Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Haram-Halal Dalam Imperialisme Budaya



Terminologi halal dan haram tak melulu soal agama. Halal dan haram justru lebih sering "dimainkan" di panggung politik.

Alatnya ialah demokrasi: suara terbanyak adalah si pemenang. Begitulah terminologi "halal" selalu mewakili mayoritas dan terminologi "haram" selalu menjadi senjata si mayoritas untuk meniadakan si minoritas.

Haram hukumnya bagi si mayoritas untuk mengamini apa yang halal bagi si minoritas, dan halal hukumnya bagi mayoritas yang mengharamkan pemikiran, perkataan dan tindakan si minoritas.

Ini menjadi bukti betapa persoalan halal dan haram bukan melulu soal agama, melainkan lebih pada politik.

Agama dan ajarannya hanyalah alat untuk mengharamkan sesuatu yang ada diluar ajaran yang diyakini mayoritas, karena hasrat akan kekuasaan mutlak.

Lucu. Sungguh lucu ketika roti, catur, kartu ucapan, sapaan, dst pun harus dilabeli halal atau haram. Lucu, karena orang sering lupa bahwa tak ada label yang gratis. Ini semacam syarat ISBN untuk buku, nomor produksi untuk setiap produk.

Anda harus membeli label halal. Ya, minimal dengan label halal itu, perushaan Anda tak dituduh sebagai anti-mayoritas.

Dalam konteks yang lebih luas, kata kerja "menharamkan" adalah bentuk kolonialisme bisnis. Sebab, dibelakang kata kerja memgharamkan itu selalu diikuti larangan: "Jangan beli smartphone itu, karena dibuat orang "kafir".

Lebih luas lagi, kita semua selalu melakukan kedua tindakan itu: mengharamkan atau mengharamkan. Di satu sisi kita bisa mengimani dan mengamini kebiasaan X, tapi di sisi lain kita juga dengan tegas menolak kebiasaan Y.

Misalnya di acara-acara Adat Batak. Hari ini hingga esok saya sedang mengikuti ulaon adat Silahisabungan sedunia di Silalahi, Dairi. Selama bertahun-tahun, ulaon adat ini selalu melangsungkan ibadat ala Kristen (Protestan). Tahun ini, ketika pesta marga ini diadakan di tempat yang sama, Katolik diberi kesempatan.

Namun apa yang terjadi? Ketutunan silahisabungan yang protestan tak terima. Ada yang ambeg dan gak datang, ada yang merasa paling banyak menyumbang untuk acara marah-marah dan memaksa panitia mengganti pastor dengan pendeta.

Hasilnya? Lagi-lagi keturunan Silahisabungan yang beragama Katolik mengalah, dan tentu kecewa. Namun, daripada yang protestan ngambeg, maka besok didatangkanlah pendeta untuk memimpin ibadah dan si pastor cukup membacakan doa umat (safaat akat orang protesta).

Saya hanya ingin mengatakan, betapa kasus haram dan halal dalam agama juga terjadi dalam budaya. Apalagi bagi orang Batak. Kadang persoalan mayoritas tak dipahami dalam konteks jumlah, melainkan "siapa yang paling kencang suaranya".

Di titik inilah kata "hasadaon" (kesatuan) dalam konstelasi budaya Batak sama saja dengan apa tang lagi trend sekarang: siapa yang paling keras berteriak akan mengalahkan mereka yang hening dalam doa.

Si katolik pun mengalah demi menjaga nama baik Silahisabungan, dan disaat bersamaan si protestan pun berteriak demi memprotestankan silahisabungan.

Inilah yangvsaya maksud. Agama yang datang dengan konsep halal dan haramnya itu telah berhasil menjajah, bahkan memanipulasi budaya penganutnya.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter