Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Strategi Beracun

Setitik noda beracun bisa membunuh banyak orang.

Di Papua, terutama di daerah-daerah pedalaman mereka membuat panah beracun.

Masyarakat Papua memang selalu menggunakan anak panah untuk berburu dan perang.

Ada 3 jenis anak panah yang biasanya digunakan oleh masyarakat Papua, yakni:

  1. anak panah untuk berburu babi,
  2. anak panah untuk berburu rusa, dan
  3. anak panah untuk berperang.


Ciri khas anak panah ini didasarkan pada fungsinya. Setiap ujung dari anak panah biasanya dihiasi dengan ukiran-ukiran khas daerah pembuatnya.

Namun dari ketiga jenis anak panah tersebut, anak panah yang digunakan untuk perang biasanya diolesi racun di di bagian ujungnya. Racun tersebut baisanya terbuat dari bambu beracun.

Apabila seseorang terkena anak panah beracun ini maka ia sangat susah disembuhkan, kecuali oleh si empunya anak panah tersebut. Itu juga kalau ia memiliki obat penawarnya.

Kebetulan kita sering mendengar dari orang-orang yang tinggal di Papua, atau kita tonton sendiri di layar kaca, pun kita baca lewat koran, bahwa orang Papua sering terlibat perang, entah perang antar-suku yang pernah kusaksikan di Timika, entah perang menghalau orang luar yang mengganggu kenyamanan tanah adat mereka.

Nah, saat terjadi perang, biasanya anak panah beracun hanya boleh dibawa 1, dan selebihnya anak panah biasa alias anak panah tak beracun.

Senjata perang a la masyarakat Papua ini memang terlihat kuno dan bersifat tradisionil. Tetapi siapa sangka kalau efeknya begitu mengerikan: sekali kena tambakan anak panah beracun itu Anda hampir pasti mati!

*****

Menarik bahwa hanya satu anak panah beracun yang dibawa saat perang. Ternyata satu anak panah itu biasanya dipersiapkan untuk membunuh sang pemimpin lawan.

Inilah strategi perang orang Papua, yakni mengalahkan lawan dari "atas". Biarbagaimanapun saat perang terjadi, membunuh pemimpin pasukan lawan terlebih dahulu tergolong sangat mumpuni.

Kita tahu bahwa di Papua, kepala suku adalah kepala perang. Ia bak seorang raja yang sangat ditakuti dan disegani. Sabdanya adalah perintah, dan setiap kata-katanya harus dituruti: rex locuta res finita (sang raja berkata maka habis perkara).

Hal ini terjadi karena untuk mencapai jabatan sebagai kepala suku, seseorang harus memiliki kesaktian tertentu. Seorang kepala suku dengan demikian adalah pemimpin sekaligus pengayom rakyatnya.

Dengan demikian, dalam konteks perang antar suku, membunuh sang raja alias kepala suku dari pihak lawan sama saja dengan menghancurkan kerajaan lawan dari "atas".

Strategi ini juga diadopsi oleh para pebisnis, apalagi kaum politisi yang haus akan kuasa. Mereka kerap menyerang lawan dengan menyerang langsung pimpinan mereka. Itu yang terjadi dengan perebutan lahan bisnis atau perang memperebutkan kursi kekuasaan.

Padahal untuk menjadi besar dan tangguh justru harus berani 'membangun' sesuatu dari dasar (fondation), merawatnya (maintenance) secara perlahat tetapi tepat sasaran, hingga menjadi 'pemenang' (the winner).
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter