Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Mentalitas dan Spritualitas OMK

Mentalitas dan Spritualitas OMK
A. BERUBAHLAH

1. BERANI KELUAR DARI COMFORT ZONE

OMK, berubahlah !!!! Jangan jadi OMK yang: Sontoloyo, ngoyo, ambeg2-an, cengeng, malas, pasif, naif, najis, melempem, tak punya orientasi, dan penyakit sejenisnya. Benar bahwa ORANG YANG MAU BERUBAH MEMANG AKAN MENGALAMI SITUASI YANG TIDAK NYAMAN.

Misalnya kalo seorang Mudika biasa dimanja di rumah, maka dia juga bakal pengen dimanja di Mudika. Kalo dia enggak mendapatkan hal itu, maka ia tidak akan mau berlama-lama di Mudika. ini fakta lho! benereeeen !

Padahal neh ya... kata orang bijaksana, untuk bisa bertumbuh dengan nyaman di Mudika, ia harus berani ”kecewa” kalo tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti di rumah tau di tempat lain.

Kok bisa? Ya bisa dong! Soalnya, setiap perubahan pasti menuntut kita keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).


2. MENYUKAI PERUBAHAN

Apa yang saya sebut di atas, menjadi sebab ”TIDAK BANYAK ORANG YANG BENAR-BENAR MENYUKAI PERUBAHAN”.

Sebab untuk berubah ke arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis dan memang tidak nyaman. Ada 'harga' yang harus kita bayar, seperti:


3. BELAJAR DARI ORANG SUKSES

Salah satu resep termutakhir orang orang-orang sukses adalah PERUBAHAN ! Bagaimanapun KONDISI mereka, KEKURANGAN mereka, KELEMAHAN mereka. Semua itu tidak menjadi sebuah kendala.

Lihatlah... dan... belajarlah dari mereka itu !
[i] JULIUS CAESAR: Meski menderita epilepsi, ia berhasil menjadi seorang jenderal dan kemudian menjadi kaisar.

[ii] NAPOLEON: Walau berasal dari keluarga sederhana, tetapi ia juga berhasil menjadi jenderal.

[iii] BETHOVEN: Menulis beberapa komposisi lagu-terbaiknya justru sesudah telinganya tuli sama sekali.

[iv] CHARLES DICKENS: Menjadi novelis Inggris terbesar meski kakinya pincang dan lahir dari keluarga yang sangat miskin.

[v] MILTON: menggubah sajak-sajaknya yang paling indah sesudah ia menjadi buta.[1] Pengendalian sikap, [2] Pengorbanan waktu, [3] Fokus pikiran, dan [4] Imbas dari perubahan itu sendiri bagi yang lain.


4. SANGGUP MENGUBAH KEKALAHAN JADI KEMENANGAN

Orang-orang hebat di atas terbukti SANGGUP MENGUBAH KEKALAHAN JADI KEMENANGAN, KEKURANGAN JADI PRESTASI.

Itulah orang-orang yang yakin bahwa keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi garis lurus dari kemauan dan keberanian untuk berubah. Semua memang bergantung bagaimana sikap pikiran kita menghadapi gejolak kehidupan.


B. MERETAS MENTALITAS “BERUBAH UNTUK BERBUAH

5. KELUAR DARI KEBIASAAN-KEBIASAAN LAMA

Berubah berarti keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama, membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Berhenti bekerja dengan CARA-CARA LAMA (yang biasanya sudah rutinitas), lalu terpaksa belajar lagi untuk bisa bekerja dengan cara-cara baru (yang tentu saja ini tidak terlalu nyaman).

Kata-kata bijak yang saya kutip membenarkan statement tadi: "Mereka yang berhasil berubah 99% dalam hidupnya adalah: mereka yang mau MELAKUKAN PERUBAHAN DAN BERSEDIA UNTUK KELUAR DARI ZONA KENYAMANANNYA. Sedang mereka yang masih dikuasai bisikan untuk menentang perubahan, dengan tetap mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama pasti akan TERGILAS, TERTINGGAL, DAN GAGAL dalam hidup mereka."

Sampe di sini, OMK St. Maria masih setuju toh? hehehehe.


6. LAKUKAN DENGAN CARA YANG BERBEDA

Untuk mendapatkan hasil /yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang berbeda. Untuk mengubah nasib OMK St. Maria, ya berubahlah. Kalau kita tidak mau mengubah arah, kita akan berakhir di tempat yang sama. Dimanapun kamu akan selalu kecewa, kalo kamu ngotot dengan kebiasaanmu yang selalu kecewa dengan institusi.

Bukankah sudah banyak orang "mengembara", mencari di mana sesungguhnya Yesus itu ada/tinggal? Di Katolik, mereka kecewa dengan pastor; di GBKP mereka kecewa dengan pendeta; di Kharismatik mereka kecewa dengan sistem perpuluhan; di Islam mereka merasa ikut bertanggung jawab dengan tindakan terorisme a la Jamaah islamiyah... dan akan begitu selanjutnya.

Tau enggak gimana biasanya ending dari orang macam ini? Biasanya, mereka akan kecewa dengan semua orang di sekitarnya, Tuhan nya, hingga diri dan hidupnya sendiri. Maka yang harus diubah adalah mentalitas, dari negatif ke positif; dari reaktif ke proaktif; dari pesimistik ke optimistik, dst.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter