Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

"Melihat" Udara Kuta

 Sesekali, untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja, aku suka jalan-jalan bersama teman satu tempat kerja. Tentu saja di Bali, terutama di kota Kuta ini tak sulit mencari tempat yang asyik untuk dikunjungi.

Label sebagai daerah wisata dan juga sebagai destinasi utama wisatawan asing membuat Kuta tak pernah sepi. 

Dari pagi hingga menjelang gulita, pantai tetap dipadati pengunjung. Pagi hingga sore mereka berjemur dan malam mereka menikmati desiran gelombang bersama alunan musik sesuai selera mereka.

Bali tak pernah sungguh kesepian. Terkadang Bali ini mengingatkan orang pada masa pembangunan menara Babel, tepatnya ketika semua orang menggunakan bahasa yang berbeda-beda.

Ya, di Bali semua bahasa seakan menjadi bahasa utama. Itu tergantung siapa yang datang dan dengan siapa dia bicara. Sejalan dengan hal itu, di Kuta pun semua budaya seakan menyatu diselimuti udara tropis yang oleh orang Barat kerap diamini sebagai angin surga.

Demikianlah Bali, terutama Kuta, daerah tempat di mana aku sudah 5 tahun tinggal selalu memesona, atau meminjam istilah Kla Project, Bali selalu menyajikan sajian berselera.

Batas fungsional antara pantai, cafe, mall, hotel, cottage seakan melebur jadi satu, yakni sebagai tempat hiburan yang memanjakan pengunjung. Seperti malam ini aku dan sobatku Sastrini Kadek yang sedang menikmati alunan musik konser di Discovery Shoping Mall.

Konser musik di mall, di bibir pantai, di hardrock cafe dan sejenisnya rasanya tak berbeda. Di mana saja Kuta menyajikan hiburan tak bertepi, seperti keindahan pantainya yang juga tiada ujung.

Aku senang di Bali, bukan pertama-tama karena Bali selalu disorot televisi. Aku mencintai Bali justru pada pesona "komunitas lintas batas"-nya, di mana setiap orang tak menyebut Si Bali, Si Cina, Si Batak, Si Jawa, Si Bule atau si Amerika.

Rasanya semua cukup direpresentasikan dalam dua kata, Turis Lokal dan "Turis Mancanegara". Begitulah pesona Bali, yang bahkan setelah peristiwa Bom Bali beberapa tahun silam seakan tak menyurutkan niat turis lokal dan terutama turis mancanegara untuk datang dan "melihat" udara segarnya.

Istilah "melihat udara" yang kumaksud adalah ekspresi kerinduan di lubuk hati setiap orang yang selalu ingin mengunjungi Bali, termasuk mereka yang saban tahun rutin ke sini. Entah mengapa orang tak pernah bosan ke pulaunya para dewata ini.

Kalau bagiku sih sederhana saja, yakni karena Bali adalah Bali, pulaunya para dewa yang tak pernah luput dari perhatian dunia setiap hari. Tentu saja, hal pertama dan utama, karena hidup tak mungkin berjalan hanya satu jalur, yakni bekerja dan bekerja.

Hidup memang membutuhkan rekreasi (hiburan dalam arti luas) agar tubuh kita mendapatkan kembali asupannya dari energi semesat, dan olehnya hidup pun akan pulih kembali.

So, RESERVE your life!


Penulis : Lisa Huang

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter