Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Life is Not To Have, but To Be

Life is Not To Have, but To Be
Untuk apa saya tau siapa diri saya: supaya dikenal orang lain? Supaya saya tau kalau saya seorang mahasiswa? Atau agar orang diluar sana tau kalau saya seorang katolik? Tentu bukan!!!! Lalu apa dong? Sebetulnya, sasaran dari pertanyaan ini justru menolong kita untuk: 
  • Menemukan realitas – realitas penting yang membangun pribadi manusia; lewat pendekatan kepribadian dan relasi – relasi antar manusia;dan bagaimana realitas – realitas itu ditempatkan dalam diri manusia. 
  • Mengenali diri dengan lebih baik dalam aspek – aspek hakiki anda 
  • Memahami pertumbuh kembangan Anda untuk menjadi diri Anda sesungguhnya, sehingga Anda dapat hidup dengan lebih baik. 

Modal awal “Mengenal Diri” Anda

Modal awal dalam proses pengenalan diri adalah segala potensi yang kita miliki. Dengan potensi diri tersebut kita menemukan: 
  • Metode untuk menjelajahi dunia batin serta mengelompokanya. 
  • Semacam life-style, tepatnya gaya berbicara tentang diri sendiri, dengan mengacu pada diri sendiri, sembari memprioritaskan hakekat diri dan pertumbuhkembanganya. 
Berkaitan dengan hal di atas, kita diajak untuk berefleksi: 
  1. Perhatikanlah hakikat diri di kedalaman diri anda. Aktualisasikan potensi yang ada di hakikat-diri Anda! 
  2. Ketika membuat keputusan, yakinlah bahwa anda berkonsultasi dengan sumbu pusat pribadi Anda, dan janganlah membuat keputusan yang tidak berkesuaian dengan hakikat diri Anda. Dengan mengacu pada hati nurani terdalam anda, maka tindakan-tindakan anda akan membangun kepribadian anda. 

Mentalas Yang Perlu Dibangun

Setelah mengetahui siapa diri kita sesungguhnya, maka berhadapan dengan era globalisasi ini, sebagai generasi penerus bangsa dan gereja, seorang mahasiswa/i hendaknya bercermin dari Yesus. Dari Yesus kita bisa belajar membangun mentalitas yang inovatif, orisinil, kreatif, inspiratif, dan kharismatis, eksploratif, dan progresif.

  • Inovatif - Yesus yak hanya mengajarkan taurat (ajaran resmi, hukum, aturan dan sejenisnya). Yesus melengkapi, membarui, dan melengkapi taurat, dengan mengembalikan makna taurat yang sesungguhnya, yakni pembangunan hidup dalam cinta kasih. 

  • Orisinil - Yesus sungguh tampil menjadi dirinya sendiri. Ia tak terpengaruh dan tergoda oleh apapun. Ia setia membabat habis segala yang merusak hidup manusia, yakni penyakit dan penderitaan. Hidupnya selalu menyampaikan hati, keramahan dan kebaikan Allah. Sebab Allah menyertai Dia; dan melalui Dia Allah memancarkan kekuatan dan cinta-Nya. 

  • Kreatif - Ia tampil lewat pengajaran yang berwibawa, pergaulan yang melegakan, serta lewat doa dan mukjizat yang ia lakukan. Hidupnya melimpah karena ia senantiasa bersyukur; juga karena ia selalu menjadi diriNya sendiri. Ia betah pada dirinya sendiri dan membiarkan kegembiraan dan ketakutan masuk ke dalam hidupNya. Ia mengembangkan konsep kerajaan ideal di dunia, yakni model kerajaan Allah. 

  • Inspiratif - Kehadiran Yesus di tengah manusia mengilhami orang lain untuk mengikuti-Nya. Mengikuti berarti: pertama: bersatu denganNya, berhati dan berjiwa seperti Yesus dan memperhatikan kerajaan cinta. Kedua, bersatu dengan-Nya dalam jalur persatuan denagn sesama: bertemu dan berbicara dengan rohNya. Ketiga, menarik roh-Nya, menerima dan untuk selanjutnya meneruskanya kepada orang lain. Terakhir, aktual dan kontekstual seperti Yesus, mengaitkan diri dengan hidup sehari – hari, dalam tegangan antara yang ideal dan realistis. Maka bagi pengikut-Nya, ia sungguh menjadi inspirator. 

  • Kharismatis - Hidup-Nya tak sekedar ikut arus. ia beranihidup di luar hak-Nya, di luar kebiasaan yang ada, serta di luar pendapat dan pandangan umum. Bukan hanya orang Yahudi, orang non-Yahudi pun mendapat perhatian yang sama dari-Nya.  

  • Eksploratis - Yesus memiliki kekhasan yang unik. Perspektifnya luas, sehingga ia tidak pernah takut menghadapi tantangan dan hambatan dalam hidupNya. Tentu saja bukan karena ia adalah alumni universitas terkemuka. Namun, murni karena ia dianugerahi Allah pengetahuan-Nya yang sungguh dahsyat. Pendeknya, 100% potensi yang dimiliki Yesus berasal dari Allah. Tak heran bila dalam pengajaran-Nya, Yesus memiliki sasaran yang jelas, komitmen yang kuat, kemampuan berkomunikasi yang mumpuni, dan kemauan untuk terus menerus belajar (learning ability). 

  • Progresif - Yesus memiliki sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan manusia. Ia berfikir panjang (apa yang terjadi dengan dunia di masa mendatang. Sudut pandang ini tampil dengan perkataan-Nya yang tajam menyerang dan meluluh-lantakkan segala bentuk kejahatan (yang mengakibatkan penderitaan), juga dalam karya penyembuhan yang ia lakukan. Ia tidak hanya memikirkan masa sekarang, tapi juga masa yang akan datang, termasuk hidup sesudah mati. 
    *) Diberikan pada kaderisasi IMKA-PTKI Medan
    Training Center, Sayum Sabah, Sembahe 27 Maret 2010
    lusius-sinurat
    Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

    Related Posts

    Posting Komentar






    DONASI VIA PAYPAL
    Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

    Subscribe Our Newsletter