iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Kompetisi Politik

Kompetisi Politik
Semakin hari persaingan antar politisi meraih kekuasaan semakin tak masuk akal. Mereka yang ingin berkuasa berlomba memonopoli rakyat sebagai pengikutnya, massanya.

Tentu saja kata "rakyat" di sini dipahami secara subyektif, sesuai keinginan mereka.

Rakyat adalah karyawan, pelanggan dan mitra bisnis dari pengusaha yang mendukung para kompetitor itu. Sementara pengusaha ialah mereka yang berkomitmen mensponsori perjuangan para politisi pencari kursi kekuasaan itu.

Mereka mau mensponsori politisi tertentu tak lain karena mereka melihat penambahan profit yang signifikan bila politisi jagoannya itu menjabat.

Lagi, rakyat adalah umat yang berada dalam pengaruh kaum agamawan, tepatnya para oengikut alim ulama atau tokoh agama tertentu.

Umat inilah yang kemudian diarahkan oleh si ulama untuk memilih G sebagai anggota DPRD Tk II, memilih E di DPRD Tk I, memilih L sebagai DPR di Pusat, dan O sebagai Presiden.

Bila sesuai dengan keinginan si ulama, yakni keempat posisi itu terisi oleh masing-masing G,E,L dan O, maka ia akan menjadi ulama s seperti kemauannya, maka ia akan menjadi ulama yang GELO.

Politik adalah persaingan. Persaingan adalah bisnis. Bisnis adalah perebutan uang. Uang adalah pedang yang siap membunuh saingan. Dan akhirnya, saingan adalah mereka yang tidak memilih politisi pemenang.


Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.