tuhan.”
  • 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 
  • 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

Makna:
  • Murid Emmaus itu mulai mengajak “orang asing” itu tinggal bersama dengan mereka.
  • Manakah yang membuat mereka percaya kepada orang asing itu? Itulah pertanda bahwa tumbuhnya kepercayaan bukan sekedar usaha manusia, melainkan juga bersifat “Gratia”: rahmat.
 IV. PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Kepercayaan kepada Allah itu menggerakkan saya untuk tidak ragu-ragu menyerahkan seluruh hidup kepada Allah
  • Persembahan itu berarti “penyerahan diri” (English: to offer, Latin: offertorium), yakni mengubah pusat hidup dan jaminan masa depan kita dari diri sendiri menuju kepada Allah dengan segala resiko: membiarkan Allah berkarya. “Jadikanlah aku bola-Mu, yang bisa Engkau sepak ke sana kemari” (St. Teresia Kanak-Kanak Yesus). Dengan kata lain, “mengosongkan diri”: melepaskan segala sesuatu yang istimewa menurutku, dan mau mengikatkan diri kepada Tuhan. 
  • Roti dan anggur yang dibawa oleh umat kepada imam yang berperan sebagai “Kristus” (in persona Christi) menjadi lambang persembahan hasil usaha dan hidup manusia seluruhnya. Karena itulah Roti dan Anggur, bukan uang, yang pertama-tama dibawa ke altar!! 
  • Doa persiapan persembahan mengajak umat untuk menyadari dirinya semakin tergerak untuk bersyukur yakni, mengakui kerapuhannya dan tidak mampu hidup tanpa Allah. Karena itu, semoga umat beriman menyerahkan dirinya untuk “dikuasai cinta Allah yang menghidupkan”. 

V. LITURGI EKARISTI

Liturgi Ekaristi kenangan penuh syukur atas wafat dan kebangkitan kristus 
  • Puji Syukur: bukan sekedar ucapan terima kasih karena sudah diberi rejeki, melainkan syukur berarti kesediaan mengakui Allah yang terlibat dalam sejarah hidupku, justru karena aku lemah. “Dalam kelemahanku itulah, kasih karunia Tuhan berlimpah ruah. 
  • Maka jika aku lemah maka aku kuat!” Inilah pokok karya keselamatan Tuhan: Yesus mau tinggal bersama dengan manusia dalam kelemahan kita, bahkan mati, agar kematianNya bersama dengan manusia yang diterima Allah dengan membangkitkanNya dari antara orang mati, akan mengubah kematian dari malapetaka dan bencana menjadi “saat penuh rahmat” untuk mengawali hidup baru bersama Allah. 
Transubstantiatio-perubahan roti anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus 
  • Dalam Doa Syukur Agung, Kristus yang hadir dalam diri imam, bersyukur kepada Bapa yang telah membangkitkan-Nya dari alam maut, seraya memohon Roh Kudus-Nya, agar mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan darah-Nya. Perubahan itu terjadi bukan hanya dalam DSA, tetapi dalam “Perayaan Ekaristi”. 
  • Apa yang berubah? Hakekatnya!! Rupanya tetap roti dan anggur, tetapi identitas dan jati dirinya adalah Tubuh dan Darah-Nya. Demikianlah juga fungsi dan maknanya pun menjadi berubah yakni berperan sebagai pemersatu antara hidup manusia yang rapuh dan hidup Kristus yang ilahi. 

DOA SYUKUR AGUNG (Luk 24:30-31)

30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.


Makna:
  • Kata-kata ini “mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan dan membagi-bagikan kepada para murid-Nya” adalah sebuah ringkasan gaya hidup Kristus.
  • “diambil” itu menunjukkan peristiwa dipilih untuk diciptakan, diistimewakan oleh Allah. “Engkaulah Anak yang kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.
  • Sulit bagi kita untuk meng-“amini” kebenaran bahwa kita sungguh “dikasihi Allah” tanpa syarat karena kita terbiasa mendengarkan suara dunia: engkau kukasihi kalau engkau berprestasi, trampil, berdayaguna, dapat diandalkan karena kekayaan yang dimiliki, baik padaku dst.

Catatan:

1. Mengucap berkat: 
“Bersyukur” tidak lain adalah kesediaan untuk mengakui keterbatasan diriku; justru karena keterbatasan itulah, aku mengundang Allah untuk hadir dan terlibat aktif mengubah hidupku.

2. Memecah-mecahkan roti
Orang yang mengalami dirinya diterima Allah, diistimewakan dan dicintai-Nya akan tergerak untuk menyerahkan hidupnya sebagai korban bagi kepentingan kerajaan Allah (kesediaan untuk mengosongkan diri: menyangkal diri, tidak mempertahankan nyawa, memanggul salib dst.)

3. Membagi-bagikan roti: 
Orang yang mau “mengosongkan dirinya” (akan tergerak untuk memberikan dirinya bagi orang lain (waktu, tenaga, pikirannya, lebih suka mendengarkan daripada membela diri). Pengosongan diri itu berarti melepaskan ambisi untuk menjadi orang yang terkenal, popular, dan superman-superwoman, ambisi untuk berkuasa, ambisi untuk memiliki segala-galanya (lihatlah peristiwa Yesus digoda di padang gurun oleh Iblis dalam Matius 4: 1-11). Lanjut Baca!


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter