Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Ada Apa Dengan Salib?

Ibunya sedang membaca buku cerita sambil si kecil duduk di sampingnya. Dari tadi dia memandangterus wajah ibunya. Kemudian dengan kepolosan seorang anak kecil dia berkata:

"Mamiku cantiiiiik sekali!"


Namun pada saat matanya tertuju kepada tangan ibunya yang kebetulan hitam, berkerut, cacat danmemang tidak enak untuk dipandang, dia berkata:

"Tapi tangan mmami kok jelek banget... iiih seram deh!"

Entah kaget atau tersinggung, ibunya menaruh buku ke atas meja dan lari ke dapur. Ia pun tiba-tiba menangis!

Suaminya, yang kebetulan tidak jauh dari mereka dan melihat semuanya itu, lalu memanggil si kecil. Sambil memangkunya, ia berujar lembut:

"Sini, 'nak. Ayah mau ceritain sesuatu. Mau dengar enggak?"

Si kecil memandang sang ayah yang sehari-hari ia panggi Daddy itu dengan penuh perhatian. Sang ayah pun memulai ceritanya...

"Pada suatu waktu, di satu perumahan ada kebakaran. Perlahan tapi pasti. Api yang tadinya kecil tiba-tiba mengganas dan teringgas hingga memenuhi rumah dan keluarga yang menghuninya.

Mereka pun berupaya keras untuk menyelamatkan diri. Apa saja yang masih tersisa dan masih bisa dibawa, langsung mereka angkut. Sementara nyonya rumah justru berusaha menyelamatkan bayinya yang sedang tertidur di kamar. 

Tau apa yang terjadi, nak? Kedua tangan ibunya itu terbakar."

Si kecil itu tetap memandang wajah ayahnya dengan penuh perhatian. Lalu ayahnya melanjutkan,

"Nak, bayi mungil yang ditolong itu adalah kamu; dan tangan ibu yang terbakar itu tak lain adalah tangan ibumu. Ibumu sangat hebat saat menyelamatkanmu, kendati tangannya cacat seumur hidup. Sekarang, kamu tahu anakku mengapa tangan anakmu sampai menghitam begitu."

Tanpa menunggu ayahnya mengucapkan kalimat berikutnya lagi, si kecil melompat dari pangkuan sang ayah. Ia cepat-cepat berlari ke arah dapur, dan langsung memeluk ibunya erat-erat dan menggenggam tangan ibunya dan menciumnya sambil berkata,

"Mami, tangan mami adalah tangan yang paling indah di seluruh dunia! Mami adalah mami tercantik yang pernah kukenal!"

*****

Hanya setelah ayahnya bercerita, si kecil baru tahu dan menyadari betapa ibunya adalah ibu yang sangat hebat dan sudah menyelamatkan hidupnya dari bara api yang pasti akan merenggut nyawanya. Tapi itu terjadi saat ia masih bayi, saat di mana ia belum memahami apa yang terjadi. 

Kini ia sadar bahwa kehidupannya adalah anugerah terindah dari Tuhan lewat cinta ibunya hingga rela mengorbankan dirinya hingga tangannya cacat seumur hidupnya.

Lantas, apa hubungannya dengan Salib?

Orang Kristiani begitu mencintai Yesus. Tak hanya momentum di mana Yesus hidup, mengajar dan membuat ratusan mukjizat ditengah masyarakat di zamannya, tetapi juga menghormati seluruh hidupnya, hingga wafat di kayu Salib.

Pendek kata, para pengikut Yesus begitu menghormati Yesus, termasuk Salib dan peristiwa kematianNya. Mereka memakainya sebagai kalung, menaruhnya di dinding rumah atau di atas lemari hias atau meja tamu, bahkan mereka berkali-kali menandai diri dengan Tandai Salib, tanda kemenangan Kristus yang tersalib itu!

Padahal Salib, di masa Yesus hidup adalah simbol hukuman terberat dan paling kejam. Tak sekedar hukuman mati, salib ditegakkan atau diterapkan justru kepada mereka yang dihukum mati karena dianggap orang yang paling jahat dan kejam. 

Tak hanya itu, orang hukuman salib adalah hukuman yang paling memalukan, karena seseorang biasanya disalib ditengah keramaian dan menjadi tontonan.

Orang yang tak beriman (non-Kristian) tentu saja melihat salib hanya sekedar media kejam yang digunakan sebagai alat untuk menyiksa dan membunuh seorang kriminal. Sebaliknya, orang beriman Kristiani, Salib selalu dipandang sebagai alat keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Selanjutnya, bila orang non-Kristiani melihat penyaliban Yesus tak lebih karena Ia seorang revolusioner dan patut dihukum mati, maka orang yang mengimaniNya selalu melihat Salib Yesus sebagai peristiwa iman, sebagaimana diungkapkan dalam kesaksian prajurit yang menyaksikannya,
"Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!"

Kita semua para pengikutNya sangat memahami alasan dibalik ungkapan sang pengawal, karena kita membacanya dalam kacamat iman kita kepada Allah melalu Yesus, Putera kesayanganNya. 

Jawaban proklamatif ini bahkan selalu didendangkan setiap Hari Jumat Agung: "Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia. Mari kita bersembah sujudkepada-Nya."


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter