iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Temu Corona Mea Vos Estis (CMVE) Jateng-DIY


Pertemuan CMVE Jateng & D.I.Y sangat luarbiasa. Untuk semua confrater di Jogja tak ada kata yang lebih pas dari pada kata terimakasih/mauliate/tarimakasih/bujur atas segala persiapan yang sangat mantabh. Bagi confratres CMVE’rs yang belum sempat turut hadir saya akan coba share dinamika pertemuan kamis.

Jumat, 27 September 

Acara diadakan di pantai nan indah, Pantai Po Tunggal, Gunungkidul, daerah Wonosari Yogyakarta.
Rangkaian Acara ditata sedemikian rupa sejak berkumpul di cafe Airin-Sonny di Yogya, Acara Camping di pantai, hingga kembali lagi ke Yogya - selesai. 

Berangkat bersama sekitar jam 4 sore menjadi start yang menggambarkan kebersamaan khas seminari. Iringan mobil dan sepeda motor menuju lokasi membentangkan betapa komunitas ini sangat kompak dan saling melayani.
Tak ada tuan maupun hamba, tak ada standing commitee maupun hanya sekedar member CMVE Jateng dan D.I.Y. Semua berjalan apik, dari mulai mempersiapkan peralatan kemah hingga pencarian 2 galon Aqua yang hari itu tampak sulit ditemukan di Kota Wonosari. 

Dalam perjalanan itu sendiri ada warna yang genit yang tak jarang mengurai tawa membahana. Richard Tariganmisalnya rela menabrak tiang saat membeli segalon aqua yang baru kami dapatkan di salah satu warung di desa menuju lokasi. Atau sekedar lawakan dan celotehan jenaka dari Richard Tarigan, Jonswaris Sinaga dan Lusius Sinurat tentang kehebatan seminari “manggoit” dan menggamit hati para wanita, hingga sering lupa wanita yang digamit adalah pria dengan casing wanita.

Muncullah istilah lae ipar atau eda bawa di dalam mobil, dan pasti disusul gemuruh tawa yang tak ada habisnya. Masih dalam perjalanan mendekati TKP, si Jonwaris malah sengaja menghalangi temen-temen yang naik motor agar mereka mendapat kesempatan “menghirup” abu Gunungkidul, walaupun nyatanya hati mereka mulai masgyul sembari membunyikan klekson berkali-kali. Tapi tau apa akhirnya?

Hanya tawa riang sebagai ekspresi bahwa kita semua bisa senang. Begitula tangga pertama berlalu, dan kami siap turun ke tangga berikutnya…. menginjakkan kaki di atas pasir untuk memprasastikan setiap kejadian yang barusan terjadi.

Tiba di Pantai Pok Tunggal. Semua bergerak, melanjutkan operasi bak Densus 88 yang siap tempur. Tak butuh waktu lama untuk memindahkan barang-barang dari mobil ke tenda. Begitu meyakinkan juga melihat para konfrater mendirikan tenda bak Yesus yang mendirikan Bait Allah dalam sekejap, dalam 3 hari. Konfrater bahkan mendirikan tenda hanya dalam hitungan menit. Luarbiasa ! Sembari “rumah” didirikan, Arie Kristanto Perangin-angin dan partner chep nya, Airin (katanya sih calon istri Sonny Farlin hehehe) dengan sigap mengeluarkan daing A1 dan B2 dari kotak persembunyiannya.

Siapa sangka, begitu genset nyala, tenda berdiri, tikar bekas MMT Sada Pardomuan terbentang, perapian dinyalakan, dan house music-nya Subandri Simbolon Tuan memekikkan telinga….. teringatlah saya dengan ajakan Yesus, “marilah kepadaku, hai kalian yang letih lesu dan berbeban berat karena aku akan meringankan bebanmu!” Makanan dan minuman segera tersaji secara ajaib.

Tak hanya daging yang biasa kita makan di warung penyet, makanan haram tapi harum pun turut meramaikan suasana. Lagi, sebagai bangso Batak, tuak pun tak mungkin ditinggalkan oleh CMVE’rs, karena tuak itu ibarat alarm yang memanggil-manggil aura kebatakan kita.

Sedemikian apik “gondang mula-mula” dan liukan tarian perkolong-kolong Plato Benhard Ginting’s , Subandri menjadi pembuka acara makan malam di malam sabtu yang ceria itu. Makan malam baru saja selesai. Semua mendapatkan makanan yang cukup, termasuk rombongan pastor Albert Pandiangan dan 3 putri sion yang digiring bersamanya ke TKP. Benar bahwa nasi hanya 1 gelas aqua gelas per orang, tapi itu lebih dari cukup karena babi panggang bisa melupakan kekurangan tadi.

Pendek kata, tak ada yang mengeluh lapar sepanjang perkemahan dimulai dan diakhiri di Pantai Pok Tunggal pada malam itu. Buktinya, saat acara improvisasi berjalan, sang improvisator selalu tampil bersemangat dan para pendengar tak pernah berhenti untuk sekedar tertawa atau nyeletuk soal isi “pidato-singkat” yang sedang didendangkan sang improvisator. Luarbiasa !



Tentang Improvisasi yang sudah saya utarakan sebelumnya saya akan uraikan satu per satu…
Subandri Simbolon Tuan hadir dengan tema “Makan-makan”. Subandri menyentil kebiasaan kita sebagai pemuda-pemuda Batak yang seringkali on time kalau makan-makan tapi tidak untuk rapat atau pertemuan. Dengan jenakan Bandri membandingkan filosofi kultur jawa “mangan ora mangan sing penting ngumpul” dengan filosofi pemuda Batak, “kumpul tidak kumpul yang penting makan”. Makan-makan itu penting, sejauh itu dapat mempererat perasudaraan. Jangan untuk mempererat persaudaraan harus dengan makan-makan.

Wison Manalu tampil dengan tema “Merantau”. Kendati tampak gugup, karena masih tergolong “probatorium” di CMVE Jateng - D.I.Y, Wilson melanjutkan bahwa kebiasaan merantau adalah proses menuju kebiasaan baru, mulai dari mencari relasi baru, backing atau dukungungan dari berbagai pihak, dan tidak boleh dilupakan adalah relasi dengan Tuhan.

Chandra membawakan tema “kreativitas”. Kreativitas menurut adik dari Sonny Farlin ini adalah kemampuan membuat sesuatu yang baru dan mengaplikasikan ide-ide tersebut. Maka tunjukkanlah kreativitasmu semampumu.

Jonswaris Sinaga dengan sangat santun membawa tema tentang pacaran. Jon mengenang masa di seminari bahwa seminaris itu selalu senang dengan tema ini. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memperlakukan wanita dengan baik. Dalam berpacaran yang dibutuhkan adalah komunikasi. Seraya mengingatkan audiens yang mulai tidak perhatian, Jon mengingatkan bahwa kita harus berpacaran secara sehat.

Richard Tarigan dengan logat Karo nya yang sangat kental menggiring audiens dengan tema Internet. Internet selain mempercepat informasi, tetapi serentak bisa menjadi pedang yang membunuh diri sendiri. Komunikasi pada akhirnya dengan media internet semestinya mempercepat dan mempelancar laju komunikasi di antara kita.




Shansai Mike Bakkara dengan style nya yang sangat cool maju dengan tema “Mendengar”. Tak begitu meyakinkan tampilan shansai, tapi keberanian untuk mengajak audiens untuk mendengarkan dia yang sedang berimprovisasi hahaha. Shansai bernostalgia dengan menuturkan kembali pengalamannya sebagai junior yang diharuskan mendengarkan seniornya dan tidak boleh sembarangan untuk menatap mata atau sekedar melihat sang senior.

Sonny Farlin membentangkan tema “Belajar” dengan konsep yang matang. Sonny mengurai 3 kategori mahasiswa, (1) hanya belajar tok di kampus, (2) belajar sambil berorganisasi dan kerja sampingan, dan (3) berorganisasi dan kerja sampingan tapi tidak mempedulikan kuliahnya. Soni mengajak audiens untuk memilih mana yang paling pas dan paling baik untuk mereka, sembari berbagi pengalamannya di kampus di USD - walaupun belum selesai (kata Soni loh! hahaha…)

Plato Benhard Ginting’s tiba-tiba menghentak dengan kalimat “Carilah, maka kamu akan mendapat” untuk membawakan tema “Kepompong”. Sepintas tidak nyambung tapi Plato berusaha membuat antara ajakan di atas dengan tema kepompong. Sangat jenaka sekaligus menggelikan ketika Plato mengatakan bahwa tidak semua kepompong pasti menjadi kupu-kupu, contohnya “Kupu-kupu malam”, lebih dulu jadi kupu-kupu lalu menjadi kepompong. wakakakakakk…. Sedikit tidak nyantol, tapi di akhir improvisasinya Plato mengajak agar persahabatan kita bak kepompong.

Tappin Saragih "Pasangan hidup" Plato ini menggiring audiens memahami tema "Valentine" bukan sekedar hari kasih sayang tetapi kemauan dan kemampuan untuk saling mencintai satu-sama-lain di antara CMVE Jateng-D.I.Y. Tappin mengajak kita agar tetap menyayangi cfrs lain, termasuk mereka yang belum bergabung atau belum ikut komunitas CMVE. Hanya dengan demikian, kata Tappin yang sangat serius banget ini, kita harus menjadi keluarga yang utuh.

Arie Kristanto Perangin-angin dengan berwibawa menggiring audiens mendengarkannya lewat tema “Menulis”. Arie mengingatkan bahwa kita dulu sudah terlatih untuk menulis karena banyak manfaatnya, karena dengan mengabadikan karya lewat tulisan kita bisa dikenang orang, bahkan mendapatkan uang. Maka, manfaat menulis itu begitu luarbiasa; dan menulis adalah salah satu cara berbagi dengan orang lain, dalam konteks ini adalah komunitas CMVE Jateng-D.I.Y.



Bruder Guido alias Wilfrids Sipayung membakan tema “Persahabatan” dengan mendalam (meminjam istilah Frans). Kita berkumpul di sini adalah karena kita sahabat. Persahabatan, dengan demikian harus kita jaga dan kita rawat. Maka jadilah sahabat bagi yang lain.

BasTanta BaNgun membawakan tema “Jembatan” dengan gaya seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Jembatan dibahas oleh Bas dalam 2 versi, jembatan sebagai jalan dan jembatan sebagai media penghubung antar-pribadi. CMVE adalah jembatan antara mereka yang masih dalam koridor komunitas atau mereka yang bahkan tak peduli dengan komunitas kita.

Fransiskus Ginting, salah satu cfr yang sedang libur dan menyempatkan diri mengunjungi CMVE’rs Jateng-DIY membawakan tema “Percaya Diri”. Frans mengingatkan kawula muda CMVE’rs agar percaya diri itu bukan soal bagaimana tampil saat berbicara melainkan bagaimana kita mengetahui apa yang harus kita sampaikan.

Guido D’jaep Purba memulai iklan shampoo Ariel Noah saat membawakan tema “Sabun”. Sabun memang berfungsi sebagai alat pembersih dan menghilangkan penyakit-penyakit. Seperti iklan Ariel Peterpan, sabun mengubah wajahnya menjadi lebih segar; begitu juga dengan kita. Secara filosofis “sabun” bisa mengubah hidup Anda!
Sebagai akhir dari improvisasi Lusius Sinurat membentangkan tema “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sebagai alarm bagi kita para perantau, agar kita selalu ingat dari mana kita berasal sembari belajar bagaimana kita bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Sebagai orang yang lahir dari rahim yang sama dari Seminari Menengah Christus Sacerdos maka kita harus selalu hidup dinamis sembari tak boleh lupa sedangn ada di mana kita sekarang.


**Catatan:

Masih ada Airin (pacar Sonny), 3 mahasisiwi USD dan 1 pastor (pater Albert Pandiangan, OFM Cap) sebagai tamu dan turut berimprovisasi-ria. Tapi kami mencantumkan di sini karena alasan redaksional :)



Beberapa poin menarik sekaligus masukan berharga bernada harapan dan rencana di hari mendatang dalam pertemuan CMVE di Pantai Pok Tunggal :

Hampir pasti semua seminaris menemukan dan mengembangkan bakatnya di Seminari. Persoalannya bagaimana bakat dan potensi yang telah ditemukan itu dikembangkan setelah keluar dari Seminari. Kita, CMVE Jateng dan D.I.Y. pun membutuhkan komunitas, sebagaimana kita dulu bertumbuh dan berkembang dibawah naungan komunitas bernama Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar.

Dalam sebuah komunitas dibutuhkan penggerak atau pelayan yang menyediakan dirinya bagi yang lain. Begitu juga dengan kita di komunitas CMVE Jateng dan D.I.Y.. Persoalan muncul justru ketika semua anggota komunitas itu sedemikian tergantung pada para penggerak tadi. Tak heran ketika si A sudah tidak menggembalakan komunitas kita maka komunitas itu rawan untuk bubar dan hancur lebur.

Di titik inilah keberlangsungan komunitas CMVE Jateng dan D.I.Y. tak lagi berjalan semestinya. Mengapa? Ketergantungan pada figur atau orang-orang tertentu yang menjadi penggerak begitu kuat. Untuk itu bagi CMVE yang belum bergabung jangan disalahkan tapi tetap diajak dalam bahasa kasih. Warna CMVE Jateng-D.I.Y. tak saja untuk anggota CMVE tapi juga untuk lingkungan terdekat, bahkan bergerak di komunitas masyarakat umum. Kita harus membuka diri dan harus menyumbang spirit itu ke dunia luar. Seperti Shansai di USD yang semakin kehilangan aura seminarisnya.

Kegiatan-kegiatan yang akan kita selenggarakan berikutnya harus membuat kita semakin kompak, terutama bila kegiatan itu mengangkat tema budaya Batak. Misalnya mementaskan drama tentang Batak. Semangat belajar harus tetap dijaga hingga lulus tepat waktu. Doa tetap menjadi kunci keberhasilan dan kelak bisa membantu seminari.

Anak seminari harus berani menunujukkan priveleginya, ada plusnya dibanding dengan lulusan dari sma lain. Untuk itu kita tidak merasa sendiri karena kita selalu memiliki saudara, khususnya CMVE; untuk itu harus saling mendukung. Mengajak teman memang tidak mudah. 1-2 kali masih wajar, tapi diluar itu sudah mengusi batas kesabaran. Saran saya agar mereka kita kunjungi mereka seperti yang sudah CMVE lakukan untuk saya. Mendukung teman adalah salah satu yang terbaik untuk komunitas kita. Teman2 CMVE selalu mengingatkan kita demi membangun perkembangan diri kita masing-masing.

Memberi waktu sama dengan memberi diri. Maka, disiplin waktu adalah bagian dari kita, khususnya komunitas CMVE Jateng-D.I.Y. tercinta ini. Soal disiplin waktu juga terkait dengan sense of belonging dengan hasrat untuk bertemu kembali dengan CMVE’rs lain.

Bisnis : Terkait bisnis bersama dibicarakan dalam pertemuan malam hari di cafenya Airin dan Sonny Farlin dan tidak dipublish di sini hingga bisnis sudah selesai.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.