Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

"Surung-surung"

"Ah, hamu pe da. Lak ikkon bagi rata on sude hepeng on tu tim ta? Molo songoni aha be surung-surung niba doba sebagai bos (Loh, kamu gimana sih. Masa semua uang ini ini harus kita bagi rata? Kalau gitu, apa dong "jatah" ku sebagai bos?)," kata seorang mantan pensiunan pejabat sesaat setelah pembagian sisa kas dalam proyek yang mereka tangani.

Terminologi "surung-surung" sangat menarik di telingaku, hingga aku memberanikan diri bertanya ke teman yang memang penutur bahasa asli Batak Toba.

Menurut teman yang penutur asli Bahasa Batak Toba itu, "surung-surung" itu bisa diartikan sebagai upeti, jatah bos, dst.

Hebatnya, fungsi dari yang dikategorikan sebagai "surung-surung" ini tak selalu berkaitan dengan kinerja (performance) seseorang. Ia semacam upeti yang didapatkan dari "kehadiran" sang pemimpin, kendati hanya secara simbolik.

Dalam sistem kerajaan kuno sistem uang upeti atau jatah bos semacam ini sah-sah saja. Ini jugalah yang dipraktikkan oleh para preman pasar, preman terminal, bahkan berbagai organisasi kemasyarakatan berbasis 'militer'.

Tapi dalam sistem pemerintahan modern, pemanfaatan jabatan dan mengkonversinya dalam bentuk lembaran rupiah dan/atau barang dipandang ilega.

Meminjam istilah KPK, praktik semacam ini telah tergolong dalam kasus gratifikasi. Gratifikasi sendiri bisa dalam bentuk uang (seperti kasus OC Kaligis dkk) atau dalam bentuk barang/orang (biasanya perempuan cantik sebagai pelengkap fulus).

Kendati pemanfaatan kekuasaan demi memperkaya diri sudah dilarang, tetapi de facto, kebiasaan meminta "jatah" atau "surung-surung" tadi masih marak terjadi. Tak hanya dalam konteks bisnis, tetapi juga di ranah adat, bahkan di lingkungan agama.

Jadi, jangan tanya "Sadia surung-surungku?" (Berapa jatah/mahar yang kudapat?); sebaliknya harus ditanya, "Ala hamu do na gumodang marhorja di ulaonta on, bah di hamu ma antong gumodang hepeng i. Unang alani bos au di son las gumodangan di au hepeng i. Dang denggan songoni doba! (Jatah kalian harus lebih banyak karena kalian sendirilah yang lebih aktif bekerja untuk kegiatan ini. Jangan karena aku bos lantas kalian memberiku jatah yang lebih banyak. Hal itu tidak baik, kawan!)."


Songon i ma dipakkulingi fesbuk hita sadarion !
Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter