Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jatuh Itu Seksi - Sebuah Refleksi Ketika Terjatuh

Jatuh Itu Seksi - Sebuah Refleksi Ketika Terjatuh
Setiap orang pasti sepakat bahwa pengalaman jatuh adalah sesuatu yang harus dihindari. Tidak seorang pun manusia yang memimpikan untuk jatuh dalam hidupnya. Atau, merencanakan pun, tidak pernah. Seorang pelajar yang sangat tekun belajar akan berusaha sungguh-sungguh agar prestasinya tidak jatuh. 

Bahkan, seorang pebisnis pun akan melakukan hal yang sama agar perusahaannya tidak jatuh. Inilah, kalau kita sepakat, penyebab utama mengapa setiap orang selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tetap menjaga agar tidak mengalami pengalaman jatuh itu.

Mengapa pengalaman manusiawi, jatuh, dijadikan seperti itu seakan-akan tidak ada setitik nilai kebaikan dalam dirinya? Dari peristiwa hidup sehari-hari, ketika melihat orang mengalami jatuh, kita merasa sulit untuk melihat setitik nilai di dalamnya. Itu karena jatuh dipikirkan sebagai musibah, bencana dan juga berarti satu langkah menuju kehancuran. 

Jatuh berarti gagal dan bukan kesempatan untuk mencapai keberhasilan. Jatuh berarti bangkrut dan tidak bisa lagi menjalankan roda perusahaan, jatuh berarti luka yang tidak bisa diobati lagi, dan jatuh berarti pintu menuju kematian.

Paradigma akan kejatuhan ini tentunya dibangun dan memiliki hubungan dengan paradigma manusia tentang kesuksesan, kebahagiaan dan kemenangan. Segala sesuatu yang baik, benar dan yang harus selalu diperjuangkan adalah kesuksesan, kebahagiaan dan kemenangan. Manusia tidak lagi memberi ruang bagi pengalaman manusiawi lainnya. 

Tidak ada lagi ruang bagi kelemahan, ketidakberdayaan dan kejatuhan. Dengan kata lain, paradigma manusia tentang jatuh adalah juga hasil dari bangunan megah paradigma kita tentang kesuksesan. “Tidak ada kata gagal dalam kamus seorang sukses”, kata seorang motivator.

Akan tetapi, manusia tetaplah manusia. Sebesar apa manusia berusaha untuk menjadi seorang dewa, atau setengah dewa atau bahkan seperempat dewa (kalau ada), dia tetap adalah seorang manusia. Dia tidak mungkin mengubah kemanusiaannya. Dia tetap mahluk yang dapat mengalami jatuh di tengah perjuangan hidupnya. 

Manusia tetap mahluk yang lemah, kata Sentinel Prime dalam Transformer II. Memang, Sentinel benar bahwa manusia itu adalah mahluk lemah, tetapi yang lebih benar adalah Optimus Prime yang selalu melihat dan memperjuangkan sisi kebebasan manusia. Ini bukan soal perdebatan kedua tokoh itu. Paradigma manusia tentang manusia itu sendiri sering melupakan kehendak bebas itu.

Ketika para penikmat acara sensasional seorang motivator tidak mengedipkan mata karena percaya bahwa setiap kata dari motivator adalah emas, saat itu juga dia mengekang kehendak bebasnya sendiri. Kebebasannya, untuk menggunakan kehendak dalam menentukan paradigma yang lebih bijak atas kesuksesan dan kejatuhan, dipenjara dalam kata-kata emas sang motivator. 

Apalagi, ketika sang motivator tidak memberi sedikit ruang dan waktu bagi kebebasan itu untuk berfikir. Dia tidak henti-henti menggunakan kelihaiannya untuk men-doktrin-asi para penikmat sensasi dengan defenisi sukses menurut dia. Akhirnya, ketika pemirsa beranjak pulang dari kursi, dia hanya bisa diam dan bingung dengan dirinya sendiri yang telah melupakan sisi lemah manusia itu.

Demikianlah, manusia saat ini dibangun atas dasar paradigma sukses dan sukses. Manusia tidak sadar bahwa itu semua adalah hasil kinerja para kapitalis yang sedang memproduksi manusia-manusia yang siap pakai. 

Manusia yang benar adalah manusia yang dalam pikirannya hanya ada satu kata, sukses. Dan kata itu dengan sendirinya meniadakan kesadaran akan adanya satu kata gagal dalam hidupnya. Akibatnya, bukan soal kosongnya rupiah atau dolar dalam saku, tetapi manusia tidak bisa lagi berdiri tegak ketika dia jatuh.


Jatuh sekali lagi dijadikan sebagai neraka yang harus dihindari. 

Optimus Prime tidak tanpa alasan untuk sesalu memperjuangkan dan melihat setitik kehendak bebas dalam diri manusia. Si Autobot itu merelakan dirinya untuk tidak lagi tinggal di Cybertone dengan menghancurkan dunia karena alasan itu. Tetapi sayang, sudah begitu banyak manusia tidak lagi menyadarinya.

Pengalam jatuh bukanlah neraka atau virus AIDS yang harus dihindari. Jatuh adalah pengalaman manusia yang membimbing manusia untuk semakin menjadi dirinya sendiri. Jatuh adalah saat dimana manusia diberikan kesempatan secara khusus untuk menyadari siapa dirinya yang sebenarnya. 

Dan saat itu adalah saat emas yang membuat manusia dapat semakin gemilang dalam perjalanan hidupnya. Dalam pengalaman itu, manusia disadarkan akan adalah kehendak bebas manusia untuk menentukan apa yang terbaik dalam dirinya.

Kata-kata ini bukanlah sebuah penghiburan. Berangkat dari realita kehidupan, ketika kita jatuh, kita dapat melihat dengan jelas betapa indahnya persahabatan, cinta dan kehidupan. Lihatlah, ketika kita jatuh banyak orang yang akan meninggalkan kita dan hanya mereka yang tetap berada di sisi kitalah yang sungguh-sungguh sahabat kita. 

Hanya dalam pengalaman jatuhlah kita dapat merasakan itu. Paling tidak, ketika kita jatuh dan tidak ada orang yang lain yang mau menolong, masih ada diri kita yang mau bersahabat. Hanya disaat itulah kita bisa mengenali diri kita.

Dengan demikian, jatuh itu sexy. Dia memberikan gairah kehidupan yang sangat besar. Dia bergairah dan selalu memberikan ruang bagi kita untuk bangkit lagi menghadapi masa depan. Dia tidak pernah mematahkan semangat kita karena dia selalu ada dengan kehendak bebas kita sebagai manusia. 

Dia tidak pernah mematikan potensi kita tetapi justru saat-saat seperti itulah kita bisa membangkitkan ke-impoten-an kita. Karena dia sexy, itu tentu pasti.

Bukankah hanya dalam gelapnya malam kita dapat melihat dengan jelas indahnya bintang-bintang di langit sana?

Yogyakarta, 07.01.14: 17.20 wib

Kiriman: Subandri Simbolon
Penyunting: Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter