iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

CMVE DIY-Jateng

CMVE DIY-Jateng




Ribuan seminaris telah dicetak sedemikian rupa di Seminari yang kita cintai ini. Benar bahwa Seminari bukanlah pertama-tama tempat orang pintar yang berlagak pinter (sipanggaron).

Sebaliknya, Seminari adalah wahana persemaian kreativitas bagi orang-orang cerdas berpikir, lembut merasa, sigap bertindak dan selalu siap sedia dipanggil oleh Gereja untuk menjadi gembala (entah imam/biarawan atau awam) yang kelak mampu menggarami dunia di sekitarnya.

Ada banyak hal indah yang kita kenang sepanjang menjalani masa penggodokan di Seminari Menengah. Sedemikian indah pengalaman itu hingga kita tak kuasa untuk berhenti bertutur pada siapa saja, khususnya antar-kita tentang keindahan tersebut. 

Sebut saja kenangan akan lonceng yang diletakkan sebagai sentra seluruh ruang yang ada, baik gedung asrama maupun gedung sekolah (sekarang gedung sekolah dan asrama sudah dipisahkan, red.). 

Lonceng itu selalu mengingatkan kita bawha waktu tak akan pernah diam mengusik hidup kita. Kenangan lain mungkin ada di bangsal atau tempat tidur seminari yang disusun seperti barak militer. Di ruang tidur Alverna dan ruang tidur Subasio itu pun selalu melahirkan kisah-kisah jenaka dan mengesankan, mulai dari seminari yang ngorok, suka kentut, pura-pura kesurupan karena telat bangun, rosari sebelum tidur karena takut kegelapan, dan aneka pengalaman lain.

Di lapangan sepakbola, kandang babi, taman asrama, atau di ruang-ruang terbuka lain selalu mengurai pengalaman yang paradoks: takut (pada awalnya) tetapi akan terbahak (saat mengisahkannya pada seminaris lain). 

Di kapel pun tak hanya pengalaman spiritual yang ditimba. Di ruang suci itu juga terkadang ada tekanan karena harus latihan kor sementara tidak bisa not; atau menjadi petugas lonceng tapi badannya kecil.
Dan tak bisa kita lupakan pengalaman indah dan asyik di ruang kelas yang selalu ramai dengan diskusi dan tak pernah sepi dari siswa-siswa yang ngantuk atau suka kentut. Di kelas juga kerap kita temua guru baru yang grogi saat mengajar atau guru yang kelabakan saat tidak bisa menjawab pertanyaan kritis seminaris.

Tentu masih terlalu banyak kenangan yang begitu mengesankan selama kita menjadi seminaris di era yang sama atau di era yang berbeda. Semua pengalaman itu bisa Anda bagikan di website kita ini sembari membaikan nilai-nilai hidup yang kita pelajari dari pengalaman kita itu.

Menjadi seorang seminaris adalah masa yang sangat indah bagi kebanyakan alumninya; dan keindahan itu malah semakin terasa setelah kita menjadi alumni: tak peduli berapa tahun kita mengecap masa pendidikan di Seminari !

Dimensi ruang dan waktu selama di seminari rasanya sempit karena semua waktu dimaknai oleh berbagai aktivitas kreatif. Rasanya untuk mengulang pelajaran tadi siang pun tidak ada, hingga turlap pun kita jabanin demi ujian! Kemauan, kemampuan dan keilmuan kita digodok dan ditumbuhkembangkan di Seminari melalui tangan-tangan lembut dan sabar dari para imam, bruder, suster atau para guru rasanya sangat dekat dengan kita.

Kita bangga menjadi seminaris, dan kita lebih bangga lagi karena di masa pendidikan lanjut di bangku kuliah kita tidak terlalu kesulitan beradaptasi, sebab di Seminari kita sudah terbiasa dengan sistem perkuliahan: masuk kelas dengan penampilan seadanya (tanpa seragam) tapi luarbiasa di ruang kelas karena keingintahuan seminaris yang begitu tinggi akan hal-hal baru. Inilah uniknya seminari, kendati mungkin saja di erah tahun 2000-an sudah banyak mengalamai perubahan drastis.

Satu hal lagi yang menonjol dari seminaris dibanding dengan siswa-siswi lain di sekolah luar adalah bakat jurnalistik yang cukup baik. Di Seminari kita terbiasa menulsi, baik untuk tugas-tugas sekolah, untuk dikirim ke majalah lembagi atau ke majalah dinding (mading) yang dipajang di papan display Alverna dan Subasio. Bahkan ketika mesin ketik masih menjadi barang mahal di Seminari, Pastor Philipus Philipus OFM Cap dengan senang hati mengajari kita kaligrafi hingga tiap lembar pemikiran pun akan tertata rapi di atas buku catatan kita.

Talenta yang disebut terakhir pasti masih tersisa dalam diri kita, alumni Seminari (entah ekkes, entah lulus reguler); dan situs ini adalah media untuk mengembangkan bakat jurnalistik tersebut. 

Website ini juga menjadi rumah bagi kita untuk saling berbagi ilmu dan potensi yang dianugerahkan Tuhan dan kita berharap melalui ilmu dan pengalaman yang kita bagikan maka akan semakin banyak alumni Seminari yang diteguhkan dan panggilan menjadi rasul dunia tetap bergema di mana pun ia berada. Semoga !

Selamat bergabung dan ditunggu tulisan-tulisan menarik dari para konfrater sekalian.
Horas! Mejuah-juah! Ya’ahowu ! Njuah-njuah! Berkah Dalem!

CMVE DIY-Jateng
31 Maret 2013
Berdirinya CMVE Jateng-DIYReuni 1st CMVE Jateng-DIY di Yogyakarta

27 - 28 Sept 2013
Reuni 2nd di Pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul

30 Nov - 2 Des 2013
Reuni 3rd di Semarang

11 Mei 2014
Kepengurusan Baru dan Perpisahan dengan Br. Gino Siapyung OFM Cap.

24 Mei
Mengisi acara di Sada Pardomuan Yogyakarta



Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.