Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jokowi yang Semakin Kacau atau Pemberitaan Tentang Jokowi yang Kacau ?



"Pemerintahan Jokowi yang semakin kacau" atau "pemberitaan tentang pemerintahan Jokowi yang kacau"?
Apa benar Jokowi hanya asyik dengan kenaikan tarif BPJS, tarif cukai rokok, perluasan area bisnis yang dipajak, menterinya yang jadi tersangka, atau ketidakmampuan memadamkan api di hutan Riau?

Di periode keduanya ini Jokowi sepertinya emang sudah mulai terperosok kedalam perang kepentingan politik, di mana dia seperti banyak utang yang harus dibayar.

Ia masuk dalam perangkap KPK. Saat ia membuka kesempatan kepada DPR untuk merevisi UU KPK di penghujung jabatan mereka (yang konon katanya untuk memperkuat KPK), hanya dalam hitungan hari setelah para pimpinan KPK "menyerahkan mandat", menterinya malah jadi tersangka.

Jokowi memang sedang masuk dalam kolam berisi lumpur hidup yang diisi partai-partai di sekitarnya, tepatnya oleh orang-orang yang berebutan 5000an Trilyun kue yang sudah "berhasil" dipinjam oleh oleh Sri Mulyani atas nama negara.

Di satu sisi, Jokowi dicecar karena ingkar janji, hingga majalah Tempo menggambarnya sebagai presiden berbayang pinokio alias presiden yang berpotensi jadi pembohong.

Ia ditagih, tak hanya janjinya memperkuat KPK, tapi juga janjinya tahun 2015 silam tentang "tak akan terjadi lagi kebakaran hutan". Di beberapa media bahkan muncul lagi rekam jejak digital Jokowi yang menegaskan bahwa ia akan membelikan pesawat bom air untuk memadamkan kebakaran hutan di Riau.

Sementara mengenai KPK, ia pernah bertekad memperkuat KPK, hingga ia rela mengeluarkan dana 3,5 milyar untuk pengobatan Novel Baswedan yang diainyalir jadi korban disana. Nyatanya, kini, Novel Baswedan justru mengatakan bahwa para pelaku korupsi harus menghormati Jokowi.

Negara ini seperti tak punya pemimpin yang berwibawa. Jokowi seperti dijadikan "Uria oleh Daud" dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.

Bak Uria, Jokowi sepertinya hanya seorang kepala pasukan yang ditempatkan di medan terdepan pada sebuah pertempuran. Harapannya ia akan "mati", atau setidaknya mengaku gagal hingga meletakkan jabatannya dan membiarkan dirinya sebagai sosok pinokio yang menyesali petbuatannya.

Tak tanggung-tanggung. Para pesakitan yang lukanya belum sembuh pasca kekekalahan di pilpres lalu masih mengepungnya dari berbagai sisi, padahal disaat yang sama Jokowi justru dielus-elus oleh partai pendukung yang haus akan jabatan menteri.

Mampukah Jokowi melewati rintangannya di periode kedua ini?

Sepertinya ia harus mengurangi waktunya membaca media sosial, koran-koran, majalah, apalagi ILC di TVoon. Jokowi harus mulai menyeleksi teriakan rakyatnya, mana yang sungguh butuh bantuan: mereka yag minta dijauhkan dari asap kebakaran di Riau sana, atau malah mengirimkan baju kepada inang-inang telanjang di Sigapiton, Ajibata saat mememinta tanah adat mereka dikembalikan

Jokowi harus mulai fokus pada prinsip yang ia pegang teguh selama ini, minimal selama petiode pertamanya. Bisa jadi, sangat kecil kemungkinan ia dipaksa mundur, tetapi sebaliknya bisa terjadi. Ia jadi resisten dan mulai menampilkan sisi otoriter ala orang Solo yang memang sudah pernah ditampilkan Soeharto.

Pak Jokowi, Anda masih kuat?


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter