Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Menjadi Tanda Kehadiran Allah

Bacaan I: Yun 3:1-10
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan." Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa." Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
Injil: Luk 11: 29-32
Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"



Renungan

Ada 2 tanda ata simbol yang dihadirkan Yesus untuk menjelaskan siap diriNya di hadapan orang banyak yang kerap meragukanNya. Tanda pertama adalah Tanda Yunus. Tanda Yunus adalah tanda lahiriah yang dihadirkan Allah sebagai hukuman bagi penduduk kota Niniwe yang hidup dalam dosa. Sebelum menjatuhkan murkaNya, Allah terlebih dahulu mengutus nabiNya, Yunus untuk mempertobatkan Niniwe. Singkat kata, Niniwe bertobat. Akibatnya Murka Allah tidak jadi ditimpakan kepada penduduk kota Niniwe, bahkan Allah menyesal atas murka yang pernah dicanangkanNya. Demikianlah Yunus menjadi "tanda" bagi penduduk Kota Niniwe. Tanda kedua adalah Tanda Salomo. Di jamannya Salomo menjadi tanda atau simbol kebijaksanaan, sehingga ratu dari Selatan datang untuk belajar kebijaksanaan dari Salomo. 

Kedua "tanda" atau simbol kepedulian Allah kepada umatNya itu sungguh masih melekat erat di pikiran orang-orang di jaman Yesus, bahkan hingga kini. Intinya, Yesus ingin menegaskan bahwa kehadiran Yesus tidak melulu soal "tanda-tanda yang hebat". Artinya, Allah hadir justru dalam keseharian dan kesederhanaan kita, yakni bila kita sungguh mau dan berani menjadi tanda yang hidup bagi kehadiranNya. 

Yesus menegaskan diriNya lebih besar dari Yunus dan Salomo. Tetapi "kebesan" Yesus justru tampak dalam kesederhanaanNya, bukan dalam mukjizat-mukjizat agung atau bahkan kisah-kisah heroik seperti ygn tertera dalam kisah Perjanjian Lama. Kisah-kisah heroik itu memang akan membantu kita memahami kebesaran Allah. Tetapi kisah-kisah semacam itu kerap kali tak lebih dari sekedar kisah yang enak dibaca dan diimpikan. Nyatanya, orang tak berubah. Terminologi "angkatan ini" atau "angkatan yang jahat" yang dipaparkan Yesus merupakan cambuk bagi siapa saja yang mengimani Allah hanya dalam tanda-tanda lahiriah saja. Bukankah sekarang banyak orang yang "bertobat" karena tanda-tanda semacam itu? Atau, fakta lain yang fenomenal dalam hidup beriman sekarang ini, di mana banyak orang yang mengaku mendapat anugerah khusus, mulai dari menerawang masa depan, mengobati segala penyakit, dan seterusnya. Sepintas kita memang akan terpesona dengan segala mukjizat dan tanda-tanda besar lain yang mereka hadirkan. Namun, sadar atau tidak, tanda-tanda itu kerap kali justru menjadi candu hingga kita lupa dari siapa datangnya tanda itu. Sesungguhnya, sebagai pengikut Yesus kita justru diajak menjadi "Tanda kehadiran Allah" di tempat di mana kita berada, bekerja dan berkarya. Semoga!



Lusius Sinurat
[ www.5iu5.blogspot.com ]
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter