Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

On Time

On Time
On time alias tepat waktu itu bukan kultur Indonesia. Di kalangan masyarakat Samosir, misalnya, on time itu bukan tepat waktu, melainkan "pada suatu waktu" (unce upon a time).

Tak hanya di kalangan masyarakatnya, tetapi juga di lingkungan pemerintah kabupaten Samosir tak dikenal istilah "tepat waktu" melainkan "pada suatu waktu".

Dalam bahasa yang agak spiritual, waktu versi masyarakat Samosir adalah "saatnya akan tiba" (futuristik). Tak mengherankan ketika rapat dan acara resmi di kantor pemerintah pun selalu terlambat (lewat dari jam yang dicatat di undangan).

Dulu saya tak percaya kalau mentalitas "selalu terlambat" ini juga menular dan mewarnai instansi pemerintahan kabupaten Samosir. Benar, teman-teman saya di Samosir memang sering cerita kalau rapat, pertemuan, atau acara di Pemkab tak pernah on time.

Saya baru percaya setelah menghadiri acara pelantikan anggota dewan di Gedung DPRD Kabupaten Samosir. Pukul 10.00 wib yang tertera di undangan tak lebih dari sekedar isian kuis TTS. Maksudnya, yang penting ada tertulis waktu di kotak kosong.

Kenyataannya, lebih dari satu jam acara ditunda. Tak hanya bupati dan wakilnya yang datang terlambat, tetapi juga mayoritas anggota DPRD yang akan dilantik saat itu.

Pada pukul 10:45 wib saya melihat dari barisan tempat duduk undangan, bagaimana para anggota dewan dan undangan itu masih asyik ngobrol sambil merokok di dekat tangga gedung. Ajakan protokol agar para undangan memasuki gedung bahkan tak dihiraukan.

Mereka punya prinsip yang sama seperti warga Samosir pada umumnya, "Ai so ro dope sude. Tapaima ma satokkin nari" (paling juga belum pada datang tuh semua. Ya udah kita tunggu bentar lagi aja). Ini juga terjadi di pesta-pesta adat, bahkan di lingkungan gereja.

Apakah kebiasaan ini jelek atau tidak, kita yang dari luar dan terbiasa on time tak berhak mengadili. Sebab, ketika ada di lingkungan semacam ini, bisa jadi Anda justru terpengaruh dan akan melakukan hal yang sama.

Sejauh pengalaman saya mengikuti rapat-rapat di yayasan pendidikan dan sebagai koordinator tim bagi salah seorang caleg di Samosir, saya belum sekalipun mengalami rapat yang on time. Mungkin hanya saat misa atau rapat dengan pastor yang on time.

Warga Samosir tak perlu berkecil hati, karena hampir seluruh negeri ini tak mengenal istilah on time, apalagi ketika Anda masih tinggal di Sumatera Utara.

Bisa jadi, seperti saya telah singgung di atas, ini soal pemahaman berbeda antara kita dengan bangsa lain. Kalau di negara lain, atau bagi sebagian orang di Indonesia "on time" itu soal menghargai orang/pihak yang mengundang.

Sementara bagi warga Sumut, khususnya Samosir, cara menghargai undangan bukan soal tepat waktu, karena "yang penting saya datang/hadir".

Akhirnya, "rasa bersalah karena telat" dari orang yang terbiasa on time, akan ditebus oleh orang yang tak suka on time dengan prinsipnya, "yang penting pasti datang/hadir, dan tak peduli ditengah atau di penghujung waktu."

😁👍 #SaiNaAdongDo 💪🙏


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter