Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Ritual Virtual vs Tindakan Aktual

Ritual Virtual vs Tindakan Aktuala
Kita semua punya rutinitas dan ritual harian. Kini, semua wjadi tergangggu. Covid-19 adalah senjata yang mematikan rutinitas itu.

Disaat Pemerintah mencari cara menghentikan persebaran wabah Covid-19 dan para tenaga medis berupaya menyembuhkan mereka yang terpapar, kita diminta untuk mengisolasi diri di rumah masing-masing.

*****
Semua hal harus kita lakukan di rumah: belajar, bekerja dan beribadah. Untungnya, ekspresi sosial masih bisa berlangsung lewat smartphone. Asal punya kuota dan ada jaringan internet, Anda bisa menulis di blog, curhat di Facebook, mencicit di Twitter, atau berbagi hasil swafoto di Instagram.

Jauh lebih penting selama kita menjalani masa karantina di rumah sendiri adalah mengisi hari-hari dengan berbincang santai dengan istri/suami, anak, dan saudara di rumah; atau duduk santai di kursi favorit sembari membaca buku.

*****
Lantas bagaimana dengan ekspresi spiritual kita? Berbagai ritual keagamaan tak bisa lagi dilakukan di tempat ibadah. Akibatnya, umat beragama merasa resah dan galau dengan larangan tersebut. Sebagian umat Katolik, misalnya merasa rindu menghadiri Misa Hari Minggu, atau umat Kristen yang merindukan kotbah pendetanya setiap minggu.

Tentu saja serasa ada yang hilang. Teriakan "Halleluya" dan "Katakan Amin" tak terdengar lagi di gereja Kristen beraliran Pentatonis. Begitu juga paduan suara dan melodi organ tak lagi terdengar anggun di gereja Katolik.
*****
Atas kegundahan umatnya, Gereja pun mulai mengalihkan Perayaan Ekaristi dari gedung gereja ke rumah umat dengan format Perayaan Ekaristi livestreaming via Youtube dan televisi. 

Banyak juga umat yang "menghadiri" ritual virtual tersebut. Dari berbagai postingan beberapa umat Katolik di akun medsos, kita bisa melihat bagaimana mereka mengikuti misa virtual tersebut. 

Mereka duduk manis berhadapan depan televisinya. Beberapa bahkan menaruh meja persembahan mini di depan televisi, lengkap dengan hiasan bunga dan salibnya. 

Pusat perayaan pun bukan lagi kehadiran Kristus lewat simbol-simbol liturgi di gereja, melainkan layar televisi, berikut imam yang sedang merayakan misa nun jauh di sana.

*****

Sepintas, antara imam dan umat duduk didepan layar televisinya seakan terkoneksi. Buktinya, saat di televisi sang imam menyapa "Tuhan sertama", penonton pun secara spontan menjawab "Dan bersama rohmu."

Jean Baudrillard, seorang filsuf Perancis pernah mengatakan bahwa televisi adalah medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole, karena dengannya kita tak bisa lagi membedakan mana realitas yang sebenarnya realitas semu, dan mana realitas buatan (hyper-reality).

Dalam kontek Perayaan Ekaristi virtual di atas, RELITAS dan HYPER REALITAS tak lagi tampil beda: Perayaan Ekaristi yang secara nyata dilakukan oleh imam di sebuah tempat, kini menjadi Perayaan Ekaristi super-riil yang "diikuti" umat di rumah mereka. 

Pada titik ini kita tak lagi bisa membedakan mana "pertemuan" dan mana "perjumpaan".  Padahal Perayaan Ekaristi sendiri adalah wahana perjumpaan dengan Allah lewat sesama (yang ikut merayakannya). Kenyataannya, saat ini, segala bentuk pertemuan bisa dilakukan secara virtual (non-fisik); sementara perjumpaan selalu mensyaratkan kontak fisik.

Niat awalnya mungkin sangat baik. Daripada samasekali tidak boleh merayakan Ekaristi bersama,  maka kita boleh mengadakan pertemuan (meeting) secara virtual via Youtube atau Zoom, atau lewat televisi. 

*****
Ibarat cinta, banyak keuskupan yang melihat Perayaan Ekaristi livestreaming ini adalah ekspresi cinta mereka terhadap umatnya. Hanya saja, keuskupan-keuskupan itu tak menyadari bahwa cinta ibarat sosok Prabowo Subianto, yang sudah tahu pasti kalah tapi selalu memaksakan diri jadi capres.

Sebab, dengan ekspresi ritual di atas umat justru tidak mendengarkan Tuhan yang sungguh ingin berbicara dengannya, atau sesama yang membutuhkan pertolongannya. Dengan Perayaan Ekaristi virtual di atas, gereja seakan cuek dan terus melanjutkan hidupnya, hingga tak peduli seberapa banyak korban Covid-19 setiap hari. 

Ini bukan waktunya gereja menjadi Gereja internet yang begitu mudah diakses secara virtual, tetapi begitu sulit diajak terlibat secara faktual. Daripada sekedar memikirkan ibadat virtual di atas, gereja harus mendengarkan 'rintihan' bumi, seruan dari mereka yang lapar. 

Sudah saatnya gereja tak memikirkan hal-hal materialistis melulu, termasuk perayaan-perayaan yang akhirnya bersifat materialistis tersebut. Andai tak bisa berbuat banyak membantu pemerintah mengatasi Covid-19 ini, maka gereja cukup meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang penting dalam hidup umatnya.

Hanya dengan cara itu mereka akan bangkitkan dan memahami arti kebangkitan Kristus.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter