Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Motu Proprio Data

Motu Proprio Data
SURAT SRI PAUS BENEDITUS XVI KEPADA PARA USKUP DALAM RANGKA PUBLIKASI

SURAT APOSTOLIK “MOTU PROPRIO DATA” SUMMORUM PONTIFICUM
BERKENAAN DENGAN PENGGUNAAN LITURGI ROMA SEBELUM PEMBAHARUAN PADA 1970


Saudara Uskup-Uskupku terkasih,
Dengan kepercayaan dan harapan tinggi, aku mempercayakan kepada kalian sebagai Pastor-Pastor, teks dari Surat Apostolik baru “Motu Proprio data” berkenaan dengan penggunaan liturgi Roma sebelum pembaharuan pada 1970. Dokumen tersebut adalah buah dari banyak refleksi, banyak konsultasi dan doa.

Laporan-laporan berita dan penghakiman-penghakiman yang dibuat tanpa informasi yang cukup telah menciptakan kebingungan yang tidak sedikit. Ada banyak reaksi yang berbeda, dari penerimaan yang gembira sampai perlawanan yang kasar, berkenaan dengan sebuah rencana yang isi nyatanya masih belum diketahui.

Dokumen ini paling ditentang secara langsung karena dua ketakutan, yang ingin aku bahas secara lebih dekat di surat ini.

Pertama-tama, ada ketakutan bahwa dokumen ini mengurangi otoritas dari Konsili Vatikan II, dimana keputusan penting [dari konsili tersebut] – yaitu pembaharuan liturgi – dipertanyakan.

Ketakutan ini tidak berdasar. Dalam hal ini, pertama mesti dikatakan bahwa Misa yang dipublikasikan oleh Paulus VI dan kemudian di publikasikan kembali dalam dua edisi berturut oleh Yohanes Paulus II, jelas-jelas dan terus menjadi Bentuk normal – the Forma ordinaria – dari Liturgi Ekaristi. Sekarang, Versi terakhir dari Missale Romanum sebelum Konsili [Vatikan II] akan bisa digunakan sebagai sebuah Forma extraordinaria dari perayaan liturgis. Tidaklah patut untuk berbicara mengenai dua versi dari Misa Roma ini seakan-akan mereka adalah “dua ritus”. Namun, ini adalah masalah dua lapis penggunaan (use) dari ritus yang satu dan sama.

Dan mengenai penggunaan Misa 1962 sebagai Forma extraordinaria dari Liturgi Misa, aku ingin menarik perhatian kepada fakta bahwa Misa ini tidak pernah dibatalkan secara yuridis dan, konsekuensinya, selalu diijinkan. Pada saat pengenalan Misa yang baru [ie. Misa Paulus VI 1970], tidak dirasa perlu untuk mengeluarkan norma-norma [ie. aturan-aturan] spesifik bagi kemungkinan penggunaan Misa yang lebih awal [ie. Misa 1962]. Mungkin [kala itu] dipikir bahwa [hal tersebut] akan merupakan masalah beberapa kasus individu yang akan terselesaikan kasus per kasus pada tingkat lokal. Setelah itu, bagaimanapun, cepat menjadi jelas bahwa sejumlah besar orang tetap terikat kuat dengan penggunaan Misa ritus Roma [yang lebih awal] ini, yang akrab bagi mereka sejak dari kecil. Ini terutama merupakan kasus di negara-negara dimana gerakan liturgis telah menyediakan kepada banyak orang sebuah formasi liturgis dan keakraban yang dalam dan [bersifat] pribadi terhadap Bentuk awal dari perayaan liturgis [tersebut].

Kita semua tahu bahwa, di gerakan yang dipimpin oleh Uskup Agung Lefebvre, kesetiaan kepada Misa lama menjadi tanda identitas eksternal; alasan-alasan bagi perpecahan yang timbul karena ini, bagaimanapun, terletak pada tingkat yang lebih dalam [dari sekedar kesetian kepada Misa lama]. Banyak orang yang dengan jelas menerima karakter mengikat dari Konsili Vatikan II dan setia kepada Paus serta Uskup-Uskup, tapi masih ingin untuk kembali kepada bentuk liturgi Kudus yang berkesan bagi mereka. Ini terjadi, diatas segalanya, karena di banyak tempat, perayaan-perayaan [dengan Misa Paulus VI] tidak taat kepada preskripsi Misa baru tersebut, namun yang sebelumnya [catatan: aku kurang tahu “yang sebelumnya” apa, mungkin “Misa Paulus VI”] dipahami [sebagai sesuatu] yang mengijinkan atau bahkan memerlukan kreativitas, [dimana hal-hal tersebut] sering berujung kepada deformasi liturgi yang sulit untuk diterima. Aku berbicara dari pengalaman[ku], karena aku juga hidup melalui periode [Misa Paulus VI] dengan harapan-harapannya dan kebingungannya. Dan aku telah melihat bagaimana deformasi yang rancu atas liturgi menyebabkan kesakitan yang dalam kepada individu-individu yang berakar dalam iman Gereja.

Paus Yohanes Paulus II, karenanya, merasa wajib untuk menyediakan di Motu Proprio Ecclesia Dei (2 Juli 1988), aturan-aturan bagi penggunaan Misa 1962; dokumen itu, bagaimanapun, tidak mengandung preskripsi detail tapi memohon (appealed) secara umum kepada kedermawanan tanggapan para Uskup atas “aspirasi sah” dari anggota-anggota umat beriman yang meminta penggunaan Misa Roma ini.

Pada saat itu, sang Paus utamanya ingin membantu Society of Saint Pius X untuk kembali pada persekutuan penuh dengan Penerus Petrus, dan berusaha mengobati luka menyakitkan yang diderita. Sayangnya rekonsiliasi ini belum terjadi. Bagaimanapun, beberapa komunitas telah dengan rasa terima kasih memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh motu Propio [dari Yohanes Paulus II].

Disisi lain, masih ada kesulitan-kesulitan mengenai penggunaan Misa 1962 diluar kelompok-kelompok ini, karena kurangnya norma-norma yuridis yang tepat, terutama karena para Uskup, pada kasus itu, sering takut bahwa otoritas dari Konsili [Vatikan II] akan dipertanyakan. Segera setelah Konsili Vatikan II diasumsikan bahwa permintaan untuk penggunaan Misa 1962 akan dibatasi [hanya] bagi generasi tua yang telah tumbuh dengan [Misa] tersebut.

Tapi disaat ini telah jelas didemonstrasikan bahwa orang-orang muda juga telah menemukan bentuk liturgis ini, merasakan ketertarikan darinya dan menemukan didalamnya suatu bentuk perjumpaan dengan Misteri dari Ekaristi Terkudus [yang] cocok dengan mereka. Karenanya keperluan telah tumbuh bagi sebuah aturan yurisdiksi yang lebih jelas yang tidak diperkirakan pada saat Motu Proprio 1988.

Norma-norma saat ini juga dimaksudkan untuk membebaskan Uskup-Uskup dari secara terus menerus harus mengevaluasi bagaimana mereka menanggapi berbagai situasi [berkenaan dengan penggunaan Misa 1962].

Kedua, ketakutan ter-ekspresikan dalam diskusi-diskusi tentang Motu Proprio yang dinanti-nanti, bahwa kemungkinan penggunaan yang luas atas Misa 1962 akan berujung pada kecarut-marutan dan bahkan perpecahan dalam komunitas Paroki. Ketakutan ini juga bagiku tidak berdasar. Penggunaan Misa lama mengasumsikan suatu tingkat formasi liturgis dan suatu pengetahuan atas bahasa Latin; dan ini tidak dijumpai banyak. Dan dari asumsi ini, jelas terlihat bahwa Misa baru akan tetap merupakan Bentuk biasa dari Ritus Roma, tidak hanya karena norma-norma yuridis, tapi juga karena situasi aktual dari komunitas-komunitas para umat beriman.

Memang benar bahwa ada pelebih-lebihan, dan disaat lain aspek-aspek sosial, yang dihubungkan dengan sikap dari umat beriman yang terikat pada tradisi liturgi Latin purba. Kasih dan kehati-hatian pastoralmu [ie. para Uskup] akan menjadi sebuah insentif dan pengarah dalam memperbaiki hal ini. Atas masalah itu, Dua bentuk penggunaan dari Ritus Roma bisa saling memperkaya; Para Kudus baru dan beberapa Prefasi dapat dan harus dimasukkan kedalam Misa lama. Komisi “Ecclesia Dei”, dalam kontaknya dengan berbagai badan yang fokus kepada usus antiquior [catatan: gak tahu apa itu], akan mempelajari kemungkinan-kemungkinan praktis dalam hal ini.

Perayaan Misa sesuai dengan Misa Paulus VI akan mampu menunjukkan, secara lebih berkuasa dari yang sebelumnya, kesakralan yang menarik banyak orang ke penggunaan yang sebelumnya. Jaminan paling meyakinkan bahwa Misa Paulus VI bisa menyatukan komunitas paroki dan dicintai mereka terdiri dari perayaannya dengan kekhusukan yang besar dalam keselarasan dengan arahan-arahan liturgis. Ini akan membawa kekayaan spiritual dan kedalaman theologis dari Misa [Paulus VI] ini.

Sekarang aku tiba pada alasan positif yang memotivasi keputusanku untuk mengeluarkan Motu Proprio ini yang meng-up date [Motu Proprio Yohanes Paulus II pada] 1988. [Pengeluaran motu Proprio ini] merupakan masalah [untuk] tiba kepada perdamaian interior dalam jantung Gereja. Melihat ke masa lalu, kepada perpecahan-perpecahan yang sepanjang abad telah merobek Tubuh Kristus, seorang terus mendapatkan kesan bahwa, pada saat-saat kritis ketika perpecahan timbul, tidak cukup [hal] dilakukan pemimpin Gereja untuk menjaga atau mendapatkan perdamaian dan kesatuan. Seseorang mendapatkan kesan bahwa ketidakbertindakan dari Gereja merupakan [hal yang] bisa disalahkan sebagai fakta bahwa perpecahan ini menjadi mampu untuk mengeras.

Pandangan ke yang lalu ini mengenakan suatu kewajiban kepada kita hari ini: untuk membuat setiap upaya untuk memampukan [catatan: sebenarnya tulisannya “untuk tidak memampukan” tapi mestinya yang benar adalah “untuk memampukan”] bagi semua yang benar-benar menghendaki kesatuan untuk terus berada didalamnya atau untuk mendapatkan kesatuan yang baru.

Aku berpikiran akan satu kalimat di Surat Kedua kepada Umat di Korintus, dimana Paulus menulis: “Mulut kami terbuka bagimu, umat Korintus; jantung kami [terbuka] lebar. Kalian tidak dibatasi oleh kami, tapi kalian dibatasi oleh rasa sayang kalian sendiri. Sebagai balasannya … lapangkanlah jantung kalian juga!” (2 Kor 6:11-13).

Paulus memang berbicara dalam konteks yang lain, tapi anjuran ini bisa dan harus menyentuh kita semua juga, tepatnya dalam subyek ini [catatan: yang dimaksud adalah usaha untuk meningkatkan upaya rekonsiliasi agar perpecahan tidak semakin mengeras sehingga semakin sulit untuk direkonsiliasikan]. Marilah kita dengan dermawan membuka jantung kita dan membuat ruangan bagi semua yang diijinkan oleh iman sendiri.

Tidak ada kontradiksi antara dua edisi dari Misa Roma. Dalam sejarah liturgi ada pertumbuhan dan kemajuan, tapi tidak keterpotongan. Apa yang dipandang kudus bagi generasi sebelumnya, tetap kudus dan sangat bagus bagi kita juga, dan tidak bisa tiba-tiba [hal tersebut] menjadi seluruhnya terlarang atau bahkan dianggap membahayakan. Adalah patut bagi kita semua untuk melestarikan kekayaan yang telah terkembangkan dalam iman dan doa Gereja, dan untuk memberi kepadanya tempat yang layak.

Tidak perlu dikatakan lagi, untuk mengalami persekutuan secara penuh, imam-imam dari komunitas yang suka (adhering) kepada penggunaan yang lama [ie. Misa 1962] tidak dapat, sebagai masalah prinsipiil, mengecualikan perayaan dengan buku [liturgi baru] [catatan: maksudnya tidak boleh ada romo yang karena Motu Proprio SummorumPontificum, kemudian menolak merayakan Misa Paulus VI]. Pengecualian total kepada ritus baru [ie. Misa Paulus VI] tidak akan konsisten dengan pengenalan akan nilai dan kekudusan [Misa Paulus VI].

Sebagai kesimpulan, para Saudara terkasih, aku sangat menginginkan untuk menekankan bahwa norma-norma baru ini tidak dalam cara apapun mengurangi otoritas dan tanggungjawab kalian, baik untuk liturgi maupun untuk pelayanan pastoral atas umat beriman kalian. Tiap Uskup, kenyataannya, adalah moderator dari liturgi di Keuskupannya (cf. Sacrosanctum Concilium, 22: “Sacrae Liturgiae moderatio ab Ecclesiae auctoritate unice pendet quae quidem est apud Apostolicam Sedem et, ad normam iuris, apud Episcopum”).

Tidak ada yang diambil, karenanya, dari otoritas para uskup, yang perannya masih tetap, yaitu berjaga-jaga agar semuanya dilakukan dalam kedamaian dan ketenangan. Kalau beberapa masalah timbul dimana romo paroki tidak bisa mengatasi, Ordinari Lokal akan selalu mampu untuk campur tangan, dalam keselarasan penuh, bagaimanapun, dengan semua yang telah ditetapkan oleh norma-norma baru dari Motu Proprio.

Terlebih, aku mengundang kalian, Saudara terkasih, untuk mengirimkan kepada Tahta Suci catatan pengalaman-pengalamanmu, tiga tahun setelah Motu Proprio ini berlaku. Kalau memang kesulitan serius telah terjadi, cara untuk mengobatinya bisa dicari.

Para Saudara, dengan rasa terima kasih dan kepercayaan, aku mempercayakan kepada hati kalian sebagai Pastor-Pastor, halaman-halaman ini dan norma-norma dari motu Proprio. Biarlah kita selalu ingat perkataan dari Rasul Paulus yang diarahkan kepada para panatua di Ephesus: “jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan Gereja Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri” (Kis 20:28).

Aku mempercayakan norma-norma ini kepada intersesi berkuasa dari Maria, Bunda Gereja, dan aku dengan bersahabat memberikan Berkat Apostolik-ku kepada kalian, para Saudara terkasih, kepada romo-romo paroki di keuskupan kalian, dan kepada semua romo, rekan kerja kalian, dan juga kepada para umat beriman.


Diberikan di [Basilika] St. Petrus, 7 Juli 2007
BENEDICTUS PP. XVI


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter