Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Apa Itu Kebenaran?

Sangat menyedihkan membaca tagar #AhokTamat di Twitter, kendati secara bersamaan juga ada tagar #RIPTwitter yang bahkan mendunia.

Adalah satu "kesalahan" Ahok yang disasar para Ahok's Haters dan dengan pola pikir "pars pro toto": sekali Ahok salah maka Ahok dipandang selalu salah dan memang disepanjang hidupnya ia salah."

Detik[dot]com misalnya membentangkan berita dengan judul "Sempat Bantah, Ahok Mengaku Tandatangani Perda APBD-P 2014".

Di paragraf awal Detik menulis, "Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) SEMPAT MEMBANTAH dirinya menandatangani Perda APBD Perubahan Nomor 19 Tahun 2014 yang di dalamnya masuk anggaran pengadaan uninterruptible power supply (UPS). Namun Ahok MENGOREKSI KETERANGANNYA DAN MENYATAKAN DIRINYA YANG MENANDATANGANI PERDA Perda APBD-P 2014 tersebut."

Mari kita urai di mana letak kesalahan Ahok dalam Kesaksiannya di di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Bungur Besar, Jakpus, Kamis (4/2/2016):

(1) 
Lihat kalimat yang saya beri CAPSLOCK alias huruf besar. Ahok pasti bukan malaikat yang mengingat tiap lembar surat atau perda yang ia tandatangani. 

Faktanya, seperti Jokowi yang juga pernah lupa telah menandatangani kepres, Ahok juga wajar lupa kalau di masa peralihannya dari wakil gubernur menjadi gubernur, ia ragu apakah ia yang menandatangani APBD-P 2014 atau atasannya, Jokowi sang gubernur kala itu.

(2)
Di ruang pengadilan - yang juga dihadiri Haji Lulung (DPRD DKI), dalam kesaksiannya Ahok dengan gentlement mengakui bahwa ia SALAH.

Lantas mengapa setelah bukti disodorkan Ahok baru mengaku? Harus diakui ini kelalaian Ahok sendiri. Ia tak cek satu persatu dan secara detail surat/perda/etc apa saja yang telah ia tandatangani, terutama yang berkaitan dengan kasus penyelewengan dana UPS oleh Lulung cs.


Ahok pun mengakui kelalaiannya, "Saya koreksi, benar itu saya (yang tandangatangan), maaf saya lupa," kata Ahok saat bersaksi untuk mantan Kasi Prasarana dan Sarana pada Sudin Pendidikan Menengah Jakbar Alex Usman di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Bungur Besar, Jakpus, Kamis (4/2/2016).


(3)
Apa yang salah dengan pengakuan itu, sehingga Ahok's haters langsung merasa di atas angin untuk menyimpulkan bahwa "Ahok Tamat" ? Tragisnya salah satu akun dengan nama @syahrulyani bahkan merasa bahwa kesalahan Ahok dijadikan sebagai alat memerangi keturunan cina. Begini tulis orang yang mengaku pribumi tapi tak membumi itu,  "Ayo pribumi rebut kmbali dari tangan cina kafir korup."


(4)
Media yang begitu telanjang memang sering memporak-porandakan aspek psikologis masyarakat, terutama mereka yang masih 'murni' dan awam dalam permainan politik.  Atau, meminjam ungkapan khas Mang Saswi dalam "Ini Talkshow" di NetTv, "Biasalah... Ini kan cuman Permainan!"
Tak heran ketika kita mulai prihati dengan "trend" pemberitaan yang tanpa sensor, membungkus kepentingan, tendensius, menyindir, dan berbagai aspek "permainan" lain.

Maka begitu jamak terjadi ketika pemberitaan tertentu menggiring masyarakat untuk mengamini sebuah isi, dan lebih tragisnya, banyak dari kita juga terpancing untuk mengadili subyek/obyek yang diberitakan.


(5)
Apa yang saya utarakan di sini, bukanlah pertama-tama soal apakah Ahok bersalah atau tidak. Jelas Ahok salah. Tetapi jauh lebih melegakan hati masyarakat ketika kelalaian/kesalahannya itu ia akui di pengadilan.

Mungkin sudah puluhan hingga ratusan proses pengadilan kita ikuti/tonton/baca di media; dan begitu jarang orang mengakui kesalahannya di depan hakim, bahkan ketika bukti sudah terpampang di depan matanya.

Tapi tidak bagi seorang Ahok. Ya adalah ya; tidak adalah tidak. Ahok spontan saja mengakui bahwa ia bersalah, dan tidak membantah bahwa ternyata ia sendirilah yang menandatangani APBD-P 2014 itu. Jadi, apanya yang salah? Siapa yang membayar kalian untuk terburu-buru menyimpulkan bahwa AHOK (sudah) TAMAT? 

Tapi tunggu dulu, Ahok memang sudah tamat dalam arti LULUS. Ahok memang telah menamatkan "sekolah gratis" menjadi gubernur DKI sepeninggal Jokowi yang sukses mengalahkan Prabowo. Itu berarti 2017-2022 yang akan datang, masyarakat DKI Jakarta akan lebih mempercayai Ahok menjadi "Gubernur Pilihan" mereka.

Mari kita biarkan seluruh proses hukum berjalan dengan baik, dan kita doakan agar semua berjalan demi menemukan kebenaran hakiki tentang siapa sesungguhnya yang salah dan siapa yang benar.

Bravo Untuk Ahok dan kita semua, para pendukung setianya!
Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter