iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Anak-anak Aluminium

Anak-anak Aluminium

"Anak-anak muda kita sangat tidak sopan, terutama dalam hal penggunaan media sosial. Bahasa mereka tidak santun, dan suka membully, termasuk presidennya sendiri," kata presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri baru-baru ini.

Saya kira da benarnya juga. Entah karena keterbatasan kosa kata yang mereka miliki, atau karena sistem pendidikan robotik yang mereka lalui di kampus dan di sekolah, nyatanya banyak anak-anak, remaja, bahkan orang muda secara umum makin tak tahu sopan santun.

Rasanya,anak-anak muda kita adalah output dari sistem pendidkan keluarga yang serba cuek dan pragmatis, korban kurikulum uji coba, dan produk dar keniscayaan sosok teladan di lingkungan terdekatnya.

Bukan tanpa alasan juga ketika ada anak remaja yang bahkan melecehkan simbol-simbol negara, memplesetkan dasar negara, bahkan tiada henti menghujat pemimpinnya.

Dunia memang serba terbalik saat ini. Relasi anak dan orang tua dan relasi anak dengan saudaranya kandungnya bahkan semakinsering dihiasi oleh relasi negatif: tak jarang antara mereka sling meniadakan nyawa.

Ini hanya salah satu contoh ketiadaan figur contoh di lingkungan mereka. Selain itu, keberadaan tokoh agama malah tak banyak membantu. Mereka mengkorup biaya peziarahan suci, menelan uang gereja untuk keluarganya, menyelewengkan uang persembahan untuk membeli barang mewah kesukaannya, dst. Tentu tak semua, dan bisa jadi hanya segelintir yang baru terpublikasi.

Lantas, siapa yang layak dijadikan acuan hidup dalam membiasakan hidup santun disaat ayah dan ibunya sibuk di luar rumah, tetangganya tak kenal, guru-guru selalu memberikan PR hingga lupa mengajar, dan disaat kulaih S1 hingga S3 mereka justru diminta menduplikasi buku tanpa rasa bersalah?!?

Kepada siapa mereka harus santun, disaat saban hari si anak mendengar teriakan ibunya dan bentakan ayahnya? Mengapa pula ia harus sopan kepada guru yang selalu mengatakannya si anak bodoh? Atau dia harus sopan kepada dosennya yang notabene tak berkualitas?

Sungguh, mbak Mega.. tak hanya anak muda, kita semua, terutama masyarakat Indonesia ini sudah tak mengenal sopan santun... Belum lagi bila sopan santun itu dikaitkan dengan kejujuran.

Anda boleh miris dengan anak muda bangsa ini, tetapi juga serentak kaum muda bisa miris dengan kebiasaan korupsi di dalam pemerintahan, juga dalam partai yang Anda pimpin.

Hanya saja...dan ini sangat kita sayangkan, ketidaksopanan alias ketidaksantunan itu pun kita alamatkan kepada orang baik dan tulus seperti Presiden kita, Joko Widodo.

Syukurlah beliau tak reaktif seperti Ahok, atau malah cenderung doyan mengina ala Fadli Zon, atau curhat dengan rintihan prihatin ala SBY. Sungguh, kita bangga punya presiden yang punya integritas, kendati kita sadar ia tak mungkin berjalan sendiri membenahi bangsa ini.

Akhirnya, untuk menghentikan ketidaksantunan ini, kita harus mulai dari diri sendiri, seperti Jokowi yang masa bodoh dengan mereka yang banyak menghina karena memang mereka terbiasa hidup dalam hinaan.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.