Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Loja Ho Mamikkiri I

Tak mudah mengerti orang lain. Pasti! Kalimat penyangkalan berikut membenarkan hat itu, "Kau tak sungguh mengenalku!"

Ya, kita tak pernah sungguh mengenal orang lain secara lengkap. Bahkan ketika kita yakin telah mengenal sahabat kita, maka kita tetap akan kehilangan beberapa sisi kehidupannya.

Siapa sangka bahwa pembunuh, pemerkosa, drug addicted, dan semua bentuk kejahatan lainnya kerap dilakukan orang orang yang kita kenal. Tapi, lagi dan lagi, kita sungguh mengenalnya.

Setelah pelaku kejahatan ditangkap maka orang-orang sekitar hampir selalu bersaksi, "Enggak nyangka ya. Sebenarnya dia itu orang baik. Rajin ibadah, kendati sedikit agak pendiam!"

Ingat kasus pembunuhan dosen UMSU di Medan baru-baru ini? Setelah pembunuhnya tertangkap dan jadi pemberitaan, maka ibu kosnya dan teman-temannya mengatakan hal yang kurang lebih sama, "Dia itu anak baik. Pendiam, tetapi rajin sholat!"

Tak hanya dalam kasus-kasus kejahatan. Ketika seseorang meninggal maka sanak saudara dan handai taulannya, dengan maksud menghibur anggota keluarga yang ditinggalkan, selalu mengulang kalimat yang sama, "Selama hidupnya, saudara atau saudari kita ini sangat luarbiasa. Selain penderma ia juga rajin menolong sesamanya!"

Hidup kita memang selalu berjalan dalam kebaikan versus keburukan, keserakahan versus kedermawanan, dst. Namun, gelap tak akan bertemu dengan terang, seperti mentari tak akan berciuman dengan bulan.

Ketika mati kita ingat kehidupan dan ketika hidup kita selalu dihantui kematian. Maka, jauh lebih baik membangun diri sendiri secara postifi daripada terlalu usil dengan kehidupan orang lain.

Kita terlalu sering menilai orang lain bak seorang guru/dosen memeriksa hasil ujian siswa/mahasiswanya. Tentu saja kita tak sedang melakukan hal itu.

Sebab hidup yang bahagia bukanlah hidup yang dijalani sebagai ujian. Mereka yang menjalani hidup sebagai ujian tak lain adalah mereka yang selalu melihat hidup ini begitu berat dan menakutkan.

Seorang sahabat yang asli Batak Toba pun akhirnya menyeru., "Lojana i ho mamikkiri i, lae!" Artinya, "Ngapain loe capek mikirin itu, teman!" 

Ya juga sih....


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter