Ad Unit (Iklan) BIG

Monitor Smartphone, antara PENCET, SENTUH dan USAP

Posting Komentar
Monitor Smartphone
Tahun 90-an, saat NOKIA masih merajai pasar telepon genggam, kata yang paling kita sukai adalah PENCET alias TEKAN. 

Bukan sembarang pencet, karena untuk memunculkan satu huruf saja di layar ponsel kita dibutuhkan 3 kali pencetan.

Lalu datanglah Blackberry yang meringkas 3 kali pencet tadi menjadi cukup sekali pencet saja. Saat itu kita merasa lebih bebas ber-ponsel-ria sambil beraktivitas. Apalagi saat itu kata PIN menjadi kata goib, hingga orang tak sembarang berbagi PIN.Tak lama BB mendominasi pasar.

Android yang dimotori oleh Samsung mulai menggoda mereka yang selalu gagal mendapatkan PIN sang gebetan. Hadir dengan layar yang lebih lebar dan fungsinya mirip Laptop, Android juga memanjakan para penggunanya. Bagaimana tidak, kita tak usah menekan atau memencet tombol lagi saat hendak mengetik pesan. Cukup dengan MENYENTUH monitor, keyboard QWERTY akan muncul. Selanjutnya kita tinggal menyentuh layar sesuai huruf/angka/simbol yang kita inginkan.

Hingga saat ini, khususnya setelah Android semakin digilai oleh ratusan juta penggunanya, kata TEKAN/PENCET dan SENTUH semakin tak akrab lagi di telinga kita. Kini, kata-kata itu telah digantikan dengan USAP. Anda tinggal MENGUSAP alias MEMBELAI layar ponsel pintar Anda, maka Anda akan terlihat seperti orang cerdas saat bermain game atau sangat komunikatif saat ber-video-call dengan kekasih Anda.

***

Begitulah perkembangan alat telekomunikasi tak sekedar menggambarkan kemajuan di bidang IT, tetapi serentak juga menjadi gambaran nyata tentang semakin banyaknya relasi kita karena mudahnya berkomunikasi.

Genitnya para pemilik pabrik ponsel pintar telah berhasil menggoda kita para penggunanya lewat motto, "Kini, Dunia Ada di Genggaman Anda!" Mereka seakan mengatakan, Anda tak usah bersusah payah bercita-cita setinggi langit, karena hanya membeli smartphone produk pabrik mereka, "Anda telah menggenggam semesta."

Alat-alat canggih itu telah menjadikan komunikasi semakin mudah, tetapi serentak perjumpaan semakin sulit diwujudkan. Ibarat perkembangan ponsel pintar tadi, kita tak usah mengeluarkan banyak energi untuk mencarai teman, pacar, bahkan calon istri kita.

Sesuatu yang mudah diraih pasti juga akan mudah raib. Ini ibarat orang mendapat lotre dan mendadak kaya, tetapi tak menikmati kekayaannya. Maka, lewat alat-alat komunikasi tadi, kita bisa menambah relasi baru secepat kilat, tetapi juga kita akan kehilangan mereka bak uap. Dengarlah celotehan anak-anak Medan ini, "Kau beraninya di Fesbuk aja. Aku temui kau malah menghilang!"

Ya, bukan saja persahabatan yang semakin "tipis", tetapi juga intimitas suami-istri semakin hari semakin terkikis. Tentu saja, karena saban hari suami-istri lebih suka mengumbar kemesraan lewat telepon atau berkirim pesan di media sosial daripada ngobrol berdua saling bertatapan muka saat berada di rumah.

Tak hanya itu. Dalam bisnis pun orang bisa mengatakan "YA" saat saat bertukar pesan lewat ponsel pintarnya, tetapi tak lama kemudian kata "YA" tadi lantas menghilang ditelan sinyal dan jaringan internet. Tentu mereka tak salah, sebab aamereka sesungguhnya tak pernah berbicara lewat mulutny. Mereka hanya mengusap digit-digit di monitor ponsel pintarnya hingga terjadilah "komunikasi".

Mereka juga tak salah ketika mengirimkan pesan bernada "janji" tetapi tak lama kemudian, saat kita menagih janjinya, ia lantas menjawab lewa WA-nya, "Maaf, ternyata saya salah kirim. Soalnya Ponsel Androidku ini sangat sensitif banget!" ha ha ha.

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter