Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Mari Menonton Film "The Monkey Talk 2"

Kemarin sore (11/2) dua sahabat mentraktirku menonton film "The Monkey Talk 2". Kami menonton bersama 5 teman lain, dan tentu saja bersama penonton lain yang memenuhi bioskop di kisaran pusat kota Medan ini.

Seperti judul dan posternya, film ini pasti akan menampilkan efek visual yang aduhai dan sepertinya lucu. 
*****
Di menit-menit awal kita digiring menuju imajinati tak berbatas, yakni tentang seekor manusia dalam rupa monyet tapi mampu bisa mengalahkan harimau dan naga yang sangat besar.

Seperti film-film mandarin pada umumnya, kisah epik dan heroik selalu dihiasi oleh nuansa budhis dan budaya lokal.

Pertemuan antara sang "monyet" bernama Wukong (Aaron Kwok) dan sang biksu "bodoh" (Xuanzang) di awal film ini menjadi pertanda bahwa film ini memang diperuntukkan untuk menghangatkan suasana imlek kita di tahun monyet api ini.

Dari sudut naratif, film ini memang kurang menarik dan tampak konyol. Bisa jadi karena kisahnya memang diangkat dari komik remaja. Tetapi serentak kekonyolan itu pulalah yang sangat menghibur kita saat menonton film yang berorientasi pada kehidupan pedesaan di Tiongkok ini.

Maka, ruang gelap teater pun sering dihiasi oleh tawa kami. Ya, apalagi yang ditertawakan kalau bukan kekonyolan sang monyet api itu?
*****

Tentu saja, sebelumnya tak ada hubungan apa-apa antara Wukong dengan biksu "bodoh" yang sedang 'ditugasi' Budha menemukan sutra suci atau buku suci itu. Pemandangan ini memang cukup mengganggu saya yang memandang para biksu adalah orang suci yang cerdas.

Di sinilah nilai Budhisme menghiasi film animatif ini. Perjumpaan si biksu bodoh itulah yang menghadirkan Sang Budha dihadapan Wukong dan selanjutnya Budha menempatkan hoop emas di kepala Wukong.

Mahkota yang oleh Wukong tak dapat dilepas ini selanjutnya akan menyebabkan migrain terburuk bagi Wukong setiap kali tuannya, sang biksu bodoh tadi mulai mendaraskan mantranya.

Begitulah awalnya ketika Wukong menjadi muridnya sang biksu dan ini diperkuat oleh penampakan Dewi Mercy (Kelly Chen) yang memberitahu Wukong bahwa itu karma-nya, yakni mengawal Xuanzang yang sedang berziarah ke India untuk mendapatkan sutra suci (buku suci).

Hanya Wukong dan Xuanzang yang awalnya berjalan menuju India, hingga berikutnya bergabunglah dua setan, yakni setan babi bernama Ba Jie (Xiao Shenyang) dan Wujing, saudaranya.

Keempat tokoh inilah yang akhirnya bertemu dan berperang dengan dewi White Tiger Ridge, Lady Putih Tulang yang berambisi hidup seribu tahun dengan memakan Xuanzang, yang dagingnya dapat memberi keabadian.

Sang Lady Putih Tulang sendiri mampu menyamarkan dirinya sebagai nenek yang tua tua untuk menunggu mangsanya di sebuah rumah di hutan, demi memangsa Xuanzang. Sayangnya ia tak berhasil karena Wukong mampu menghalau niatnya.

Lady Putih Tulang yang terkenal karena kekuatannya hingga bisa menyamarkan dirinya sebagai seorang gadis, ibu dan ayahnya itu menang jago berantem bahkan nyaris memperdayai si Wukong.

Demikianlah film berakhir dalam pertempuran sengit yang dimenangkan oleh oleh sang biksu dan pasukannya, terutama oleh kehebatan sang monyet api, Wukong; dan kematian Xuanzang yang minta dibunuh oleh Wukong mengutus sang biksu bodoh menuntaskan misinya, mempertobatkan si Nona Putih Tulang yang telah mati dan berinkarnasi.
***

Film The MONKEY TALK 2" memang tak hanya menyajikan animasi visual yang memukau atau lelucon segar yang menghiasinya; tetapi film juga mempertontonkan satu hal, yakni bahwa manusia bisa saja lebih jahat dari setan, terutama soal kelicikan dan strategi perangnya.

Kita harus memberi kredit lebih pada kemajuan teknologi perfilman China, khususnya film The Monkey Talk 2 ini. Apalagi film ini disinyalir dibuat dalam waktu yang singkat.

Efek visual secara keseluruhan, kualitas 3D dan desain semua makhluk begitu mengesankan. Ketangkasan sang sutradara, Yang Tao dan sorotan lensa kamera sang maestro Cheung Man-po begitu detail "menyapu" setiap gerak rumit, apalagi saat Lady Putih Tulang terbang dengan gaun panjangnya, juga saat ia meledak hingga menjadi mural raksasa sebelum dikalahkan oleh Wukong, sang monyet api.
******

Bagi sahabat yang merayakan Imlek tampaknya film ini OKE juga dijadikan sebagai hiburan keluarga.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter