iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Guru Harus Mampu Meretas Realitas

Guru Harus Mampu Meretas Realitas
"Benar Pak. Cara yang bapak katakan itu sudah tepat. Tapi, persoalannya, tempat kami mengajar tidak selengkap yang bapak bayangkan," jawab Ibu Borokokok dalam sebuah diklat.

Pendidikan kita adalah hamparan paradoks. Guru begitu inferior bila berhadapan dengan realitas. Bagaimana tidak?

Sarana dan prasarana yang terbatas, potensi anak didik yang sering dianggap kurang oke, kerjasama dengan guru lain yang tak bisa intim, dst sering dijadikan alasan para guru untuk "hanya menerima keadaan".

Kenyataan ini mengingatkan kita paada guru-guru tahun 80-an hingga tahun 90-an akhir. Mereka saban hari bergelut dan bersentuhan langsung dengan "kekurangan", entah sarana dan prasarana, entah keterbatasan jumlah guru.

Tak hanya guru, siapa pun yang bekerja pasti berhadapan dengan "keterbatasan", sebab kita sendiri pun hidup di dunia yang terbatas.

Postingan ringkas ini tak bermaksud mengatakan bahwa keterbatasan itu tantangan. Bukan. Keterbatasan itu adalah keadaan yang harus kita terima.

Bukankah keterbatasan pengetahuan anak didik-nya yang menjadikan seorang guru berguna? Lantas, mengapa para guru sering tak menerima di saat anak-anak sekarang lebih pinter dari mereka?

Harusnya ini menjadi kegembiraan baru bagi para guru di jaman ini. Sebab, disamping mengajar anak didik, para guru itu juga sekaligus bisa belajar dari anak-anak. Ya, minimal bagaimana cara memainkan game online di handphone.

Atau, tak ada alasan bagi guru untuk menyalahkan kemajuan teknologi sebagai penghambat. Juga tak adil rasanya menyalahkan Fesbuk, Twitter, Instagram dan akun sosial lain yang mampu dimainkan anak didik-nya dengan baik sebagai penghalang.

Lagi-lagi ini bukan mengenai tantangan seorang guru. Ini realitas yang harus diterima. Tinggal bagaimana menjadikan berbagai kemajuan itu sebagai kemudahan yang diberikan dunia kepada para guru di jaman ini.

Gimana bapak/ibu guru. Setuju?

Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.