Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jadilah Humanis dan Jangan Suka Sinis

Man’s Search of Meaning by Victor Frankl
Aku selalu teringat bukunya Victor Frankl yang berjudul "Man’s Search of Meaning" (New York: Washington Square Press: 1984) yang kulahap saat menjalani masa "sepi" di pedalaman Pulau Nias pada tahun 2006 yang lalu.

Mengenai siapa Victor Frankl Anda bisa tanya mbah Google ya. Melalui tulisan ringkas ini aku hanya ingin berbagi kesan membaca buku di atas, kendati itu sudah terjadi sekitar 10 tahun lalu.

Menariknya buku ini ada pada ajakan atau panggilan menjadi manusia bagi manusia lain (human being) dari si Frankl lewat pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II.

Sebagaimana kita tahu, kamp konsentrasi adalah tempat di mana orang Yahudi mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan oleh tentara Nazi.  Nah, Frankl sendiri menyaksikan dua hal yang berbeda kala itu, yaitu:
  1. para tahanan yang putus asa, dan 
  2. para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa dengan daya hidup yang perkasa. 
Frankl mendefinisikan pengalamannya ini dengan kalimat ringkas "kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya" atau "saat manusia mencari makna hidupnya". 

Begitulah Frankl selalu mendekati persoalan hidup dan usaha untuk memaknai hidup dengan pendekatan humanis. (Dalam psikologi modern ide Frankl ini digolongkan dalam aliran psikologi humanistik dengan pendekatan logoterapi). 

Logoterapi (logotherapy: logos = sabda, kata, makna dan theraphy = terapi) yang dikembangkan oleh Frankl tertuang dalam simpulan berikut:
  1. Hidup selalu memiliki makna, bahkan ketika kita berada dalam situasi yang getir sekalipun.
  2. Tujuan utama hidup adalah mencari makna dari kehidupan itu sendiri.
  3. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang ia lakukan dan alami, bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun. Dengan demikian pengalaman hidup dibawah tekanan dan penderitaan akan menggiring seseorang untuk menemukan dirinya (self-discovery) dan merumuskan ulang pilihan hidupnya.
Menurut Frankl, ada masa di mana seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya ketika sebuah keluarga miskin begitu bersukacita sebab mereka tiba-tiba dikunjungi oleh Presiden Jokowi.

Selanjutnya, seseorang juga akan menemukan makna hidupkan ketika ia dihadapkan pada tanggung jawab atau pengalaman sipritual. 

Begitulah seorang humanis selalu dengan gagah berani melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman dirinnya dan orang lain hingga dalam relasi itu ia mampu menemukan makna hidupnya yang sebenarnya.

Maka, bersikaplah humanis dan janganlah selalu sinis dalam menjalani hidup Anda.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter