Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Orang Bahagia Itu Senantiasa Membutuhkan Allah

Tidak mudah memahami makna Kotbah Yesus di Bukit (SABDA BAHAGIA). Banyak orang memahami sabda bahagia ini tak lebih dari sekedar kata-kata penghiburan belaka bagi mereka yang tak berdaya, lemah, dan miskin.

Bila demikian, pertanyaannya adalah: Siapa sesungguhnya orang lemah itu? Bagaimana nasib orang yang kuat, kaya dan hidup serba ada?

Untuk menghindari kesalahpahaman di atas, maka perlu kita telaah lebih lanjut apa sesungguhnya maksud Yesus dengan Kotbah di Bukit tersebut. 

Yesus tentu tidak bermaksud membenarkan kemiskinan, apalagi penderitaan; sebaliknya Ia justru ingin menandaskan hal terpenting dalam hidup kita, yakni kesediaan dan keberanian kita menjadi tanda dan gambaran kehadiran Allah di dunia. 

Inilah artinya orang miskin di hadapan Allah. Tepatnya bila dalam hidup kita konsisten memperjuangkan kebahagiaan selama hidup kita.

Akhirnya hanya orang yang rela menjadi solusi bagi kemiskinan dan dukacita, berlaku lemah lembut, selalu merasa lapar dan haus akan kebenaran, murahan hati, memperjuangkan kesucian hati dan kedamaian, serta rela dianiaya karena kebenaran/ Yesus.

Hanya orang seperti inilah yang akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Akhirnya, bagi Yesus, yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, tetapi apa yang bisa kita berikan bagi sesama sebagai wujud persembahan kita kepada Allah. 

Nyata sekali dalam hidup kita bahwa kelimpahan harta dan tahta yang dimiliki seseorang kerapkali justru menjadi penghalang baginya untuk berbagi dengan yang lain. 

Orang seperti ini seakan punya motto, "Buat apa gue capek memperjuangkan kekuasaan dan kekayaan kalau toh akhirnya orang lain juga ikut menikmati?"Jadi, Yesus bukan pertama-tama mau membenarkan kemiskinan, melainkan mengajak kita untuk memutus keterikatan dan kemelekatan kita dengan tahta dan kuasa itu. Kiranya inilah yang dimaksud Yesus dengan MISKIN dan MURAH HATI.

Inspirasi: Bacaan HM-Biasa IV: Zef 2:3. 3:12-13; 1 Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter