Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Hidup Membiara Sebuah Pilihan

Hidup Membiara Sebuah Pilihan
Ilustrasi : Pastor Nelson berbagi kisah dengan seorang dokter dari Siantar
1. Kenapa memilih hidup membiara?
Menurut saya hidup membiara juga punya keasyikan tersendiri. Itu pilihan, bukan pelarian. Kalau tak sanggup ya tinggal keluar dan memilih jalan hidup yang lain. Yang namanya pilihan, sadar atau tidak sadar, toh selalu mengandung resiko. Untuk itu sejak memutuskan masuk biara, saya hanya memikirkan satu hal: I like this ways. Menurut saya sih bukan saya yang memilih cara hidup seperti ini, melainkan Allah yang memilih dan menentukanNya untuk saya.
    2. Hal-hal apa yang menarik dalam hidup membiara?
    Banyak hal yang menarik dalam hidup membiara. Kebersamaan dalam sebuah komunitas antar-saudara (confrater) hanyalah salah satu kekhasan di dalamnya.  Namun jauh lebih penting daripada itu, hidup membiara memberikan peluang yang lebih besar bagi saya untuk berpartisipasi dalam membangun “Kerajaan Allah” di dunia ini –sebagaimana dicita-citakan Yesus. Sederhanya, saya bangga dipilih untuk tugas itu.
    3. Berapa lama Anda telah hidup membiara?
    Kurang lebih 12 tahun, dalam Ordo Sanctae Crucis (OSC), Ya, sejak tahun 1997. Kaul Perdana pada tangal 28 Agustus 1999. Kaul kekal pada tangal 28 Agustus 2004.
    4. Apa tantangan paling nyata yang Anda hadapi dalam hidup membiara ?
    Seorang biarawan mengucapkan 3 kaul (kemurnia, kemiskinan, dan ketaatan). Maa tantangan dalam hidup membiara, dengan demikian adalah usaha untuk menghidupi kettiga kaul tersebut.  Keinginan-keinginan manusiawi kita tak akan terbendung bila kita tidak hati-hati. Oleh karena itu Dalam konteks hidup membiara, nyata di depan mata beberapa tantangan sekaligus godaan untuk menikah, lantas menjadi orang kaya, hingga hasrat menjadi orang sukses.
    5. Apa pengalaman suka-duka Anda selama hidup membiara?
    Bagi saya pribadi, selama menjalani hidup membiara, suka lebih dominan daripada duka. Tapi itu bukan harga mati. Sebagaimana hidup normal, suka-duka tak dapat kita hindari. Hal terpenting dalam hidup ini adalah berbagi hidup dengan yang lain. Ingat, hanya orang yang hidupnya melimpah lah yang mampu berbagi. Artinya, kalau kita tak “memiliki” apa-apa lantas kita mau memberi apa? Sejalan dengan poin kedua di atas, maka teladan hidup jauh lebih penting daripada sekedar merasa diri Utusan Allah tapi pola hidup sangat duniawi, bahkan samasekali tidak menggambarkan kehadiran Allah dalam dirinya. Akhirnya, saya tak mungkin mewartakan Allah (baca: Kabar Gembira) dengan sedih, melainkan harus dengan gembira. Namanya aja kabar gembira, bukan kabar sedih! Di sini, ada tuntutan dari dalam diri bahwa saya harus lebih dahulu “matang” sebagai seorang religius sebelum saya mengajak orang mendengarkan perkataan saya.
    6. Hal-hal apa saja yang ingin dicapai dalam hidup membiara?
    Ingin menjadi sempurna seperti Kristus. Inilah cita-cita ideal saya sejak memutuskan masuk membiara. Tentu saya ini takkan tercapai, sebab saya bukan Kristus. Usaha ke arah itulah yang memotivasi dan menggiring saya menjadi orang yang lebih baik dalam arti luas di hari-hari mendatang. Untuk itu, saya harus berani mengurbankan keinginan-keinginan dan hasrat diri demi kemajuan gerejaNya.
    7. Bagaimana Anda menjalani hidup membiara?
    Asyik-asyik aja tuh. Ya, ngalir ajalah. Toh, hidup di komunitas dan cara apa pun selalu mengandung resiko, serentak bisa menelurkan kebahagiaan tersendiri. Maka semua hal itu sungguh tergantung pada diri saya, tepatnya bagaimana saya menciptakan kebahagiaan itu, bukan bagaimana cara saya menuntut orang lain membahagiakan saya. That’s all !
    8. Apakah hdiup membiara sudah menjadi impian Anda sejak kecil atau karena hal lain?
    Hidup membiara, tepatnya keinginan menjadi seorang pastor sudah mulai muncul sejak saya kelas 4 SD. Berarti sejak kecil dong. Tapi, tahu apa anak kecil soal cita-cita? Impian itu hanya akan menjadi nyata kalau ada usaha dari pihak saya. Artinya, untuk apa bercita-cita hanya demi nyenyaknya tidur sesaat saja? Cita-cita itu harus kita usahakan; dan bersamaan dengan itu pasti Allah turut campurtangan. Nah, di sinilah usaha saya dengan bantuan Allah selanjutnya menggiring saya untuk selanjutnya masuk ke seminari menengah di Pematangsiantar (1993-1997) hingga memutuskan masuk Ordo Sanctae Crucis (OSC) di Bandung (1997-sekarang / 2010).
    9. Pernahkah muncul penyesalan telah memilih hidup membiara? Andai ada, bagaimana cara saya mengatasinya?
    Mungkin bukan penyesalan, tapi lebih tepat kecewa. Saya pernah keluar dari biara (extra-clausura) pada tahun 2006-2008 dengan berbagai kekecewaan terhadap pola hidup membiara yang menurut saya telah digerorgoti oleh kepentingan pragmatis.
    Banyak biarawan, pun para imam dan uskup yang hidupnya tidak lagi menggambarkan hidup Kristus (imitatio Christi). Tapi toh akhirnya saya harus sadar dan kembali pada prinsip awal saya ketika memutuskan masuk biara: Allah memilih menurut apa yang Ia kehendaki, bukan apa yang diinginkan manusia. Nah, pengalaman di luar buara kurang lebih 2 tahun itu justru makin memurnikan panggilan saya, dan mengubah pola pandang saya terhadap “yang lain”; hingga selanjutnya muncul niat memperbaiki pola piker, perasaan, dan pola tindakan. Salah satu cara untuk keluar dari situasi “ruwet” itu adalah dengan berpikir positif dsan membangun kesadaran (awareness) bahwa Allah sendiri yang memanggil saya, bukan saya yang memanggil Allah. Akhirnya saya berusaha menyerahkan segala perkara yang seharusya menjadi urusan Allah dan menyerahkan kepada manusia apa yang menjadi urusan manusia. Otoritas tertinggi ada pada Dia yang memanggil saya, bukan pada sekuat apa saya berusaha. Otoritas yang saya maksud di sini adalah otority as a gift, otoritas sebagai sebuah rahmat yang dihadirkan Allah secara terus menerus dalam hati saya.
    10. Apa prinsip Anda dalam hidup membiara?
    Meneladani Kristus yang memanggil saya.Pendek kata, menjadi pribadi yang lebih altruis, dan bukan egois.

    *) Hasil interview Yosephine Sitanggang ([email protected]) dengan narasumber Lusius Sinurat ([email protected]) pada bulan September 2010.


    lusius-sinurat
    Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

    Related Posts

    Posting Komentar






    DONASI VIA PAYPAL
    Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

    Subscribe Our Newsletter