iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Pemimpin Baru tak tampak dari atas Awan

Pemimpin Baru tak tampak dari atas Awan

Menelusuri cara orang Indonesia berdemokrasi di dunia sangat menarik, tentunya. Banyak orang menempatkan diri mereka sebagai orang yang sedang berlibur di atas saat mereka menyampaikan pendapat mereka sebagai pengamat di negeri ini.

Dari atas mega, mereka merasa mudah mengamati siapa pun yang ingin mereka amati; mudah memilih siapapun yang mereka kehendaki. Tapi sayangnya mereka tak sadar bahwa dari kejauhan di langit tertinggi sekali pun, mereka hanya bisa menikmati keindahan. Tak lebih dari itu!

Akibatnya, mudah bagi mereka yang di posisi itu untuk berteriak (benar atau tidak hanya mereka yang tahu) seraya menulis majasnya di media sosial, mulai dari pendapat tentang sosok yang paling layak atau tidak layak memimpin negeri ini hanya karena dari kejauhan sana mereka hanya bisa melihat keindahaan sesaat yang ditampilkan.

Mereka pun dengan mudah menjuntai kalimat-kalimat kekaguman di media sosial dan meninggikan Prabowo (misalnya loh:) sebagai presiden paling bersih, prorakyat, berani dan tegas dan pemimpin masa depan paling potensial.

Jargon-jargon yang mereka teriakkan seakan menempatkan diri mereka sebagai penanggungjawab dari tiap kebenaran yang mereka teriakkan.

Mereka pun akan membela diri dengan mengatakan bahwa setiap manusia pasti bisa berubah: dulu Prabowo memang menangkapi para aktivis 98 dan menyekapnya di tempat gelap gulita, tetapi sekarang dia sudah berubah menjadi orang yang paling bersih dan berani. Tapi bersih dari apa dan berani untuk apa.... nanti dulu.

Para pendukung Prabowo misalnya hanya tahu kalau mereka mengagumi Prabowo. Hal yang sama terjadi dengan Wiranto, Rhoma Irama, Aburizal Bakrie dan calon presiden lain.

Sekarang kita bisa paham mengapa banyak orang Indonesia begitu mudah mengagumi 'perubahan sesaat' dan kurang menyukai 'perubahan dalam proses berkelanjutan'. Dalam kalimat yang lebih sempit, orang hanya kagum pada perubahan seseorang dari tampak luar daripada kualitas personalnya.

Kita juga akhirnya bisa mengerti mengapa masyarakat kita mudah dimanipulasi oleh tampilan mempesona dari para calon presiden yang sayangnya hanya terlihat dari jauh dan hanya terjadi di saat pemilu akan tiba.

Alasannya cuma satu, masyarakat kita selalu menempatkan dirinya sebagai pengamat yang berdiri dari atas awan, dengan batasan jarak pandang yang signifikan. Masyarakat kurang berani turun dari 'tahtanya' sebagai pengamat dan bergaul di bawah, di dunia nyata, bersama para pemimpin yang berjibaku dengan persoalan nyata.

*****

Adalah Jokowi dan Ahok yang selalu turun dan bergelut dengan realitas secara nyata. Duet ini ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, kinerja mereka tak hanya tampak indah dari kejauhan tetapi juga tampak menakjubkan dari jarak dekat. Semakin kita mendekat, semakin kita ingin lekat.

Ahok, terutama, tak pernah pusing dengan pencitraan. beliau hanya mengatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Tak ada kepalsuan dalam dirinya saat ia membentangkan kejahatan yang terjadi di seputar ibukota, mulai dari penguasaan tanah pemerintah, penghindaran pajak, korupsi yang telah menjerat mentalitas para pejabat publik bawahannya.

Kalau Anda mendekati Ahok dengan sikap santun tetapi disertai niat untuk merugikan rakyatnya, maka beliau akan segera tahu. Bila Anda datang kepada Ahok dengan niat baik untuk masyarakat miskin dan terpinggirkan, kendati Anda mengatakan beliau galak, maka Ahok akan menerima Anda dengan tangan terbuka.

Itulah Ahok... yang tidak indah terlihat dari jauh, tetapi begitu memesona di saat Anda bersentuhan dan mencoba hidup dengan caranya memberangus kemunafikan di negeri ini. Bila anda punya hasrat meraup keuntungan dari pertemanan dengan Ahok, maka Anda akan malu sendiri. Dia akan segera memasukkan Anda kedalam kategori 'pecundang' dan 'bajingan'.

Ahok memang begitu berani. Terhadap para pelaku kejahatan, istimewanya para koruptor, pembekap dan penyekap para pejuang kebenaran di negeri ini akhirnya memang harus diberondong dengan "peluru".

Ahok, bersama Jokowi sepanjang pemerintahan mereka memang berkehandak membunuh karakter 'jahat' dalam diri para pelayan publik lainnya, apalagi di saat para pejabat publik itu sudah tak lagi jera dengan penjara. Ahok ingin memberondong para pejabat yang bersetubuh dengan dusta dan berintim ria dengan harta yang bukan miliknya.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.